Mengelola Pendidikan Islam Berbasis Nilai Profetik

Judul Buku    : Manajemen Profetik Konstruksi Teoretis dalam Manajemen
  Pendidikan Islam
Penulis        : Dr. Yuliharti, M.Ag. dan Dr. Umiarso, M.Pd.I.
Penerbit        : Amzah, Jakarta
Cetakan        : I, Januari 2019
Tebal        : 204 Halaman
ISBN        : 978-602-0875-45-3
Peresensi        : Ahmad Fatoni
                               Pengajar Pendidikan Bahasa Arab UMM


PERUBAHAN serba gegas yang mengiringi dinamika pengetahuan dan teknologi menuntut manajemen pendidikan Islam agar lebih profesional dalam menghadapi dunia global. Mau tak mau, pendidikan Islam yang kini memasuki pusaran perubahan zaman, membutuhkan daya kreativitas tanpa batas dalam mengatasi aneka tantangan.

Sayangnya, selama ini sistem pengelolaan pendidikan Islam terkesan seadanya, kurang tanggap terhadap laju perubahan, cenderung berdiri di atas menara gading yang elitis, dan tampak jauh dari profesionalitas. Maka, tak aneh, jika pendidikan Islam belakangan dinilai kurang mampu berkontribusi dalam banyak persoalan.
Celakanya lagi, sebagian kalangan menganggap biang kerok berbagai krisis sosial dan moral bangsa ini adalah akibat kegagalan pendidikan agama (Islam) dalam membentuk karakter peserta didik. Berbagai pihak kalangan juga mengeluhkan ketidakmampuan sistem pendidikan Islam dalam mengantar peserta didik guna memahami dan mengamalkan ajaran agamanya secara baik dan benar.
Ikhtiar memotret berbagai persoalan itulah yang menjadi pokok pikiran buku Manajemen Profetik ini. Kedua penulisnya meyakini bahwa sistem pendidikan Islam senyatanya memiliki potensi yang luar biasa untuk melakukan tata kelola ke arah yang lebih baik. Sebagai contoh kasus, manajemen pesantren sebagai salah satu sistem pendidikan Islam dengan karakteristiknya yang sarat dengan nilai-nilai profetik dan tradisi luhur, mampu mendidik para lulusannya menjadi generasi yang tidak saja cerdas otaknya, juga cerdas akhlaknya.
Secara potensial, karakteristik pesantren umumnya mengandung nilai-nilai luhur seperti kesabaran, kesalihan, kemandirian, keikhlasan, dan kesederhanaan. Kelima nilai itu merupakan dasar profetik pesantren dalam menyikapi medernisasi dan tantangan globalisasi (hal.173) Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat melepaskan diri dari sikap ketergantungan dan pola hidup konsumerisme yang selama ini telah menghancurkan sendi-sendi kehidupan sosial.
Karena itu, pemberdayaan manusia menjadi sesuatu yang tak terelakkan untuk diletakkan secara utuh dalam sistem tata kelola pendidikan Islam (hal.vii). Sebab Islam sesungguhnya agama yang mengajarkan umatnya demi membebaskan umat manusia dari segala belenggu yang sekiranya dapat menggerogoti nilai-nilai kemanusiaan.

Berita Terkait