Potensi Luasan 3.550 m2, Dekat Areal Pengrajin Emas Masa Lalu


MALANG - Kekompakan dan keguyuban warga seluruh elemen di Malang benar-benar terlihat dalam Diskusi Malang Post Forum. Temanya, Belajar dari Situs Sekaran “Ekskavasi, Menjaga dan Melestarikannya”. Diskusi di Graha Malang Post tersebut, Mengusung komitmen dalam menjaga, melestarikan hingga mengembangkan situs ini secara benar.
Komitmen itu datang dari beberapa kelompok masyrakat dari kalangan berbeda-beda. Mulai dari budayawan, arkeolog, akademisi, struktur pemerintahan, komunitas, akademisi hingga awak media. Semua saling memberi sumbangsih pemikirannya.
Arkeolog Universitas Negeri Malang M. Dwi Cahyono yang hadir memberikan sedikit analisanya saat diskusi. Ia menjelaskan apa yang ia dapati dari Situs Sekaran masih banyak yang butuh dieksplorasi lagi. Dikatakannya situs ini diduga menunjukkan pola pemukiman masyarakat lembah sungai.
“Karena disana dilalui Sungai Amprong. Kawasan ini pun kami duga menunjuk pada pemukiman jika ditarik dari kawasannya yang memiilki kata ‘puro’ yang berarti kota. Dan kemungkinan Sekaran menjadi tempat pemukiman yang tidak terlalu padat,” jelas Dwi.
Pria yang juga salah satu penulis Buku Ekspedisi Samala bersama Malang Post ini menjabarkan, erat kaitannya situs tersebut merupakan bagian dari kawasan yang disebut sebagai Kota Kabalan. Di mana kota ini sering disebut dalam Kitab Pararaton dan beberapa literasi kuno lainnya.
Di mana dalam kitab tersebut dijelaskan berkisar antara Abad 14, kawasan Kabalan merupakan tempat tinggal dari Putri Hayam Wuruk yakni Kusumawardhani. Putri raja, jadi pemimpin di Kabalan.
“Karena melihat temuan ditemukan banyak penemuan berbahan emas. Kabalan di Kitab Pararaton merupakan daerah pengrajin emas terbaik di timur Gunung Kawi,” papar Dwi.
Tidak hanya Dwi yang antusias, Arkeolog Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur Wicaksono Dwi Nugroho juga menceritakan hasil-hasil penemuannya secara teknis saat melakukan seminggu lebih proses ekskavasi.
Hingga 21 Maret lalu, proyek ekskavasi Situs Sekaran sudah dibuka hingga seluas 1.760 meter persegi. Apa yang ditemukan hingga kini membuka peluang luasan lebih besar lagi katanya. Diprediksi, potensi luasan situs ini memiliki total luasan sekitar 3.550 meter persegi.
"Mengapa karena dugaan sementara situs ini merupakan komplek hunian. Dari temuan kita menemukan beberapa struktur yang merujuk pada itu", jelas Wicaksono.
Struktur yang ditemukan seperti dinding pembatas yang berada di sekelilingnya. Lalu diketahui pula ada struktur yang diduga merupakan sebuah gapura bergaya Paduraksa.
Mengapa dikatakan Gapura Paduraksa? Pria yang juga koordinator Ekskavasi Situs Sekaran ini menegaskan jika temuan di lapangan menunjukkan struktur gapura ini memiliki lubang tengah (untuk jalan masuk dan keluar, Red) selebar 82 cm.
"Ini yang seperti gapura gapura di Bali. Bahkan jika memang benar, situs ini bisa jadi sebuah puri atau keratonnya kalau di sini," papar Wicaksono.