Mengulik Sisi Kemanuasiaan

Judul            : Gelandangan di Kampung Sendiri
Penulis            : Emha Ainun Nadjib
Penerbit            : Bentang
Cetakan            : Pertama, April 2018
Tebal            : viii + 296 halaman
Nomor ISBN    : 978-602-291-472-3


Judul Gelandangan di Kampung Sendiri merupakan sebuah metafora. Perlambangan sebuah keadaan yang serba ironi. Seharusnya kampung, dalam hal ini sebuah negara bisa menjadi rumah besar yang memayungi warganya. Namun, menjadi sebuah keprihatinan ketika warga justru dibiarkan menggelandang.
Penulis sendiri pada bagian pengantar mendedikasikan buku ini kepada orang-orang yang: dianiaya, ditindas, dirampas kemerdekaannya, dimiskinkan.

Pada orang-orang semacam ini, kepada siapa mereka hendka mnegadu permasalahan hidupnya? Sekaligus sebuah “ucapan terima kasih” kepada teman-teman, sahabat yang tetap konsisten memperjuangkan keadilan dan hidupnya diperuntukkan untuk orang kecil.
Sebagai mana diketahui oleh banyak orang, Cak Nun, demikian Emha Ainun Nadjib biasa disapa, merupakan cendekiawan sekaligus budayawan, yang piawai dalam menggagas dan menoreh kata-kata, baik itu puisi maupun esai.
Cak Nun merupakan sosok yang menjelma menjadi semacam rumah besar, tempat mengadu keluh kesah berbagai macam profesi dan berbagai macam jenis manusia. Ia hampir selalu membukakan pintu kepada siapa saja yang mendatangi untuk memeinta pertolongan. Nah, kisah-kisahnya menjadi sebuah bunga rampai yang menggambarkan bagaimana Cak Nun memandang, sekaligus memberikan pencerahan pada para pengadu.Tentu saja, melalui bahasanya yang khasdan menggelitik, ia berhasil “menelanjangi” sisi kemanusiaan kita yang terdalam. Terlebih lagi, cara penyempaiannya Tanpa kesan menggurui. Pembaca layaknya diajak ngobrol-ngobrol, untuk bersama-sama menyelami kaum yang “terpinggirkan” itu.

Buku Menjadi Gelandangan di Kampung Sendiri merupakan esai yang disampaikan Cak Nun pada beberapa media seperti Harian Suara Pembaharuan, Harian Surya, Harian suara Karya, Tabloid Annisa, serta beberapa dokumen pribadi penulis. Secara garis besar terbagi menjadi 4 bab, yaitu Pengaduan I (23 tulisan), Pengaduan II(11 tulisan), Ekspresi (10 tulisan), dan Visi (17 tulisan).
Sebagian besar cerita yang tersaji pada buku ini mengambil setting pada masa Orde Baru. Oleh karena itu, bisa jadi buku ini menjadi cermin tentang rezim yang berkuasa saat itu.
Penulis sendiri bersyukur menjadi “orang kecil” yang menempatka dirinya pada posisi itu. “Dengan menjadi orang kecil, dengan menjadi orang biasa, bisa mengurangi keterikatan dan ketergantungan tertentu. Kalau orang berpangkat, ia tergantung pada kedudukannya di kursi sehingga ia bisa diseret, ditodong, atau ditakut-takuti untuk khawatir jatuh dari kursinya. Kalau orang berkuasa, ia diliputi ketakutan akan kehilangan kekuasaan sehingga terkadang terpaksa melakukan kecurangan atau kejahatan untuk mempertahankan kekuasaan,” halaman 93.

Berita Terkait