Nasihat Pernikahan Dari Rasulullah

Judul              : 24 Jam Bersama Nabi
Penulis          : Abu Bakar bin As-Sina
Penerjamah          : Drs. Syihabudin M.A.
Editor              : Ibnu Karim
Penerbit         : Safina
Tahun Terbit         : Pertama, April 2018
Jumlah Halaman     : 320 halaman
ISBN             :  978-602-5453-26-7
Peresensi         : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis SD Plus Al-Ishlah Bondowoso

    Rasulullah Saw.  pernah bersabda, “Pukullah anak-anak karena meninggalkan shalat pada usia tujuh tahun, pisahkanlah tempat tidurnya pada usia sembilan tahun, dan kawinkanlah mereka pada usia 17 tahun jika memungkinkan. Apabila perkawinan dilakukan, kemudian katakanlah, “Mudah-mudahan Alah tidak menjadikanmu dalam fitnah dunia, tidak pula di akhirat.”

    Hadits di atas adalah hadits lain selain hadits yang mashur yang menunjukkan bahwa menikah merupakan anjuran agama dan sunnah Nabi. Dalam buku karya Abu Bakar bin As-Sina yang berjudul 24 Jam Bersama Nabi, disebutkan hadits-hadits yang berkaitan tentang pernikahan.
    Pertama, diawali tentang hadits istikharah. Istikharah memang menjadi sarana setiap Muslim untuk meminta petunjuk Allah dalam memilih yang terbaik untuk hidup dan akhiratnya. Termasuk dalam meminta petunjuk apakah orang yang mengkhitbah adalah orang terbaik yang dipilihkan Allah, atau bukan. Nabi pernah memberi petunjuk kepada Anas untuk melakukan shalat istikharah sebanyak tujuh kali, dan pilihlah perkara yang disukai oleh hati, karena kebaikan terdapat pada yang disukai (halaman 241).
    Ada pula hadits tentang jawaban kepada pelamar. Ternyata perkataan “selamat datang” menjadi isyarat bahwa lamaran disetujui oleh pihak orangtua dan keluarga. Seperti kisah Nabi yang kedatangan sepupu tercintanya, Ali bin Abi Thalib. Ternyata maksud kedatangan Ali adalah ingin mengkhitbah putri Nabi yang bernama Fatimah. Nabi pun bahagia dan bersabda, “Selamat datang.”
    Ali ra. tidak paham maksud Nabi. Hingga kemudian Ali mendatangi kaum Anshar, dan di antara mereka bertanya bagaimana tanggapan dan perkataan Nabi atas kedatangan Ali mengkhitbah Fatimah. Ali pun menceritakan kepada mereka tanggapan Nabi Saw., dan salah satu di antara berkata, “Cukuplah bagimu salah satu dari Rasulullah Saw. itu. Sesungguhnya dia telah memberimu istri dan penyambutan.”
    Kemudian Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Muhammad menikah. Rasulullah Saw. memanggil Ali sebelum malam pertama. Rasul meminta Ali membawa air, Ali pun membawa satu gelas besar air. Rasul meludahi air tersebut, dan meminta Ali maju, kemudian Rasulullah menyiram kepala dan bagian depan tubuh Ali dan berdoa yang artinya, “Ya Allah sesungguhnya aku melindungi dirinya dan keluarganya dengan-Mu dari setan terkutuk.” Kemudian Rasul meminta Ali untuk menghadap belakang, lalu menyiram daerah antara dua belikat dan mendoakan lagi, “Sesungguhnya aku melindunginya dan keluarganya dengan-Mu dari setan yang terkutuk.” Dan beliau bersabda, “Hai Ali, temuilah istrimu dengan membaca basmalah supaya mendapat barakah (halaman 245).”
    Dalam buku ini juga disebutkan tentang pentingnya doa sebelum berjimak. Ibnu Abbas yang menceritakan tentang musibah yang menimpa anak-anaknya. Lalu Rasulullah bersabda, “Andaikan tatkala menggauli istrimu kamu berdoa ini, ‘Bismillah, Ya Allah, jauhkanlah dari kami setan, dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau rezekikan pada kami,’ yang lahir dari hubungan itu tidak akan pernah dicelakakan oleh setan.”
    Rasulullah juga menyuruh kepada para suami untuk berlaku baik kepada istri. Islam sangat menghormati perempuan, dan melarang suami yang tidak berbudi baik kepada istrinya. “Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang iga yang bengkok. Jika kamu meluruskannya, berarti kamu mematahkannya. Maka, perlakukanlah dengan baik, niscaya kamu dapat hidup dengannya ‘tiga kali.’” Karena istri adalah tulang yang bengkok, maka ada pula sunnah berdoa agar bisa “menundukkan” istri.
    Rasulullah pun menyuruh para suami agar menyayangi istrinya, karena itu tanda mukmin yang sempurna. “Mukmin yang paling sempurna imannya yang paling bai budi pekertinya dan paling sayang kepada istrinya.” Karenanya, Nabi menyarankan agar menikahi gadis, karena dengan gadislah bisa saling mencumbu dan saling merayu.
    Bahkan, dalam pernikahan ada dusta yang dibolehkan yaitu dusta yang membawa kebaikan dan menyenangkan hati istri. Sedangkan yang menjadi ancaman dan makruh adalah menceritakan rahasia suami istri, yang oleh Nabi diumpakan seperti setan jantan dan betina sedang ‘bergaul’ di depan banyak orang.
    Sebuah buku yang wajib dibaca oleh banyak Muslim, karena mengandung banyak ilmu, pelajaran, dan tata cara hidup islami yang dianjurkan oleh Nabi. Selamat membaca!

Berita Terkait

Berita Lainnya :