Mengitari Angkasa dengan Ayat Kauniyah


“Jadilah muslim seperti matahari, yang bersinar karena kualitas pribadinya, mampu menerangi dan menghangatkan sekitarnya, memberi manfaat bagi masyarakat.”
(Imam Ghazali)   
    Quote di atas, menjadi salah satu kalimat motivasi yang disisipkan oleh T. Djamaluddin dalam bukunya, Semesta pun Berthawaf.
    Buku non fiksi ini, kembali mengingatkan pembaca akan makna wahyu yang pertama kali turun. Iqra', bacalah. Di mana perintah membaca ini, bukan sebatas pada ayat-ayat Qouliyah (perkataan), namun juga membaca ayat-ayat Kauniyah. Yakni merenungi ciptaan Allah yang terbentang di alam semesta.
    Siapakah yang mampu membaca ayat-ayat Qouliyah sekaligus Kauniyah? Al-Qur'an menyebutnya dengan istilah Ulul Albab. Yaitu orang yang senantiasa menggunakan akal dan hatinya. Atau cendekiawan yang senantiasa membaca alam: berzikir, berpikir, bertauhid, dan beristighfar.
    Dalam mengkaji ayat-ayat Kauniyah, Prof. T. Djamaluddin yang berlatar pendidikan astronomi ini mengajak pembaca berjalan-jalan mengitari angkasa. Menengok matahari, bulan, dan kejadian gerhana. Sambil merenungi QS. Asy-Syams ayat 1-10, yang memberikan kesadaran akan pola pikir nisbi. Matahari terkesan besar jika dibandingkan dengan benda-benda di bumi. Namun bila dibandingkan dengan langit yang luas dan benda-benda angkasa yang lain, maka matahari tampak kecil.
    Nah, jika matahari saja kecil, apalagi manusia. Inilah yang kemudian mengetuk nurani bahwa setiap diri itu kecil, lemah, miskin, bodoh, terhina, tidak ada yang patut disombongkan. Fenomena matahari dan pengakuan keterbatasan diri ini, oleh penulis disebut dengan istilah “psiko-astronomis”.
    Selanjutnya, pembaca diajak mengintip teleskop. Menjadikan teleskop sebagai perumpamaan hati. Ibarat sebuah lensa yang bagus, peka menangkap cahaya atau benda-benda langit, maka demikian pula dengan hati. Qolbu yang jernih akan mudah disinari cahaya hidayah.
    Tidak sampai di situ, buku sains-religi ini menyuguhkan tentang fenomena pelangi, black hole, lapisan langit, serta evolusi kehidupan. Jika pembaca penasaran tentang realita bintang kejora dan fakta bumi bulat, maka buku ini bisa memberikan jawaban.
    Dilengkapi dengan ayat-ayat Al-Qur'an dan beberapa hadits, penulis juga membahas tentang isra' mi'raj, kisah ashabul kahfi, dan alam semesta yang berthawaf.
    Tentang proses penciptaan alam semesta, buku ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “sittati ayyaam” 6 masa itu bukanlah 6 hari. Melainkan “6 tahap penciptaan”. Namun, untuk lama waktu di setiap tahapnya, belum ada penjelasan terperinci. Hanya saja, di balik rahasia tahap demi tahap ini, Allah hendak mengajarkan pada manusia bahwa segala sesuatu butuh proses dan kesabaran.
    Membaca buku ini, seperti menatap hidangan lezat. Selain tema yang menarik dan ditunjang dengan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits, pembaca juga disuguhi gambar-gambar yang memanjakan mata. Ditambah lagi, code-code tautan yang disediakan untuk mendukung daya visual pembaca. Sebagai contoh, untuk melihat gerakan Galaksi Bimasakti, code tautan yang bisa dijelajah di dunia digital adalah http://bit.ly/SemestaBerthawaf. Atau apabila ingin melihat peluncuran satelit LAPAN A2 dengan roket India, maka pembaca bisa berselancar di http://bit.ly/PeluncuranSatelit. Berbagai tautan QR-code yang disajikan, menjadikan buku ini memiliki daya pikat tersendiri.
    Bahasa sains, semisal “fusi nuklir” atau “hukum kepler” dan rumus-rumusnya, bisa menjadi kelebihan sekaligus kekurangan. Kalimat sains yang muncul, kurang bisa dipahami oleh pembaca yang berlatar pendidikan non-sains. Seseorang dengan kacamata awam, butuh berpikir keras untuk mencerna kata-kata sains dalam buku ini.
    Terakhir, Prof. T. Djamaluddin menutup buku bersampul gelap ini dengan kalimat yang sangat bijak. Yakni, tidak ada sains islam dan non-islam. Yang ada ialah ilmuwan muslim dan non-muslim. Riset yang dilakukan oleh ilmuwan muslim, akan bersandar pada keyakinan bahwa Allah adalah Pencipta dan Pemelihara alam.
    Karenanya, setiap tahapan riset para ilmuwan muslim yang berhasil menyingkap satu mata rantai rahasia alam, semestinya tidak disertai ungkapan berbangga diri. Melainkan akan menambah rasa syukur dan rendah hati, serta jiwa yang tunduk tawadlu'.
    Dan sejatinya, Ulul Albab adalah siapapun yang mampu menggabungkan akal dan nurani yang jernih, serta menggunakan ilmunya untuk mendekat dan taat pada Allah, Robb semesta alam.
    So, buku yang terbit lebih dari satu tahun ini recommended. Bisa menjadi teman alternatif saat santai, sembari menikmati teh hangat dan sisa kue lebaran, sekedar melumat nastar atau remahan rengginang.***

Judul Buku    : Semesta pun Berthawaf
Penulis    : T. Djamaluddin
Tahun Terbit    : Maret 2018, cetakan I
Tebal        : 151 Halaman
Dimensi    : 23,5 x 15,5 cm
Penerbit    : Mizan
Harga        : Rp 99.000,-
Peresensi         : Rona Meutia,  ibu rumah tangga,
tinggal di pinggiran kota Malang

Berita Terkait