Membereskan Barang, Menata Kehidupan

Judul        : KonMari Mengubah Hidupku
Penulis        : Khoirun Nikmah
Penerbit    : Bantang Pustaka
Cetakan    : 1-Agustus 2018
Tebal        : x+170 halaman
ISBN        : 978-602-291-502-7
Peresensi    : Al-Mahfud*)

    Bersih-bersih atau beres-beres rumah bukan perkara remeh. Kegiatan ini tak sekadar bagaimana membuat ruangan tampak bersih dan rapi. Lebih dari itu, bersih-bersih rupanya menembus jauh ke persoalan pola pikir, sikap, dan pandangan hidup. Dengan beres-beres, orang belajar merekonstruksi cara pandang terhadap kehidupan. Hal tersebut dibuktikan oleh Khoirin Nikmah, pendiri Komunitas KonMari Indonesia.  
    Berbekal mempelajari metode KonMari dari buku The Life-Changing Magic of Tidying Up karya Marie Kondo dari Jepang, Nikmah termotivasi menerapkan metode tersebut dan mengembangkannya di Indonesia. Di buku ini, ia memaparkan pengalaman menerapkan metode KonMari yang disesuaikan kondisi di Indonesia.

Dengan bahasa sederhana, penulis mengajak pembaca mengenal metode KonMari, pola pikir KonMari, perbedaan KonMari dengan metode beres-beres lainnya, pengalaman menerapkan KonMari bersama keluarga, hingga perkembangan metode KonMari di Indonesia.
    KonMari mengajarkan dua konsep utama, yaitu decluttering dan organizing. Ada filosofi memperlakukan benda dalam dua konsep tersebut. Decluttering adalah upaya mengurangi barang. Di sini, kita fokus pada barang yang kita simpan dan merasa bahagia saat menyentuhnya (spark joy). Kemudian, mengucapkan terima kasih pada barang yang “dipensiunkan”. Proses ini dilakukan berurutan per kategori, bukan berdasarkan lokasi. Misalnya mulai dari pakaian, buku, kertas, komono, dan memorabilia.

    Setelah itu, fokus pada organizing atau penataan. Di proses ini, metode KonMari juga mengajarkan kita memperlakukan barang dengan baik. Setelah pakaian dilipat misalnya, diletakkan dengan dijajar horizontal, tidak ditumpuk vertikal. “Filosofinya, agar setiap benda beristirahat dengan nyaman di dalam ‘rumahnya’, storage diibaratkan ‘rumah’ bagi para benda setelah ‘bekerja’ di luar,” jelas Khoirin (hlm 11). Di sinilah keunikan KonMari yang berbeda dengan metode beres-beres lainnya seperti metode 5S, Danshari, atau Goodbye Things.
    Menurut Khoirin, metode KonMari memiliki penekanan khusus pada sisi “personal” seseorang dalam menimbang apakah suatu barang disimpan atau dipensiunkan pada saat decluttering. Sedangkan metode lain lebih ketat dan cenderung tak terlalu memperhatikan unsur “kebahagiaan” atau “joy sensor” terhadap suatu barang. Terdapat istilah “titik pas” dalam KonMari yang membuat proses decluttering lebih fleksibel diterapkan orang dengan tipe beragam. “Selama barang membuat nyaman, bahagia, dan bisa dimanfaatkan, tak apa tetap disimpan,” tulisnya (hlm 40).
    Penulis juga menjelaskan bagaimana ia mempraktikkan KonMari bersama suami dan anaknya. Kesuksesan beres-beres di rumah dipengaruhi kekompakan dalam keluarga. Lebih jauh, lewat momen beres-beres dan menentukan ideal lifestyle, penulis memanfaatkannya untuk berdialog bersama suami merangkai kembali visi-misi pernikahan. Penulis juga membiasakan hidup rapi dan bersih pada anak-anak. “Usai anak beraktivitas, saya arahkan dan bersamai untuk mengembalikan mainan ke kotak atau lemari,” tulis Khoirin (hlm 102).
    Di bab terakhir, Khoirin memaparkan bagaimana metode KonMari mengubah cara pandangnya akan hidup menjadi lebih positif. Kenangan masa kecil yang pahit pelan-pelan dihapus lewat momen beres-beres. Saat cleansing dan menemukan foto masa kecil, ia melepaskannya dan membuangnya. “Saya mengeliminasi hal-hal negatif dan yakin mampu mengganti kepahitan kenangan masa kecil dengan memori baru yang lebih positif. Dari sini, saya memperbanyak rasa syukur,” jelasnya (hlm 140). 
    Di Indonesia, jelas Khorin, belum banyak yang tahu dengan metode beres-beres temuan Marie Kondo dari Jepang ini. Masih banyak orang menganggap aktivitas berbenah hanyalah sekadar aktivitas rutin harian, tanpa konsep, prinsip, dan pembiasaan yang sungguh-sungguh. Di samping itu, masih banyak orang yang menganggap kemakmuran hidup ditandai dengan banyaknya barang yang dimiliki.
    KonMari membuat Khoirin yakin bahwa kegemarannya beres-beres bukan hal yang memalukan seperti sering dikatakan temannya waktu kuliah yang menganggapnya seperti pembantu. Berbenah adalah laku membereskan barang sekaligus menata pikiran dan perasaan. Lewat aktivitas beres-beres, kita belajar menata diri menuju kehidupan yang lebih baik. 

 *Al-Mahfud, pembaca buku,
menulis artikel, esai, dan ulasan buku di berbagai media massa. .

Berita Terkait