Curhat di Medsos, yay or Nay?


Lain dulu, lain yang sekarang. Dulu orang untuk curhat menyampaikan isi hati melalui lisan dengan lawan bicara. Atau, cukup lewat goresan pena di dalam lembaran kertas bahkan diary. Memasuki era digital seperti sekarang ini, semakin banyak media untuk dijadikan wadah keluh kesah. Seperti menulis sesuatu melalui gadget, bakal lebih mudah disebarluaskan kepada orang dalam jumlah yang banyak. Apalagi didukungnya teknologi internet.
Menjadikan dunia digital atau medsos, sebagai wadah untuk mengungkapkan keluh kesah, dilakukan oleh genzier asal SMAN 1 Lawang. Yulitha Dheta Nwangsari, dara cantik yang mempunyai segudang prestasi di dunia teater ini mengaku nyaman-nyaman saja curhat melalui medos. Karena banyak benefit yang sudah ia rasakan sebelumnya. Dirinya juga berkelakar bahwa medsos tidak hanya untuk digunakan sekadar ngeksis, dengan mengunggah postingan-postingan yang ‘unfaedah’.
“Kalau kita curhat di medsos bisa sharing sih, terutama sama orang yang udah pernah ngelewatin masalah yang sama dengan yang kita alami, terus kita juga bisa tuker pendapat sama orang yang punya problem sama kayak kita. Medsos juga punya peran penting, karena disitu mereka bisa kasih kita semangat. Hal itu, yang membuat kita bangkit dari masalah itu,” jelas gadis yang biasa dipanggil Dheta ini.
Delegasi Kabupaten Malang dalam perlombaan teater di ajang Pekan Seni Pelajar 2017 ini mengaku sering menggunakan medsos untuk curhat tentang masalah ataupun pengalaman-pengalaman. “Aku lebih suka aplikasi Ask.fm sih hehe. Sebenernya itu bukan hanya curhat semata, tapi kita bisa bertanya-tanya kepada semua orang tentang masalah yang sedang dialami atau pengalaman yang menarik gitu. Terus kita bisa milih sesuka hati, mau anonym atau dikasih tau identitas namanya. recommended banget deh,” tandasnya.
Pendapat berbeda diungkapkan Cornelia Renata Jeniffer, Genzier SMPN 4 Malang. Ia mengaku tidak setuju untuk mengungkapkan keluh kesah melalui medsos. Karena memungkinkan untuk mendapat respon negatif atau tidak sesuai dengan harapan yang diinginkan. “Aku lebih ke kontra sih. Karena kalau curhat di online belum tentu solusinya bisa ngebantuin kita. Kadang banyak yang mengira itu lelucon, jadi bahan guyonan, bukannya jadi bangkit malah bikin down atau takut bersosialisasi kedepannya,” ungkapnya kepada kru genzi.
Cornel sapaan akrabnya, lebih suka mencurahkan isi hatinya kepada orang-orang terdekatnya. Karena memiliki  pengalaman pahit ketika curhat melalui medsos. Cornel pernah mengalami hal yang bikin kzl dalam hidupnya. Dirinya pernah curhat melalui jejaring sosial Facebook. Akhirnya banyak dari temen-temennya mengatahui permasalahan yang sedang ia alami. Bukan bantuan atau solusi yang didapat, dirinya malah mendapat ejekan dari teman-temannya. Sampai-sampai membuat dirinya malas untuk berangkat ke sekolah.
“Aku biasanya cerita ke mama atau sahabat deket aku kak. Soalnya kalau cerita sama mereka, pasti lebih tenang, terus udah percaya juga, solusinya juga udah pasti ngebantu hehe,” ujarnya sambil tersenyum.
Memang medsos telah menjadi kebutuhan pokok dalam gaya hidup anak muda. Ibarat sehari tak eksis di medsos, serasa belum makan nasi haha. Meski begitu, alangkah baiknya kita bijak menggunakan fitur-fiturnya. Supaya tidak membuat orang lain tidak nyaman atau merasa dirugikan. (*/oci)

Berita Terkait