Perempuan-perempuan Penantang Takdir

Judul            : Waktu untuk Tidak Menikah
Penulis            : Amanatia Junda
Penerbit        : Buku Mojok
Tahun terbit        : Oktober 2018
Jumlah halaman    : vii + 178 halaman
Nomor  ISBN        : 9786021318768
Peresensi            :  Siti Faizatun Nisa’, mahasiswa  Pendidikan Sejarah
Universitas Negeri Malang

Bagaimana citra perempuan dalam cerita-cerita fiksi maupun film televisi belakangan?. Ada “Stereotip” terhadap perempuan sebagai sosok yang egois dan tidak pernah mau merasa bersalah. Ungkapan semacam “cewek selalu benar sedangkan cowok selalu salah”, “kebenaran hanya milik Tuhan dan selanjutnya milik perempuan”, jamak dijumpai di berbagai sosial media. Kenyataannya, benarkah begitu?
Buku kumpulan cerpen “Waktu untuk Tidak Menikah” tidak menggambarkan perempuan seperti itu . Keempat belas cerita pendek dalam buku ini memang tidak seluruhnya bertokoh utama perempuan, tapi sebagian besar begitu.

Buku ini menggambarkan kehidupan perempuan dari banyak situasi. Ada yang mahasiswi, pedagang, ibu rumah tangga, buruh, aktivis, dokter sukses, dan wartawan. Dengan berbagai jenis kedudukan, perempuan tak pernah sesederhana urusan sumur, dapur, dan kasur.
Perempuan seringkali mengalami pergolakan batin dan berpikir keras-keras ketika menghadapi sebuah keadaan. Perempuan bukan sekadar onggokan daging, dan tulang, dan lemak yang menggantungkan hidupnya pada orang lain. Sebagaimana lelaki, perempuan bisa mengatasi permasalahan besar, bisa memperjuangkan hidup, bisa bertanggung jawab, memiliki keinginan-keinginan, memiliki hasrat untuk mengekspresikan diri. Sayangnya, sudahkah masyarakat kita cukup adil melihat semua itu?. Karena perempuan kerap dianggap sebagai makhluk lemah secara fisik dan psikologis, perempuan kemudian dijadikan sebagai objek. Objek untuk dimiliki, objek untuk diatur, mirisnya kadang pula objek untuk disalahkan. Katanya perempuan selalu benar, tapi mengapa dalam berbagai kasus kekerasan dan pelecehan perempuan justru terjebak di posisi yang menyudutkan?. Barangkali pesan-pesan tersirat dalam buku ini akan membuka pandangan kita.
Judul buku ini sama dengan judul salah satu cerpen di dalamnya yang sungguh menggambarkan momen dilematis. Sebagaimana sinopsis buku, memang ada waktu untuk tidak menikah dan cerpen tersebut menggambarkannya dengan baik. Nursri, sang tokoh utama, perempuan menjelang 28 tahun yang dituntut keluarga untuk segera menikah, tema yang sangat dekat dengan keseharian kita. Di sisi lain Nursri masih punya banyak hal untuk dilakukan, belum lagi kekhawatirannya akan kehidupan pernikahan. Kasarnya ia merasa masih belum selesai dengan dirinya sendiri. Pemikiran-pemikiran perempuan soal permasalahan semacam itu bukanlah hal sederhana. Sayangnya apakah selama ini lingkungan kita membuka ruang komunikasi yang cukup bagi perempuan?
Cerpen lainnya menceritakan korban pemerkosaan. Kemudian ia justru bertarung sendirian melawan rasa trauma, melawan rasa sedih yang amat dalam karena kehilangan orang-orang yang sudah tidak lagi bersedia bersamanya akibat peristiwa itu. Ia bahkan tak memperoleh sekadar hak rasa aman sebagai korban. Memang begitu realitas yang marak dijumpai.
Buku ini merupakan buku pertama sang penulis, Amanatia Junda. Cerpen-cerpen terbaiknya selama bertahun-tahun menggeluti dunia fiksi akhirnya terkumpul. Bahasanya mengalir mengajak pembaca menyelami kehidupan masing-masing tokoh. Rasanya cerita-cerita di sini ditulis dengan riset, mengingat banyak isu sosial utamanya soal buruh yang menjadi setting cerita. Tema lain yang banyak diangkat dalam buku ini adalah tentang hubungan dan patah hati, sekali lagi, bahasan yang sangat dekat dengan kita.
Buku ini layak dibaca oleh kalangan remaja dewasa hingga orang tua. Buku ini bisa jadi semacam panduan untuk memahami perempuan secara utuh. Selain pertalian dengan perkara emosional, nyatanya perempuan juga dianugerahi kekuatan tersendiri. (*)

Berita Terkait