Romantisme Dunia Remaja yang Jujur nan Indah

Kesan pertama saat membaca puisi-puisi dalam Kebun Puisi karya remaja Jambu ini adalah bagai  terbawa kembali pada kehidupan remaja yang indah dan tanpa beban. Tak hanya itu,  ingatan akan kampung halaman yang berisi kisah-kisah remaja yang indah juga hadir di dalamnya. Apalagi kisah cinta dalam kumpulan puisi itu juga menghiasi indahnya masa-masa remaja.
Terlebih setiap membaca puisi demi puisi dalam antologi ini,  mampu membuat refleksi diri dan memahami ternyata saat remaja dulu kita juga merasakan hal yang demikian. Ada rasa kangen, hingga kadang saat membacanya jadi  lucu-lucu sendiri dan kadang terkekeh-kekeh jika menghayati puisi tersebut.
Sepertinya bukan hanya beberapa orang saja yang akan merasakan sensasi seperti itu setelah membaca puisi-puisi remaja Jambu ini. Pembaca lain pasti akan merasakan hal yang sama. Apalagi jika sang pembaca memiliki background yang sama dengan para penulis yaitu remaja Desa Jambu di suatu daerah kecil di Kabupaten Kediri yang hidup di Desa yang tenang dan damai itu.

Yang setiap pagi bisa mendengar kokok ayam dan melihat ramai bocah mandi di sungai seperti tergambar pada puisi A. Zainur Rozikin berjudul Jambu Kalikongku.
Berbeda jika sang pembaca adalah berasal dari orang kota metropolitan seperti Jakarta maupun Surabaya. Mereka hanya bisa membayangka suasana kehidupan di Desa yang digambarkan dalam puisi remaja Jambu ini. Atau mempersamakan tempat di desa yang pernah mereka kunjungi. Dan mungkin setelah mereka membaca dan membayangkan. Mereka akan iri betapa indahnya dan damainya kehidupan di Desa setelah membaca puisi-puisi yang di dalamnya memperlihatkan mulai persahabatan, hubungan antar murid dan Guru, keindahan alam, pusingnya pelajaran Matematika, hingga kisah percintaan yang romantis.
Dalam Kebun Puisi ini pula, mampu diketahui pengalaman-pengalaman setiap penulis yang berbeda-beda. Pengalaman hidup mereka saat menghadapi masalah, merasakan dan memahami arti perjuangan hidup. Juga pengalaman polos terkait dengan aktifitas yang dilakukan, hingga pengalaman perenungan mencari hakikat hidup menuju Tuhannya hadir di dalamnya. Seperti puisi karya Alfi Fatmawati yang terlihat polos tentang aktifitasnya.
Terbangun Dari Tempat Tidur//
di pagi hari aku bangkit dari tempat tidurku//pintu-pintu dan jendela yang berada di rumahku//kubuka semuanya

Kabut di pagi hari//mulai menyelimuti rumahku//
bunga-bunga di halamanku//mulai bermekaran//mengeluarkan bau wewangian//
aku pun takjub dan merasa//senang sekali melihat keindahan alam di sekitarku
Walaupun terlihat polos namun Alfi dengan kegiatan yang sederhana mampu mengurai kata-kata hingga menjadi sebuah tulisan yang indah menggambarkan alam di sekitarnya. Pengalaman-pengalaman seperti itulah yang para remaja sajikan secara jujur dengan apa yang telah mereka alami sendiri. Tak hanya puisi diatas, ada pula kejujuran yang berani mereka sampaikan hingga membuat gelak tawa. Seperti puisi karya Duta Nuswantoro yang berjudul Kentut.
Rata-rata dari para penulis di Kebun Puisi ini menampilkan Pengalaman yang jujur dari apa yang pernah mereka lakukan maupun rasakan sendiri. Namun terkadang ada pula yang hanya menulis dari pengalaman bayangan-banyangan mereka saja. Seperti puisi-puisi bertema Korupsi. Dalam hal ini  mereka yang usianya rata-rata masih 14-17 tahun ini hanya membayangkan apa itu korupsi, dampak korupsi maupun pendapat mereka tentang korupsi. Mereka belum tahu dan merasakan sendiri arti korupsi. Sehingga terlihat penggambaran kurang kuat dan terkesan dipaksakan hingga berdampak pada kesan menggurui.

Berita Terkait

Berita Lainnya :