UIN Maliki Kukuhkan Para Penghafal Alquran



MALANG - Hai’ah Tahfizh Alquran (HTQ) UIN Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki Malang) sukses mengantarkan 85 mahasiswa dalam wisuda tahfidz, hari ini. Diantara wisudawan, 15 diantaranya lulus dalam kategori penghafal 30 juz.
“Bagi mahasiswa yang sudah diwisuda, ini menjadi motivasi untuk selalu menjaga kalamullah, agar hidup akan semakin barokah,” ujar Sekretaris HTQ UIN Maliki, Muhammad Hasyim MA kepada Malang Post.
Sebelumnya, ada 150 pendaftar yang melalui seleksi ketat untuk diwisuda periode ini. Namun, dari banyaknya peminat hanya 85 mahasiswa yang berhasil terpilih. HTQ UIN Maliki memang melakukan proses seleksi ketat demi menghasilkan penghafal yang berkualitas.
“Pada proses seleksi kategori penghafal 5-20 juz, mahasiswa akan melalui tes hafalan secara acak. Sedangkan untuk penghafal 25-30 juz sistemnya membaca dalam satu majelis dan diawasi pembina,” bebernya.  
Setiap tahun, hampir 500 pendaftar yang tergabung dalam HTQ. Tentu dalam menjadi penghafal Alquran akan menghadapi tantangan luar biasa yakni seleksi alam. Sehingga dari banyaknya pendaftar yang mengajukan diri bergabung, terhitung 200 mahasiswa yang aktif dan masuk dalam sekolah tahfidz.
“Tantangan dunia kampus berbeda dengan pesantren yang murni menghafal. Jika di UIN Maliki, mahasiswa juga padat dengan jadwal kuliah. Hal inilah yang melahirkan kedewasaan bagi mereka dalam mengatur waktu,” terang Hasyim.
Setelah diwisuda, mahasiswa penghafal Alquran akan mendapat sertifikat dan penghargaan dari kampus. Seperti wisuda saat ini, mahasiswa mendapatkan kitab tahfidz berbahasa Arab tiga jilid yang nantinya dapat dimanfaatkan. Selain itu, beasiswa tahfidz bagi mahasiswa UIN Maliki juga banyak diminati. Dengan kuota yang hampir 200 orang setiap tahun, mahasiswa harus mengikuti seleksi ketat dengan minimal hafal 10 juz.
“Mahasiswa yang mendapat beasiswa tahfidz akan mendapat bantuan UKT sebesar Rp 3 juta setiap semester,” tegasnya.
Begitu banyaknya jumlah penghafal Alquran di UIN Maliki, bahkan hal ini memotivasi Rektor Prof Dr Abdul Haris MAg untuk ikut menghafal. Bagi Haris, penghafal Alquran memiliki kelebihan daripada yang lain, terlebih mampu menjaga keasrian firman Allah.
“Saya bahkan termotivasi untuk menghafal Alquran setiap waktu. Selama ini, alasan klasik yakni waktu yang dinilai banyak orang menjadi halangan untuk menghafal Alquran,” tutup Haris. (ita/sir/oci)

Berita Lainnya :