Olah Limbah Baglog Jadi Kerajinan Bernilai Ekonomi

 
MALANG - Sampah organik rumah tangga dan limbah baglog budidaya jamur di Desa Sananrejo Kabupaten Malang berpotensi mencemari lingkungan lantaran jumlahnya mencapai ratusan kilo per bulannya. Tersedianya UKM jamur di desa ini sedikitnya menyumbang 200 kg limbah baglog setiap bulannya. Begitupun juga dengan limbah organik rumah tangga per bulannya mencapai 375 kg.
Permasalahan yang paling krusial adalah di Desa Sananrejo tidak tersedia Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sehingga mereka membuang limbah tersebut ke sungai dan lahan kosong. Latar belakang inilah yang menjadi perhatian khusus lima mahasiswa UB yakni Umi Fadhilah, Muhammad ‘Abid, Savira Ananda Dwita, Nadhil Satria Ridwan Ramandha dan Riqqi Rahmaddian Putra Ramadhan dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Pengabdian Masyarakat.
Pengabdian masyarakat di Desa Sananrejo Kabupaten Malang, mulai dari persiapan, perizinan, pembuatan modul, sosialisasi, pelatihan dan pendampingan ini turut dibantu oleh dosen pendamping Yusuf Hendrawan, STP.,M.App.Life.Sc.Ph.D dan Dewi Maya Maharani, STP.,M.Sc. Pengabdian ini dirangkum dalam judul ZEWASTO (Zero Waste Multiproduct): Peningkatan Ekonomi dari Limbah Baglog Desa Sananrejo Malang.
"ZEWASTO merupakan program terpadu yang menggandeng Karang Taruna dan PKK di Desa Sananrejo untuk mengoptimalkan pemanfaatan sampah organik dan limbah baglog di sana. Sasaran kami adalah 30 orang dari ibu-ibu PKK dan Karang Taruna," ujar Umi Fadhilah, salah satu anggota tim kepada Malang Post kemarin.
Dijelaskan Umi, sampah organik rumah tangga dimanfaatkan untuk pakan budidaya Black Soldier Fly (BSF) dan limbah baglog jamur diolah kembali menjadi karya kerajinan tangan yang bernilai ekonomi. Cara mengubah baglog yang berkomposisikan serbuk dan bekatul menjadi produk bernilai adalah dengan menghancurkannya terlebih dahulu.
Baglog yang sudah dihancurkan tersebut diayak hingga lembut kemudian dicampur dengan lem kayu serta diaduk hingga rata. Selanjutnya bahan yang telah jadi siap dicetak sesuai keinginan. Zewasto menawarkan empat jenis produk untuk dijual yakni gantungan kunci, topeng, pot dan vas bunga.
"Setelah dicetak kemudian dijemur hingga kering lalu dipasarkan. Ini yang kami sosialisasikan ke masyarakat sekaligus memberikan pelatihan langsung kepada mereka," jelas Umi.
Visi yang dibawa oleh tim ini kepada 30 warga Desa Sananrejo adalah bagaimana memanfaatkan limbah organik untuk dijadikan produk yang bermanfaat. Mengurangi jumlah limbah dengan memanfaatkannya seoptimal mungkin dan menawarkannya ke pasar.
Savira Ananda Dwita menambahkan, karya kerajinan ini lantas dipasarkan ke Masjid Tiban Turen sebagai salah satu oleh-oleh bagi para wisatawan. Harga yang ditawarkan berbeda-beda tergantung jenis dan ukuran produk.
"Gantungan kunci dijual dengan harga Rp 6 ribu hingga Rp 10 ribu, pot ukuran kecil Rp 8 ribu, pot ukuran besar Rp 15 ribu, topeng Rp 50 ribu dan vas bunga di kisaran Rp 25 ribu," urai Savira.
Keunggulan dari kerajinan ini adalah ramah lingkungan, produk kuat dan tidak mudah pecah serta harga terjangkau. Tim ini juga telah menguji kekuatan produk sehingga layak dipasarkan dan dijadikan oleh-oleh dari Kabupaten Malang.
Lebih lanjut, Savira menambahkan, pada awalnya pengabdian oleh tim ini tidak mendapat respon yang baik. Mereka harus meyakinkan terlebih dahulu, meningkatkan motivasi masyarakat bahwa mengolah limbah baglog bisa memberikan manfaat. Yaitu mengurangi jumlah sampah dan meningkatkan perekonomian lantaran memiliki potensi pasar yang tinggi.
"Pada awalnya mereka masih memiliki pemikiran sampah dibuang saja. Tetapi berkat pembinaan, pendampingan hingga ke pemasaran, masyarakat merasakan sendiri peluangnya. Apalagi harganya juga menjanjikan," tandasnya. (lin/lim)

Berita Lainnya :