Bahagianya Bawa Ponsel ke Sekolah


NGOMONGIN boleh atau gak bawa HP ke sekolah, pasti deh gak ada habisnya ya geng... Hmm, kalian termasuk yang setuju dijauhkan dari gadget atau gak sih Genzier. Dan sekolah kalian termasuk yang mana nih, melarang atau memperbolehkan? Dari survey yang dilakukan Genzi, dari 114 Genzier, sekitar 80 orang mengaku setuju dan sekitar 34 tidak setuju. Yang setuju alasannya, fitur-fitur canggih dalam gadget membuat belajar makin menyenangkan. Karena bisa memudahkan untuk berkarya dalam banyak hal. Adapun dampak negatifnya, karena muatan internet dalam gadget juga terkandung akun-akun atau konten negatif yang mengandung pornografi, diskriminasi, SARA dan kekerasan.
Genzier asal SMKN 1 Malang Kezia Rosilawati mengaku mendukung dengan adanya aturan yang memperbolehkan membawa gadget ketika berada di lingkungan sekolah. Karena ada banyak hal yang menjadi lebih sederhana  dan tidak ribet.
“Ketika pembelajaran di kelas menggunakan gadget, kegiatan semakin efektif. Karena tidak membutuhkan banyak buku untuk mencari bahan literatur dan tidak perlu membawa buku-buku kemana mana. Selain itu, menjadi lebih ingat untuk belajar, karena setiap saat selalu membawa gadget yang didalamnya terdapat bahan-bahan materi pembelajaran,” jelasnya saat diwawancarai oleh kru Genzi.
Dirinya menambahkan, gadget sendiri juga mempunyai banyak manfaat ketika dijadikan alat untuk kegiatan pembelajaran. Karena terdapat fitur-fitur yang bisa memudahkan ketika terdapat hambatan terkait mata pelajaran. Selain itu, visualisasi materi dalam bentuk digital, membuat dirinya tidak menjadi jenuh ketika belajar. Serta bisa selalu terkoneksi dengan banyak orang untuk saling sharing tentang kegiatan pembelajaran.
“Dengan gadget jadi tidak mudah bosan ketika belajar lewat layar digital, lalu dapat mencari informasi tentang materi belajar lewat berbagai sumber yang berada di internet. Adapun, kita juga dapat bertukar pikiran atau berdiskusi tentang materi pembelajaran dengan siswa-siswa yang lain,” tambahnya dengan tersenyum.
Tidak berbeda jauh, Nandya Rahma genzier asal Universitas Brawijaya ini mengaku mendukung dengan diperbolehkannya menggunakan gadget. Karena semakin mudah dari segi tempat maupun waktu. “Biar nggak perlu bawa bawa banyak buku paket yang besar-besar ke sekolah. Punggung juga nggak bungkuk, karena membawa beban yang berat. Jadi tetap sehat dan pintar. Ahahaha!,” ujarnya sambal tertawa.
Walaupun begitu. Menurutnya ketika sekolah memperbolehkan penggunaan gadget ketika di dalam kegiatan belajar mengajar. Jangan sampai malah membuat konsentrasi belajar menjadi hilang. Harus ada kesadaran dalam diri sendiri, untuk bijak menggunakan gadget ketika KBN. Karena harus saling menghargai antara keberadaan guru dan para murid di kelas.
“Mmm kalau menurutku tergantung kelas berapa. Kalo tingkat SD atauSMP itu masih nggak tau batesan pake gadget harus gimana. Akan tetapi kalau udah SMAyang bisa dikatakan dewasa,seharusnya bisa dalam mengontrol penggunaan gadget. Harus ada kesadaran diri masing-masing aja sih.Misalnya ada guru lagi menjelaskan, ya disimpan dulu, nanti pada saat guru mempersilahkan untuk membuka gadget untuk kepentingan pembelajaran baru disitu bisa pakai gadget,” katanya dengan nada serius.
Namun ada juga genzier yang gak setuju dengan penggunaan gadget ketika KBM. Salah satunya Anastasya Salsabila, genzier asal SMAN 10 Malang. Dirinya mengaku dapat terganggu dengan adanya gadget. Karena dapat menghancurkan konsentrasi secara tiba-tiba.
“Penggunaan gadget saat pembelajaran sama sekali nggak efektif, karena ganggu banget. Apalagi kalau ada notifikasi chat, pasti jadi nggak konsen lagi dong,” ungkapnya.
Betul juga sih, kalau sedang ngerjain tugas tapi lupa diri tenggelam dalam Netflix atau channel Youtube favorit...duh. Bisa gak kalian konsen belajar? .)(*/oci)

Berita Terkait