Pernah Rata dengan Tanah


MALANG – Gedung utama Rumah Potong Hewan di Jalan Kolonel Sugiono, Ciptomulyo Kecamatan Sukun, merupakan gedung yang usianya mencapai 81 tahun. Setelah dibangun pada tahun 1938, sampai hari ini, gedung pemotongan hewan RPH, masih berdiri dan aktif, berada di bawah kendali plt Dirut PD RPH, Ir Ade Herawanto MT.
Gedung utama yang berada di tengah area RPH, masih menunjukkan jejak peninggalan era kolonial. Bangunan utama penyembelihan dicat warna putih. Gedung ini memiliki pondasi batu khas zaman dahulu. Bangunan luar pemotongan hewan ini tampak berdiri kokoh. Pada bagian dalam, gedung ini juga menunjukkan corak kolonial.
Ruangan dalam mempunyai jendela kembar berukuran kurang lebih lebar dua meter dan tinggi satu meter. Jendela besar ini tanpa kaca, dan terletak di bagian luar area ruang penyembelihan. Ruangan ini terbagi menjadi beberapa bagian. Di dalam ruangan, terdapat alat-alat timbangan yang biasa dipakai mengukur berat daging.
Pada bagian belakang, terdapat ruang yang digunakan untuk kamar mandi serta tempat tidur para penyembelih hewan. RPH ini masih menggunakan beberapa peralatan yang sejak zaman Belanda digunakan. Terbukti dari masih banyaknya peralatan tersebut digunakan hingga kini dan butuh perawatan ekstra.
Contohnya rel gantungan daging hewan siap potong, lantai yang terbuat dari batu, bak cucian jeroan dari logam berlapis keramik dan katrol gantung. Kesemuanya berusia uzur  dan masih digunakan karena masih berfungsi dengan baik.  Gedung ini sudah rapi, dan bersih, serta pernah mendapatkan predikat gedung RPH terbaik di Indonesia.
Namun, fakta sejarah menyebut, RPH pernah rata dengan tanah. Tepatnya, pada Agresi Militer Belanda tahun 1947. Agresi pertama ini, menyerang Kota Malang yang saat itu merupakan markas perlawanan pejuang. Hamid Rusdi, akhirnya memutuskan untuk mundur ke selatan. Tapi, dia menerapkan taktik bumi hangus untuk semua bangunan vital dan strategis.
Tujuannya, agar para penjajah Belanda tidak bisa memanfaatkan gedung yang dikuasai di Kota Malang saat melakukan agresi tahun 1947. RPH di Jalan Kolonel Sugiono Ciptomulyo ini, adalah satu dari sekian gedung vital yang dibakar oleh para pejuang pada Agresi Militer Belanda pertama.
Seiring dengan pulihnya kedaulatan Indonesia, Belanda minggat dari nusantara, dan pemerintah kembali menguasai secara de facto wilayah-wilayah, termasuk Kota Malang. RPH kembali dibangun di era Presiden Soekarno.
Saat ini, Ir H Ade Herawanto MT menjadi plt Dirut PD RPH Kota Malang yang dikemas dalam Perumda Tugu Aneka Usaha (Tunas). Rencananya, Perumda Tunas, akan membangun berbagai jenis usaha, tidak hanya pemotongan hewan.(fin/jon)