Membangun Karakter Sesuai Ajaran Tuhan

Selama ini, umumnya orang membincang kegagalan pendidikan jika sebuah lembaga pendidikan tidak menghasilkan lulusan yang siap pakai karena tidak sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja. Bahkan, sebagian orang menganggap inilah masalah yang paling besar dalam pendidikan. Menurut Ahmad Tafsir, cara berfikir semacam itu adalah cara pandang pragmatis.
Tulis Ahmad Tafisr selanjutnya, kemanusiaan manusia ada di dalam batinnya. Batin itulah yang mengendalikan manusia. Itu sebabnya pendidikan Islam senyatanya mengutamakan pembinaan hati. Hakikat kesuksesan manusia tidak hanya mengandalkan keberhasilan secara lahiriyah, melainkan juga mengedepankan keberhasilan secara batiniyah yang tersusun dari akan dan hati sekaligus yang pada gilirannya mewujud dalam perilaku peserta didik.
Kenyataanya, kegagalan utama pendidikan kita justru terletak pada pendidikan akhlak sehingga menyebabkan krisis berkepanjangan. Pendidikan kita memang telah berhasil mencetak peserta didik yang pintar secara akademik, namun sering tidak cerdas akhlaknya. Memang, lembaga pendidikan Islam cukup mampu mengajar bagaimana tata cara shalat, mengajak puasa, mendorong pergi haji, atau menyemangati bayar zakar, tetapi kerap gagal menanamkan akhlak mulia.  
Buku ini lahir dari ragam artikel penulis yang pernah berserak di berbagai surat kabar. Sebagiannya merupakan adaptasi dari beberapa makalah yang pernah disiapkan dalam forum seminar, diskusi atau work shop, atau sekadar untuk bahan ceramah. Sebagian tulisan bahkan ditulis tahun 1960-an, namun tetap relevan dengan perkembangan pendidikan saat ini. Kelebihan sekaligus ciri khas tulisan Ahmad Tafsir, buku ini pun ditulis pendek-pendek dengan bahasa yang “gurih dan renyah” sehingga tidak membosankan.
Buku semacam ini dapat dijadikan pedoman, terutama para guru dan orangtua, untuk membimbing akhlak anak-anak agar tumbuh menjadi generasi yang salih. Tak pelak, pendidikan pokok anak-anak dapat dimulai dengan penanaman iman, lalu pembiasaan karakter yang luhur, menundukkan hawa nafsu, di bawah naungan ridha Ilahi. Dengan begitu, lingkungan sosial dapat diperbaiki melalui pembangunan karakter sesuai ajaran Tuhan.(*)

Berita Terkait