Lewat Master Maba, Unisma Tanamkan Tiga Karakter Khas


MALANG - Universitas Islam Malang (Unisma) mengenalkan tiga karakter khasnya dalam agenda Masa tranformasi dan pengembangan karakter (Master Maba). Karakter khas Unisma yakni Ilmiah, Islami dan Keindonesiaan. Master maba merupakan agenda lanjutan setelah orientasi pengenalan kampus dan halaqoh diniyah yang dilaksanakan sebelumnya. Kegiatan ini dilakukan selama tiga minggu mulai, Rabu, (12/8), dengan pengelompokan tiga tim besar untuk penguatan tiga karakter.
“Sebagai perguruan tinggi yang memiliki spesifikasi islam, maba perlu mendapat transformasi agar dapat mendukung lingkungan yang standar islamiyah dan berkarakter keilmuan, keislaman dan keindonesiaan,” ujar Wakil Rektor II Unisma bagian Kemahasiswaan, Keagamaan, dan Publikasi, Dr Ir Badat Muwakid MP kepada Malang Post.
Program master maba di kampus hijau ini telah dibentuk sedemikan rupa dengan berbagai kegiatan untuk menunjang karakter cinta agama islam, ilmu pengetahuan, dan tanah air. Menurut Badat, kualitas pendidikan tak dapat dijalankan secara instan, maka kegiatan master maba tersusun selama satu semester penuh dengan target yang harus dicapai oleh masing-masing maba.
“Selama ini mindset universitas hanya terbatas sebagai tempat belajar. Namun lebih dari itu, lulusan Unisma harus berkarakter khas. Kita boleh pinter, tapi pengembangan ilmunya dalam koridor islami,” tegasnya.
Maba akan dikelompokkan dalam tiga kelompok besar dan didrill selama tiga minggu, mulai dari penugasan hingga kegiatan keagamaan. Dalam implementasinya, maba akan disalurkan melalui program kreativitas mahasiswa (PKM). Sehingga nantinya maba akan memiliki kemampuan menulis proposal dengan baik dan benar. Sebab, menumbuhkan ide pembuatan karya ilmiah sejak dini bagi mahasiswa juga tak mudah.
“Bahkan, maba juga ditargetkan mengumpulkan karya ilmiah yang nantinya akan dikirimkan untuk mengikuti PKM,” tutur Badat.
Dilanjutkan dengan pengembangan karakter cinta tanah air yang dilakukan melalui menggali potensi dan bakat minat mahasiswa. Tujuannya tak jauh-jauh, agar mahasiswa dapat mengisi pembangunan negara dengan prestasi yang dimilikinya. Sedangkan dalam menumbuhkan cinta agama yang dilakukan adalah penerapan kebiasaan ibadah mulai dari mengasah kemampuan mahasiswa dalam membaca dan memahami Alquran.
“Nanti juga ada kegiatan perenungan dengan mendorong mahasiswa menulis janji dan ikrar perubahan di atas kain putih yang kemudian dipasang pada semester akhir untuk evaluasi diri para mahasiswa,” tandasnya.
Dalam mencetak karakter maba tentu menghadapi berbagai macam tantangan. Terlebih dalam memulai pembiasaan khas Unisma kepada maba yang berasal dari berbagai daerah. Ada saja maba yang masih belum terbiasa, sehingga seluruh dosen tentu harus sabar dan tekun mengedukasinya.
“Unisma harus meletakkan dasar-dasar karakter kepada maba agar mampu membangun masyarakat ilmiah dan agamis serta cinta tanah air. Satu semester bukan waktu yang lama, tapi cukup singkat sebagai basic untuk mengembangkan kompetensi tersebut,” imbuh Rektor Unisma, Prof Dr Maskuri MSi selepas membuka master maba untuk tiga minggu kedepan itu. (ita/adv/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :