Perekat Umat Bernama Abdul Somad

Judul         : KH. Abdul Somad, Mazhab Ukhuwah
Penulis     : Samsul Arifin dan M. Taufiq Maulana
Penerbit     : CV. Razka Pustaka
Edisi         : I, November 2017
Tebal         : 257 halaman
ISBN    : 978-702-63206-3-5
Peresensi    : Ahmad Fatoni
  Pengajar Pendidikan Bahasa Arab FAI-UMM



DI TENGAH suasana keberagamaan umat Islam yang kerap tegang belakangan ini, tiba-tiba muncul seorang ustadz yang coba menghimpun kekuatan yang berserakan. Banyak pandang mata terhenyak. Umat yang selama ini terpecah, gemar berselisih, dan tekotak-kotak, kini saling bertatap muka, berpelukan, berangkulan dalam tangis penuh persaudaraan.

Ketika berhadapan dengan jamaah Muhammadiyah, sang ustadz membawakan hadits-hadits NU. Bila tampil di majelis NU, ia membawakan pemahaman Muhammadiyah. Masing- masing umat yang lama terkungkung dalam kotak kebisuan pakem, menyadari keluasan dan keindahan ajaran islam. Kecurigaan-kecurigaan partisan perlahan-lahan mulai sirna.

Ustadz itu bernama Abdul Somad. Ustadz Somad telah menjelma katalisator bagi sebuah umat yang lama butuh pemersatu. Sang ustadz sekian lama mengamati kaum muslim yang menganggap pemahamannya paling benar dan merendahkan pemahaman kaum muslim lainnya. Tak pelak, sesama muslim saling hujat, memburukkan, dan menjatuhkan..
Kenyataannya, banyak orang begitu mudah menyesatkan bahkan mengafirkan kelompok lain yang berbeda pendapat. Bahkan ada sekelompok orang yang tingkat keilmuannya masih sangat dangkal, rendah dan permukaan, sudah sangat berani menghujat para ulama yang memiliki kredibelitas tinggi dalam ilmu agama. Orang semacam ini bukan hanya tidak toleran terhadap perbedaan pendapat, juga dapat merusak jalinan persaudaraan antar sesama.
Kehadiran buku ini didorong oleh keinginan penulis demi memersatukan umat Islam yang berbeda pendapat, suku, bahasa, dan bangsa dalam satu ikatan ukhuwah islamiyah. Sebuah persaudaraan yang berlandaskan kilauan Islam, iman, dan ihsan. Saling terikat walaupun berbeda, saling bersama walaupun tak sedarah, saling menguatkan walaupun tak sesuku, dan saling menolong walaupun tak sama.
Madzhab Ukhuwah yang termaktub pada sampul buku ini adalah madzhab persatuan. Kedua penulisnya coba mengenalkan pemikiran ustadz Somad mengenai ukhuwah melalui berbagai ceramah. Sebuah pemikiran yang menggiring siapa pun agar senantiasa menjaga keutuhan persaudaran dalam konteks keragaman.  
Tak dapat dimungkiri, sejak tahun 2017 adalah tahunnya Ustad Somad. Siapa yang tak mengenal pria ceking dan rambut yang terkadang telat dipotong itu. Dia tak dilahirkan dari kota Jakarta seperti para seleb, dai, dan tokoh-tokoh lainnya. Dia munyeruak dari Pekanbaru, Riau, dengan usahanya sendiri. Dia tak diorbitkan media-media massa mainstream. Dia besar dengan memanfaatkan kanal Youtube. Cukup bermodalkan handphone atau gadget, plus “paket pulsa”, frasa yang sering ia ucapkan dalam berbagai kesempatan.
Ustadz Somad menjadi contoh antitesa bahwa Jakarta bukanlah segalanya. Riau bukanlah wilayah yang banyak melahirkan tokoh. Letaknya terlalu jauh dari pusat-pusat dinamika di kawasan Sumatra seperti Aceh, Medan, Padang, Palembang. Namun jangan salah dari Riau kita mengenal Raja Ali Haji, penyair dan cendekiawan di masa sebelum Indonesia.
Kini, Riau memiliki ustadz Somad. Dia dosen di Fakultas Ushuludin UIN Sultan Syarif Kasim (Suska), Pekanbaru. Namun ia tak lahir di Riau. Dia lahir di Silo Lama, Asahan, Sumatra Utara, pada 18 Mei 1977. Pada 1998, ia meraih beasiswa untuk kuliah di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Dalam tiga tahun 10 bulan ia menamatkan S1 dengan meraih gelar Lc. Pada 2004 ia kembali meraih beasiswa untuk kuliah S2 di Institut Dar al-Hadits al-Hasaniyah, Maroko.
Dalam testimoni buku ini, Habib Novel bin Muhammadi Alaydrus menilai saat ditanya tentang ustadz Somad. Jawab beliau, “tonton videonya sebanyak mungkin, bagikan, sebarluaskan! Itu orang pintar. Insya Allah Shalih. Termasuk orang yang IQ-nya tinggi. Untung orang Indonesia memiliki orang-orang seperti beliau. Tegas orangnya dan semua pertanyaan dijawab secara ilmiah.”
Dengan bahasa yang lugas buku ini telah memaparkan sebuah pandangan madzhab ustadz Somad yang mendamaikan, sebab tidak lagi berjibaku dalam pertentangan dan kebenaran sepihak, melainkan menampilkan paham keagamaan yang terus menyuarakan ukhuwah islamiyah di tanah air.
Setiap masa memang memiliki tantangannya tersendiri. Dan ustadz Somad dengan berbagai tantangan yang dialaminya, mewariskan dakwah era milenial: egaliter, independen, mencerahkan, dan menghibur. Tak berlebihan bila dikatakan bahwa ceramah-ceramah yang disampaikan ustadz Somad menjadi era untuk berekspresi sambil tersenyum dalam persaudaraan NKRI dan keimanan sejati.

Berita Lainnya :

loading...