Menangkal Sikap Berlebihan Dalam Beragama

Judul             : Islam Jalan Tengah
Penulis          : Dr. Yusuf Qardhawi
Penerjemah    : Alwi A.M.
Editor             : Muhammad Al-Baqir
Penerbit         : Mizan
Tahun Terbit    : Pertama, Oktober 2017
Jumlah Halaman     : 252 halaman
ISBN              :  978-602-441-034-6
Peresensi       : Muhammad Rasyid Ridho,
Pendiri Klub Pecinta Buku Booklicous Malang dan Pengajar Kelas Menulis SD Plus Al-Ishlah Bondowoso


    Kamus Larousse mengungkapkan, “Sesungguhnya kecenderungan terhadap agama terdapat pada setiap orang, bahkan orang yang sangat biadab dan paling dekat dengan kehidupan binatang pun mempunyai kecenderungan tersebut. Perhatian terhadap masalah ketuhanan dan spritual adalah salah satu kecenderungan manusia yang abadi di seluruh dunia.”

    Kutipan di atas saya dapati dalam buku Islam Di Tengah Serangan Musuh karya Prof. Dr. Yusuf Al-Qardhawi dan Prof. Ahmad Al-Assal.

Hal ini berarti memang tidak bisa menganggap bahwa orang baik akan selamanya baik dan orang jahat akan selamanya jahat. Karena hal itu bisa berubah, akan ada waktu hijrah atau bahkan hilang hidayah.
   
Kecenderungan beragama memang tidak akan hilang, akan ada pula saatnya mereka semangat untuk beragama. Bahkan, semangat dalam beragama terkadang bisa dijadikan peluang oleh orang-orang yang menyeleweng dari agama manapun untuk memasukkan sikap berlebihan dalam beragama. Syaikh Yusuf Al-Qardhawi dalam bukunya yang berjudul Islam Jalan Tengah, menyebutkan sikap ekstrem dalam beragama disebut sebagai ghuluw atau tatharruf.
    Al-Tatharruf dalam bahasa Arab berarti berdiri di tepi, jauh dari tengah. Awalnya kata ini dipakai untuk hal-hal yang bersifat materi atau duniawi, tetapi kemudian dipakai untuk hal-hal abastrak seperti menepi (melampaui batas tengah) dalam agama, pikiran dan kelakuan (halaman 21).
    Sikap berlebihan inilah yang kemudian menyebabkan orang-orang beragama melakukan perbuatan negatif yang dilarang oleh agamanya, seperti membunuh sesama agama yang dianggap salah arah atau bahkan penganut agama lain yang memang berbeda dengan keyakinannya.
    Syaikh Yusuf mengatakan bahwa berada di tengah adalah ciri khas Islam. Dari pertengahan yang adil dan lurus, menjadi saksi di dunia dan akhirat atas kecenderungan manusia ke kanan atau ke kiri, yang mana mereka tidak terhindar dari sikap melampaui batas atupun penyia-nyiaan dan pengabaian.
    Rasulullah Saw. bersabda, “Hindarkanlah darimu sikap melampaui batas dalam beragama, karena sesungguhnya orang-orang sebelummu telah binasa karenanya.” (halaman 23) Karenanya, Rasulullah mengajarkan sikap tengah-tengah dengan tidak beribadah terus dan tetap beristirahat. Dengan menikah tidak melajang, dan tetap makan tidak selalu berpuasa. 
    Ada beberapa tanda sikap berlebihan dalam beragama menurut Syaikh Yusuf. Pertama, fanatik pada suatu pendapat dan tidak mengakui pendapat-pendapat lain. Kedua, kebanyakan orang mewajibkan atas manusia sesuatu yang tidak diwajibkan Allah SWT. atas mereka. Ketiga, memperberat yang tidak pada tempatnya, seperti memperberat sesuatu atas orang yang baru memeluk Islam. Keempat, bersikap kasar dan keras. Kelima, berburuk sangka kepada manusia dan terakhir adalah terjerumus dalam jurang pengafiran. Ini adalah puncak sehingga dia menggugurkan hak dan kehormatan orang lain, menghalalkan jiwa dan harta mereka serta tidak lagi melihat hak mereka untuk tidak diganggu dan hak diperlakukan secara adil (halaman 55).
    Menurut Syaikh Yusuf ada banyak hal yang memengaruhi dan menyebabkan seseorang akhirnya melakukan perbuatan ekstrem dan melampaui batas. Mulai dari keluarga, lingkungan juga keadaan negara. Antara ilmu jiwa, ilmu sosial dan ilmu agama, semua saling berkaitan untuk mencari solusi akan hal ini.
    Paling utama adalah karena lemahnya dalam memahami hakikat beragama, sedikitnya pengetahuan tentang fiqihnya serta kurang dalamnya penyelaman rahasia-rahasianya guna meliputi pemahaman akan tujuannya. Dalam kata lain, karena pengetahuan agama yang setengah-setengah, sehingga membuat persangkaan bahwa dirinya telah berpengatahuan sempurna, padahal banyak dan bahkan sangat banyak yang belum dia ketahui (halaman 62).
    Karena hal inilah kemudian timbul rasa paling benar dari kelompok lain dalam Islam dan bahkan dengan mudahnya membunuh penganut agama lain.    Meski buku ini telah terbit pertama kali dalam bahasa Arab sejak tahun 1985, namun sampai saat ini isinya masih releven dan sangat pas dengan teror yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia. Semoga dengan membaca buku ini, membuat orang-orang memahami, bahwa menjadi Muslim adalah menjadi di tengah, lurus dan adil, serta tidak esktrem. Selamat membaca!

Berita Terkait

Berita Lainnya :