Pelatihan Budidaya BSF yang Menjanjikan

 
MALANG - Produksi sampah organik rumah tangga yang mencapai 375 kg per bulan di Desa Sananrejo Kabupaten Malang disulap oleh lima mahasiswa UB yakni Umi Fadhilah, Muhammad ‘Abid, Savira Ananda Dwita, Nadhil Satria Ridwan Ramandha dan Riqqi Rahmaddian Putra Ramadhan menjadi sesuatu yang memberikan keuntungan. 
Limbah organik tersebut dimanfaatkan sebagai pakan larva dan bayi larva BSF, lalat dengan kandungan protein tinggi serta dijadikan alternatif pakan ternak alami oleh peternak unggas dan ikan.
Lima mahasiswa UB tersebut memberikan pelatihan budidaya BSF kepada 30 warga Desa Sananrejo untuk mengurangi jumlah sampah organik rumah tangga. BSF memiliki siklus dalam kandang kurang lebih selama satu bulan. Mulai fase telur, bayi larva, larva dewasa, prepupa, pupa, dan BSF.
"Sampah organik dimanfaatkan untuk pakan bayi larva dan larva dewasa. 1 kg larva bisa makan 1/2 kg sampah organik, setiap hari pemberian makan dilakukan sebanyak tiga kali," ujar salah satu anggota tim, Riqqi Rahmaddian Putra Ramadhan.
Adanya budidaya BSF ini bisa mengurangi 86,4 persen jumlah sampah setiap bulannya. Tim ini memberikan pelatihan penuh satu siklus hingga membantu hingga ke tahap pemasaran. Pengabdian masyarakat dilakukan sejak Maret lalu, hingga kini mereka telah beberapa kali panen.
Untuk membudidayakan BSF tim ini membutuhkan tiga jenis kandang yang berbeda yakni kandang lalat, kandang larva (biopond), serta satu kandang untuk penetasan dan rak kupasi. Dari kandang yang berukuran 1 hingga 2 meter tersebut produksi yang diperoleh sebesar 20 gram telur BSF, 40 kg larva, 40 kg prepupa dan 20 kg pupa.
"Hasil produksi tersebut kami jual kepada para peternak dengan harga bervariasi. Telur Rp 8 per gram, larva Rp 6 ribu per gram, prepupa Rp 30 ribu per kg, dan pupa Rp 80 ribu per kg," urai Riqqi. 
Peluang BSF untuk dijual ke pasar sangat tinggi lantaran kandungan proteinnya memiliki komposisi 40 persen yang dibutuhkan oleh unggas maupun beberapa jenis ikan. Terlebih di Malang permintaan akan BSF semakin meningkat. 
Muhammad ‘Abid menambahkan, di Malang yang menawarkan budidaya BSF masih terbatas, sehingga ini menjadi alternatif bagi warga desa Sananrejo untuk meningkatkan perekonomian sekaligus mengelola sampah organik secara tepat.
"Permintaan BSF semakin tinggi sehingga menjadi peluang di desa ini untuk terus dikembangkan. Dan hasil penjualan dari panen selama ini akan dipergunakan untuk memperbesar kandang dengan tujuan agar produksi mereka semakin bertambah," jelas 'Abid. 
Pengabdian masyarakat di Desa Sananrejo Kabupaten Malang melalui program pelatihan pengelolaan limbah baglog jamur dan sampah organik rumah tangga bertujuan untuk memanfaatkan potensi limbah, meningkatkan kualitas lingkungan serta kesejahteraan masyarakat. Lima mahasiswa UB ini berharap programnya bisa menjadi percontohan desa lainnya serta menjadi solusi permasalahan sampah di Indonesia.
"Jika sudah berjalan, kami optimis mereka memiliki peluang membuka lapangan kerja sehingga perekonomian masyarakat meningkat," tutupnya. (lin/lim)

Berita Lainnya :