Jejak Chairil Anwar di Malang


BISA jadi masih ada yang tak tahu monumen di Jalan Basuki Rahmat adalah patung Chairil Anwar. Padahal pujangga muda yang kesohor itu pernah berjejak di Malang. Karya maupun fisiknya. 
Patung Chairil Anwar diresmikan 28 April 1955. "Persemaiannya tepat dengan peringatan tanggal kematian Chairil Anwar," ujar Koordinator Pelangi Sastra Malang, Denny Mizhar.
Berdasarkan data yang diterimanya, patung tersebut  diresmikan pukul 09.30 WIB. Sebelum peresmian, Kota Malang kala itu 'pecah' dengan tebaran puisi karya pria asal Medan itu.
Ide pembuatan monumen itu didiskusikan bersama para seniman yang tergabung dalam Angkatan Pelukis Muda Malang (APMM). Kala itu, sastra dan drama tengah bergeliat termasuk di Surabaya, Bandung, Jogjakarta dan Jakarta.
Puisi karya Chairil Anwar dikagumi. Sebab memunculkan pembaruan, pemberontakan, kebebasan dan penciptaan puisi yang lepas. Ide dan irama puisinya tergolong baru saat itu.
“Chairil Anwar menjadi gayanya yang baru dan berbeda,” ujarnya.
Sosok Chairil Anwar menjadi pemuda yang menginspirasi. Ia berani membakar semangat anak muda untuk merebut kemerdekaan. Apalagi saat itu, meski kemerdekaan telah diproklamasikan namun Belanda juga terus melakukan agresi militer untuk kembali menjajah.
Lantas muncul pertanyaan, apakah Chairil Anwar pernah hadir di sidang Pleno KNIP di tahun 1947 di Malang? Sebab dua puisi, ‘Sorga’ dan  ‘Sajak Buat Basuki Kesobo’ kabarnya ditulis di Malang berbarengan dengan sidang KNIP. "Tidak ada yang bisa membuktikan, dia hadir atau tidak. Apakah dia sudah di Malang sebelum acara tersebut, atau dia datang untuk acara itu. Sehingga, kami pun tidak berani memastikan," bebernya.
Dalam buku Denny Basuki Resobo berjudul Bercermin di Muka Kaca: Seniman, Seni, dan Masyarakat karya Basuki Resobowo (2005) menyebutkan jika Chairil Anwar menghadiahi puisi setelah bertemu dalam pameran lukisan yang diselengarakan di Jakarta pada 1947. Dia memamerkan lukisan perempuan telanjang. Chairil Anwar tertegun dan berhenti selama 10 menit melihat lukisan itu.
"Yang jelas dia mungkin familiar dengan Malang dan sepertinya beberapa kali datang," tambahnya.
KNIP merupakan Badan Pembantu Presiden, beranggotakan para tokoh dan perwakilan golongan serta daerah. KNIP merupakan cikal bakal badan legislasi atau DPR. Sidang KNIP di Malang, 25 Februari-6 Maret 1947 di gedung bekas Sociteit Concordia (lalu berubah jadi gedung Sarinah) dihadiri sejumlah tokoh pergerakan. Di antaranya Ketua KNIP Sutan Syahrir, Presiden Sukarno, dan Muhammad Hatta.
Denny mengatakan, keberadaan patung Chairil Anwar di Kota Malang patut membuat bangga, terutama bagi para pegiat puisi, seniman atau pecinta sastra. "Dari dua patung di Indonesia, satunya di Malang," ungkap pria asal Lamongan itu.
Bahkan, di tanah kelahirannya pun, di Medan, tidak ada patung Chairil Anwar. "Selain itu, kita patut bangga, karena 28 April diperingati sebagai hari puisi Indonesia," tambah dia.
Sementara itu, di Malang sendiri, 28 April ini akan diperingati dengan pembacaan puisi karya Chairil Anwar. "Yang menyukai karyanya, yang senang membuat syair puisi, biasanya berkumpul di suatu tempat untuk mengupas isi puisi tersebut. Untuk tahun ini, acaranya tetap di Pelangi Sastra," pungkasnya. (ley/van)