Anggri Firdausi Suka Belajar Budaya


BATU - ANGGRI Firdausi sangat bangga ketika warga di kampungnya masih hidup gotong royong dan mempertahankan budaya. Mempertahankan hidup gotong royong dan mempertahankan budaya menjadi tantangan sangat sulit sekarang ini karena terpaan budaya asing yang terus masuk ke Indonesia, termasuk Kota Batu.
"Saya sangat senang tinggal ditempat dengan warga yang rukun, gotong royong dan mempertahankan budaya. Sebut saja budaya di desaku, setiap hari raya keagamaan, semua orang saling menghargai. Bahkan kalau Waisak, warga muslim dan nasrani berkunjung ke rumah mereka yang merayakan. Begitu juga sebaliknya. Hal itu bukan untuk mengikuti agama orang lain, tetapi salin menghormati dan memberikan ucapan selamat," ujar Bamin Dikyasa Satlantas Polres Batu ini.
Pada malam 17 Agustus, semua warga guyup rukun mengikuti malam tirakatan atau doa bersama. Uniknya, doa tidak hanya dilakukan menggunakan cara satu agama saja, melainkan lima agama. Itu karena dia merasakan pemeluk lima agama bisa hidup berdampingan dan terus berjalan di desanya. "Kami satu desa makan bersama dan melekan. Budaya seperti ini nampaknya jarang dilakukan dan kami bangga warga di kampungku tetap menjalankan," papar perempuan kelahiran Malang,  22 Januari 1996 ini.
Anggri tinggal di Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo Kota Batu. Dia juga tidak lupa pergi ke daerah dengan adat istiadat kental. Sebut saja Bali, Solo hingga Jogja adalah beberapa lokasi dengan warga memiliki budaya kuat. Warga tetap mempertahankan budaya asli, meski banyak datang wisatawan membawa budaya lain.   
"Saya selalu menyempatkan diri pergi ke tempat yang menawarkan budaya kental ketika libur kerja. Saya tidak hanya bermain dan bersenang-senang ketika berkunjung, tetapi belajar banyak kekayaan budaya," pungkasnya. (eri/feb)

Berita Lainnya :