Rumah Komik, Cerpen Ken Hanggara

 
1/
Rumah itu rumah komik. Ratusan atau ribuan judul komik ada di situ. Aku tidak menghitung. Kalkulator, seperti kata Bu Mei, guruku, tidak boleh selalu kubawa. Ingat petuahnya: "Boleh pakai buat koreksi tugas. Selain itu, simpan di meja belajar!"
Bu Mei tidak bilang kalkulator boleh dipakai menghitung mainan, apalagi buku komik. Aku tidak protes. Aku tidak suka pelajaran berhitung. Aku juga tidak suka guru itu. Aku lebih suka menggambar dan melatih bagaimana bikin gambar yang bagus dari buku-buku komik.
Lalu aku, dengan sepasang kaki mungilku, pergi ke rumah itu. Letaknya lima gang dari rumahku. Tidak besar, tapi di sana ada banyak sekali komik. Surga duniaku. Surga anak-anak. Dan nyatanya, cuma aku yang tahu. Bukan aku saja. Maksudku, hanya aku, anak seumuranku, yang tahu ada surga komik di suatu tempat. Aku tahu dari Mas Pras, anak SMP, tetanggaku yang suka njerat burung, bahwa di suatu gang dekat tambal ban, ada rumah komik. Katanya, "Kamu bebas baca komik di situ. Kalau pinjam, ya tinggal bayar."
Oh, ternyata komik-komik di rumah Mas Pras dari pinjam?
Sejak itu aku janji pada diriku, teman-teman di kelas tidak tahu soal surga berisi komik. Aku bersenang-senang sendiri, karena semua temanku pelit. Diam-diam pulang sekolah aku tidak langsung ke rumah. Teman-teman tidak searah dan tidak pernah mau pulang denganku. Aku tidak tahu kenapa mereka sangat membenciku. Aku heran. Dulu aku sedih, tapi setelah tahu ada rumah komik tak jauh dari tempat tinggalku, aku tidak sedih pulang sendiri. Aku juga tidak lagi sedih karena tidak punya satu pun teman. Aku malah membayangkan, alangkah malang nasib mereka, teman-teman yang menjauhiku, karena tidak bisa baca komik setiap hari.
Untuk itu, dari sekolah, aku jalan terus ke barat. Di pertigaan, aku belok ke utara. Ayah dan Ibu tidak tahu. Aku aman dan jalan ini lumayan sepi. Tambal ban itu juga sepi. Selalu tutup. Mungkin orangnya sudah mati; aku tak tahu. Aku langsung masuk ke gang yang dibilang Mas Pras. Rumah itu pagarnya tinggi dan di pintunya ada tulisan 'Rental Buku Komik'.
Sampai di sini, kubelesakkan sebelah tanganku ke saku rokku. Ada berapa rupiah? Aku selalu gusar, sebelum sebelah tangan itu keluar. Dan kecewa jika tidak menemukan sekeping pun. Lima ratus rupiah berguna. Satu komik, boleh dibawa, dibaca selama tiga hari di rumah atau dipamerkan ke teman-teman sekolah yang sombong. Cukup dengan harga setara tiga permen. Dua komik, seribu rupiah. Tiga komik, seribu lima ratus. Dan seterusnya. Bu Mei tidak tahu aku pintar berhitung!
Di sekolah aku tidak jajan. Aku puasa. Teman-teman memberiku sepotong cireng demi bayaran membaca buku komik yang kuakui punyaku. Tapi karena itu, aku sering sakit perut. Aku suka mengerang dan berpikir di perutku hidup seekor siluman serigala yang dengan taring dan kuku-kuku panjangnya, melukai lambung yang kosong.
Kata Ibu, "Ke mana uang jajanmu? 'Kan tiga ribu rupiah bisa buat beli makan."
Kubilang, uang itu sering hilang dan aku tidak tahu siapa yang mencuri. Aku tidak mau Ibu, apalagi Ayah yang galak, mengetahui bahwa di meja belajarku tersimpan beberapa komik. Setiap tiga hari aku memulangkan komik-komik yang kupinjam ke rumah komik.
Sampai suatu hari, tidak ada sekeping pun uang di rok, karena Ibu menghukumku. Ibu tahu aku sering pinjam buku komik sehingga nilaiku di sekolah merosot. Padahal, aku ingin membaca komik.
Dan aku tidak mau pulang dengan tangan kosong.
 
2/
Saya sering duduk melamun di antara buku-buku komik; apa saya sesial itu? Saya tahu nasib saya buruk. Saya sering bercermin dan menemukan wajah lesu di sana, yang ingin saya bunuh atau saya buang ke tukang rombeng. Kadang saya berpikir itu bukan wajah saya, atau sesekali merasa saya dirasuki roh entah dari kebun mana, sehingga saya hidup di bawah kontrol sesuatu di luar kemauan saya.
Ribuan komik yang saya kumpulkan sejak SD sampai masa-masa kuliah, saya rasa cukup memberi penghidupan. Dengan modal itu, saya buka rental komik. Memang tidak bisa menjamin suatu hari saya bisa beli rumah atau mobil dari usaha menyedihkan ini. Tetapi saya jalan terus. Saya tidak kerja. Tidak bikin surat lamaran, sebagaimana yang teman-teman seangkatan saya kerjakan lepas kuliah.
"Aku nggak mau punya suami pemalas," kata Andin suatu hari. Dia mantan saya. Cewek bohai yang beberapa kali saya lumat bibirnya, namun belum kesampaian nikmati bagian terpenting dari yang terpenting: kesucian.
Saya tahu saya agak aneh, tapi saya juga manusia. Punya perasaan cinta, yang saya rasa harus dituangkan pada seorang wanita. Saya tidak tahu dari mana gagasan ini terbit; barangkali karena sejak kecil tidak ada ibu di sisi saya, dan saya lebih mengenal watak perempuan dari buku-buku komik.

Berita Terkait

Berita Lainnya :