Dunia "Mata" menuju Rahasia Anak


"Orang dewasa selalu tak punya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sederhana.  Anehnya,  mereka selalu berpura-pura tahu segalanya " (Madasari,  2018: 34).
Okky Madasari, penulis yang melejit namanya dengan ciri khas kritik sosial di dalam novelnya.  Karyanya banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman, menjadi salah satu penghargaan Khatulistiwa Litterary. Novel pertamanya Entrok,  86, Maryam,  Pasung Jiwa,  Kerumunan terakhir,  dan cerita pendek Yang Bertahan Yang Perlahan Binasa dan novel anak Mata di Tanah Melus.  Novel anak ini diklarifikan akan ada empat serial atau tetralogi, salah satunya "Mata dan Rahasia Gapi" menjadi serial kedua.  Novel anak tersebut dipersembahkan untuk anaknya dan seluruh anak di nusantara.
Mata dengan pertualangan magisnya menembus jawaban yang harusnya diterimanya dari orang dewasa. Dunia anak-anak adalah dunia mereka dengan segala hal tentang fantasi, imaji terbias jauh sekali. Tanpa bisa dicegah dan terus berkelana.
Novel ini sarat akan kritik pendidikan dan sosial.  Banyak sekali pesan moral yang bisa direkam.  Segala jejak-jejak dunia anakpun tidak mainstream.  Mengapa demikian?  Novel anak ini kompleks, berbobot tanpa meninggalkan dunia mereka (anak).
Tema pertulangan menjadi hal yang identik dan menarik sekaligus klise untuk terus menjadi hal yang selalu ingin ketahui. Karena anak lekat dengan dunia pertualangan yang bisa menjawab semua pertanyaan 'nyeleneh' ala anak-anak.
Tidak tanggung-tanggung,  plotnya rapi, enak sekali dibaca dan mengalir begitu saja.  Sudut pandang 'Mata' si tokoh utama cocok sekali untuk anak dengan rentang usia kurang dari 12 tahun,  remaja,  sampai orang tua.  Remaja dan orang tua bisa bernostalgia serta belajar darinya. Selain itu, setting tempat menjadi primadona dalam novel anak ini.  Mengambil  setting daerah Timor Indonesia. Ke khasan daerah  Belu,  NTT terekam jelas tanpa mengacuhkan budaya serta menguak sejarah yang tidak banyak orang tahu.
Kompleksitas novel ini tidak melepaskan kesan anak-anak dari covernya yang pas dan menarik.  Blur yang memenuhi tanda tanya, seketika terjawab setelah membacanya. Lebih menyenangkan lagi,  ada ilustrasi sehingga membantu pikiran berselancar di dunia imaji Mata dan kawan-kawannya.  Terakhir, ada sedikit salah ketik di beberapa halaman. Sekilas ada perasaan kurang pas dan menimbulkan "ini bahasa anak gak sih?", "kalo anak-anak paham gak ya isinya (moralnya)". Tetapi hal itu berhasil tertutupi dengan penceritaan progresif, serta mendidik tanpa pemaksaan.
Dunia anak adalah dunia utopis tanpa kehilangan realis. Semoga novel anak lokal ini menjadi salah satu perekat orang tua dan anak dalam ikatan bercerita. Anak butuh kebebasan berpikir sebelum terpeta-petakan oleh zaman. Skala 1-10. Novel anak "Mata di Tanah Melus" lulus meraih 9 bintang.
Mari menjaga keutuhan dunia anak dengan mengkonsumsi buku,  lagu,  tontonan yang khusus untuk anak.  Tidak lucu bukan,  ketika anak-anak dewasa sebelum waktunya?
Selamat membaca!
Selamat menyelami dunia anak-anak!

Judul    : Mata di Tanah Melus
Penulis: Okky Madasari
Terbit    : Jakarta, 2018
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Peresensi : Annisa, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Malang.

Berita Terkait