Mental Gigih Sang Raja Cendol

Judul        : Madesu; Masa Depan Sukses
Penulis        : Danu Sofwan
Penerbit    : Pastel Books
Cetak         : 2018
Tebal        : 216 halaman
ISBN        : 978-602-6716-20-0
Peresensi    : Al-Mahfud,  penikmat buku, dari Pati,
enulis ulasan buku di berbagai media massa.


    
    Di balik sebuah kesuksesan, pasti ada perjuangan di belakangnya yang jarang orang lihat. Banyak orang memulai berbisnis karena tergiur kesuksesan orang lain, tanpa tahu proses jatuh bangun yang dilalui di baliknya. Karena yang dilihat hanya kesuksesan orang lain, ketika dihadapkan pada kegagalan orang akan merasa terpuruk, bahkan putus asa. Padahal, hal itu pula yang dilalui orang-orang sebelum sampai pada sebuah kesuksesan.


    Di buku ini, kita disuguhi jalan panjang yang dilalui Danu Sofwan, Funder dan CEO Randol alias @radjacendol sebelum sampai pada kesuksesan seperti sekarang. Danu membangun kerajaan bisnis unik, yakni berjualan minuman tradisional berupa cendol. Hanya dalam waktu 3 tahun, Danu kini menjadi salah seorang pengusaha muda sukses di Indonesia yang memiliki lebih dari 780 titik outlet yang tersebar di 34 provinsi. Produknya mendapat penghargaan sebagai The Best Innovative Traditional Drinks 2015 dari Kementerian Koperasi dan UMKM RI, juga penghargaan Best Entrepreneur Award 2015 dan Markeeters Youth of The Year 2016.

    Namun, apa saja yang dilalui Danu sebelum akhirnya sampai pada titik tersebut? Perjalanan Danu diawali dari kondisi sulit. Keluarganya bangkrut pada tahun 2005 dan dua tahun kemudian, ayahnya meninggal. Berbekal ijazah SMA, Danu melamar ke berbagai perusahaan, namun tak ada yang menerimanya. “Madesu” alias “Masa Depan Suram” merupakan kata-kata yang selalu terngiang di telinganya mengingat kondisinya saat itu. Namun, suatu ketika, Danu mengubah cara berpikirnya.

    Karena memiliki sifat egois, keras kepala, dan bandel, Danu mentrasformasikan sifat-sifat negatif tersebut menjadi semangat positif untuk bisa mendapatkan uang dari keringat sendiri. Berbekal sedikit uang yang tersisa selepas ayahnya meninggal, Danu meminta izin ibunya untuk memulai usaha berjualan sepatu. Namun, sejak awal memulai bisnis, ia sudah dihadapkan kejadian pahit. Karena belum pengalaman, ia menjadi korban penipuan dan uang sisa tersebut hilang begitu saja.


    Ia meminta maaf pada ibunya, dan ibunya dengan ikhlas memaafkan. Kebesaran hati dan ketulusan ibunya itulah yang memantik semangat Danu untuk kembali berusaha. “Memukul pikiran saya keras kalau saya harus membahagiakannya lebih,” tulisnya. Karena uang habis, Danu berpikir bagaimana bisa berdagang tanpa modal. Ia menemui teman dari ayahnya yang berjualan jam tangan. Ia memfoto jam-jam tersebut dan menawarkannya pada teman-temannya. Beberapa mulai memesan. Dari hasil tersebut, Danu merambah ke aksesoris lainnya, seperti sepatu, baju, dan gelang. Dari reseller, Danu naik pangkat menjadi salah satu distributor besar dengan ratusan reseller di seluruh Indonesia.
    
    Kegigihan
    Ketika minat pada gelang menurun, Danu beralih pada bisnis rokok elektrik. Namun, berhembus isu bahwa rokok tersebut lebih berbahaya ketimbang rokok biasa. Penjualan terus menurun dan akhirnya Danu bangkrut. Danu hanya mengantongi sisa uang sebesar 100.000 rupiah. Danu berpikir bagaimana agar uang tersebut bisa berputar dan tak habis begitu saja. Ia menahan lapar, menumpang di kos-kosan teman, hingga sampai di sebuah musala pom bensin sekitar Tebet.

    Dua hari berlalu dan uang 100.000 rupiah itu belum terpakai. Satu-satunya aset yang masih tersisa adalah handphone. Terdampar di daerah Tebet, Danu sadar daerah tersebut kawasan clothing terbesar di Jakarta. Dengan jalan kaki, ia mencari tempat penjual baju. Dengan uang 100.000 ia membeli 3 kaos dan menjualnya melalui medsos. Akhirnya, uang 100.000 tersebut beranak menjadi 500.000. “Saya langsung beli makan di food court lantas atas sambil menahan air mata supaya tak jatuh dan menetes di nasi saya,” tulisnya (hlm 99).

    Sejak saat itu, Danu terus mengembangkan usaha kaos tersebut dengan bantuan Nunu, pacarnya. Uang 500.000 berputar menjadi sejuta, lima juta, hingga sepuluh juta rupiah. Namun, cobaan lagi-lagi datang. Nunu, pacarnya, tak sengaja meninggalkan kartu ATM saat melakukan transaksi. Ketika mereka datang, kartu sudah tak ada di mesin ATM dan ketika call center bank dihubungi, ada penarikan tunai dan saldonya habis.

    Berkali-kali mengalami kegagalan, penipuan, dan kehilangan membuat Danu banyak belajar tentang keikhlasan. Ia boleh kehilangan uang, namun ia tak ingin kehilangan passion untuk terus berusaha. Setelah itu, kesabaran Danu masih terus diuji ketika lagi-lagi terjebak dalam penipuan saat ditugaskan mengambil barang di India, yang ternyata berisi narkoba.

    Segala kejadian yang dilewati tak membuat Danu menyerah. Suatu ketika, setelah melakukan riset di internet dan buku, Danu menemukan ide berjualan minuman tradisional berupa cendol. Cendol adalah minuman khas Indonesia yang masuk daftar 50 minuman terlezat di dunia via CNN. “Ada rasa takjub yang saya rasakan setelah mencari tahu tentang cendol lebih jauh,” tulisnya. Baginya, anak muda harus menjaga warisan nenek moyangnya, termasuk minuman tradisional. Sejak itulah, Danu mantap memulai usaha cendol.
    
    Siapa sangka, cendol itulah yang mengantarkan Danu menjadi pengusaha muda sukses dengan berbagai penghargaan. Bayangan “Masa Depan Suram” yang pernah membayanginya sudah berubah menjadi Masa Depan Sukses! Selanjutnya, buku ini mengulas perjalanan Danu membangun bisnis cendol. Tentu, Danu terus menghadapi berbagai tantangan. Namun, berkat kegigihan, kreativitas, inovasi, jaringan, dan kesabaran tiada habisnya, Danu akhirnya sampai pada kesuksesan.
 

Berita Terkait