Perajut Sajak dan Kesan Pembaca

Judul Buku             : Menolak Patuh ( Kumpulan Sajak )
Penulis                    : Anam
Penerbit             : Stelkendo Kreatif
Tahun                      : Mei 2019
Tebal                 : xii + 94 Halaman, 14 x 20 cm
ISBN             : 978-623-90393


Setelah membaca buku ini satu dua tiga malam, sepanjang malam, saya merasa lelah dengan daya pikir yang sangat babak belur ini. Melintasi ladang-ladang yang menanam kalimat, meghindari jalan raya, menyiapkan terobosan pada pagar berduri, seolah saya berjalan kaki saban hari sangat, sangat jauh, dengan memakai sepatu di atas tanah yang baru saja digemburkan. Pasti tahu kan bahwa perjalanan pikiran saya dengan buku kumpulan sajak ini tidaklah mudah.
Begini, proses ini agak rumit sebenarnya. Mereka, para peracik kata yang pernah saya temui bermacam-macam. Terkadang sangat sistematis. Percaya pada teori. Menyebut nama-nama kreator yang hebat dalam tiap zamannya. Agar terpercaya, begitu rupanya.

Penyakit tergesa-gesa, romantisme dangkal, simbol-simbol khusus, dan bahasa basi menjadi buah yang berjatuhan dari langit yang menyamar dalam bentuk sajak. Hal tersebut menjadi kecacatan juga kelebihan dalam diri sendiri serta temuan saya di mereka. Pekerjaan mereka mengklaim rasa, membuat makna puitis, penuh ironi, ketegangan, paradoksal, ambiguitas serta semantik dengan sedemikian rupa.
Salah satu dari mereka menjadi aliran sungai, menghanyutkan buku kumpulan sajak ini kepada saya. Karya tunggal. Pengarang yang dikenali. Sementara itu, dalam proses membaca buku ini, saya juga menceburkan diri dalam proses membahas aspek-aspek sajak tersebut dengan unsur emosi dan catatan ini. Ada penekanan yang aneh dalam proses ini. Saya merasa sungkan memahami puisi, seolah menjadi pembaca yang arogansi, tidak bisa menemukan titik pusat referensi dari mana rasa ini berasal sebagai seorang pembaca.

Sajak dan puisi apabila ditelusuri sebenarnya memiliki perbedaan. Berdasarkan definisi, pengungkapan kata, maupaun keterikatan aturan di dalamnya. Penyajian suatu karya meski memiliki perbedaan, paling tidak pembaca akan dihadapkan pada suatu bentuk sastra yang bersifat metaforis maupun simbolis. Intensitas perasaan dan ketulusan para pengarang yang membuktikan nilai mereka sendiri turut serta menyulut saya menyukai buku, seperti buku kumpulan sajak ini. Terlepas dari karya tersebut yang nantinya berkesan lain antara pembaca satu dengan pembaca lainnya, seperti bentuk jelek, literatur picisan, resepsi sastra yang berantakaan, ataupun teks kosong.
Buku ini sebenarnya mampu membuat simpati para pembaca nya agar terbangun dari segi tekstual. Penulis tidak terlihat seperti pengarang, penyair, atau sebutan lainnya. Namun, ia menjadi manusia biasa yang membuat sesuatu sebagai alternatif agar tidak terjebak dalam asa. Seperti perajut benang. Pengalaman dan bentuk satire penulis rajut dalam 93 sajak dalam kurun waktu tiga tahun, yaitu tahun 2016 sampai 2018. Tahun dalam buku ini tidak urut alias tidak teratur, barangkali dengan maksud penulis membuat bonderis atau spesifikasi tertentu dalam beberapa sajaknya. Misalkan pada halaman 1, penggalan alunan sajak penulis yang berjudul “(wani)ta” pada tahun 2016 : Seperti kelinci / Aku hanyalah ketakutan yang berkabung / Langkahku menjadi kerdil dan terbatas. Selanjutnya sajak pada halaman 8, sajak penulis yang berjudul “Masihkah Ada Yang Mau Meminangmu” pada tahun 2018 yang memiliki kesamaan warna dengan sajak sebelumnya, yaitu tertuju kepada kaum hawa. Adapun jenjang sajak selanjutnya juga begitu.
 Celah kesalahan tipografi juga terdapat pada halaman 52 dan 53. Dibalut dengan cover yang sederhana menjadi cela berkelanjutan yang menimbulkan kesan monoton dan warna melankolis kolot, padahal buku kumpulan sajak ini bisa menonjolkan dengan tegas dari warna sajak penulis itu sendiri. Selain itu, saya sebagai pembaca tidak menemukan sifat khusus bentuk bahasa puisi tinggi yang mewujud heterogenitas rasa. Penulis lebih banyak fokus pada waktu atau tempat, atau pada hubungan antara diri dan orang lain serta persepsi penulis terhadap objek materialnya.
Meski begitu, buku ini diakhiri dengan selembar kosong yang diberikan khusus oleh penulis kepada pembaca dengan judul “Tulislah Sajakmu Sendiri”. Kalimat tersebut sebenarnya bisa jadi hadiah bagi para pembaca agar ikut bergabung dalam buku tersebut, juga dengan puisi kita di dalamnya. Oleh karena itu, memiliki buku ini, saya jadi menulis dan memiliki sajak saya sendiri di akhir halaman buku ini.

*Oleh: Ayu Sri Ratna Yuningsih
Mahasiswa Ilmu Perpustakaan
Fak.Adab dan Ilmu Budaya
UIN Sunan Kalijaga

Berita Terkait