Balai Arkeologi Jogjakarta Turun ke Situs Sekaran


MALANG – Hingga hari terakhir ekskavasi, Kamis (21/3)  kemarin, tim Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim, belum dalam menentukan bentuk Situs Sekaran. Namun demikian, situs yang berada di Dusun Sekaran, Desa Sekarpuro diduga sangat besar. Lahan yang sudah sudah diekskavasi mencapai 25 meter x 25 meter persegi.  Bahkan untuk ekskavasi hari terakhir, tim BPCB juga meminta bantuan ekskavator untuk melakukan pembersihan maupun membuat jalan air. Sehingga saat hujan turun, situs tak terendam air.
”Selasa (19/3) lalu kami masih membuka lahan 23 x 23 meter persegi. Tapi hari ini sudah lebih luas lagi, dan kami menduga masih lebih luas lagi, baik ke arah utara, selatan maupun barat,’’ kata Arkeolog BPCB Jatim Wicaksono Dwi Nugroho.
Kendati demikian, Ucoy begitu Wicaksono Dwi Nugroho akrab dipanggil, mengatakan belum dapat mengidentifikasi bentuk situs tersebut. Termasuk, situs peninggalan zaman apa. Selama 10 hari sejak melakukan ekskavasi pada Selasa (12/3), banyak struktur, berupa batur (pondasi) bangunan ditemukan.
Bahkan sehari sebelum jadwal ekskavasi berakhir yaitu Rabu (20/3) lalu, tim BPCB menemukan struktur berupa deretan bata. Ini yang diduga merupakan pondasi dari dinding pembatas. Dinding pembatas ini ditemukan, dengan jarak 15 meter ke arah selatan dari struktur awal ditemukan.
Selain itu juga, ditemukan struktur berupa batu bata berbentuk kotak berukuran 4 x 4 meter di sebelah selatan struktur deretan bata. Diduga merupakan hunian atau ruangan yang dibangun dengan dinding dan atap berbahan organik.
Ucoy menyebutkan, jika sebelumnya pihaknya menduga situs ini berupa kompleks bangunan suci. Di mana dari awal struktur bangunan yang ditemukan, berupa tumpukan batu bata yang dimungkinkan menjadi pondasi dari Gapura Padukara. Dari gapura juga terdapat lorong pintu selebar 80 centimeter. Tak jauh dari lorong pintu tim juga menemukan pondasi dua bangunan, yang diduga menjadi tempat sakral, sebuah kompleks bangunan suci. Dugaan itu dikuatkan dengan tak banyak ditemukan fragmen di area tersebut.
”Mengacu pada zaman Hindu – Budha, dalam kompleks bangunan suci ada dua kategori bangunan. Yaitu bangunan profan dan sakral. Kami menduga, struktur yang kami temukan ini adalah bagian sakral, atau bagian dari kompleks bangunan suci. Karena minimnya fragmen, kami temukan,’’ urainya.
Dia menyebutkan, jika komplek bangunan suci di zaman Hindu-Budha itu dibuat pelataran depan dibuat lebih rendah, dibandingkan bangunan utama. Alumni Universitas Gajahmada, ini juga menyebutkan, jika struktur tersebut ditarik pada garis linier, maka menghadap ke timur laut, atau tepat berhadapan dengan Gunung Semeru dan membelakangi Gunung Kawi.
”Jika ini memang betul kompleks bangunan suci, maka kami juga belum tahu, struktur bangunan yang kami temukan itu di posisi mana? Apakah depan, tengah, selatan, utara, timur atau barat. Ini yang masih terus digali,’’ terang Ucoy.
Pria yang kesehariannya tinggal di Mojokerto ini mengajak Malang Post membayangkan bangunan suci di Bali atau komplek Puri Bali. Di sana berdiri beberapa bangunan dibatasi dengan dinding. Namun masing-masing ruangan itu tetap berhubungan dengan ruangan lain, dengan pintu berbentuk gapura padukara.
”Nah itu juga, gapura padukara yang ditemukan ini yang sebelah mana, kami masih belum tahu. Karena harus melakukan perluasan lagi, dengan waktu yang lebih panjang lagi,’’ kata Ucoy sembari menunjukkan sketsa bangunan Puri Bali.