Berprestasi, Reyog Brawijaya Diundang ke Istana


 
MALANG – Berhasil menyabet piala presiden pada Festival Nasional Reyog Ponorogo XXV (6-10/8) di Semarang, reyog Brawijaya bersiap menampilkan performa kembali di istana presiden pada Februari 2019. Tentu, ini semua berkat 55 penari yang berhasil tampil memukau dan keluar sebagai juara umum setelah melawan 30 tim lainnya. 
Acara tahunan yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Ponorogo dengan nama Grebeg Suro 2018 berisi penampilan seni dan tradisi guna perwujudan pesta rakyat itu berlangsung di Panggung Utama Alun-Alun Ponorogo.
“Tentu perasaan campur aduk, mulai dari khawatir sekaligus deg-degan, karena kami membawa nama besar brawijaya dan berjuang demi almamater juga. Tapi semuanya dibalas tuntas dengan semangat, kekompakan, kebersamaan serta kekeluargaan yang erat,” ujar ketua Reyog Brawijaya, Afwan Hajar Rosyid kepada Malang Post.
Kerja keras tim terbayar dengan memborong penghargaan, diantaranya Penyaji Terbaik Ranking 1, Penata Musik Terbaik, dan Penata Tari Terbaik. Pencapaian itulah yang menjadikan reyog brawijaya sebagai juara umum.
Tahun lalu, reyog Brawijaya juga menjuarai kompetisi yang sama dengan menyabet posisi pertama. Untuk dapat membawa piala tetap, pada tahapan selanjutnya kami harus menjadi juara umum kembali. Sebab syaratnya harus menjadi juara umum tiga kali.
“Selain mempersiapkan diri untuk penampilan terbaik di istana, kami juga akan perform lagi ke Mexico,” tandas Afwan. 
Tak mengherankan jika reyog brawijaya kembali meraih hasil, sebab seluruh anggota mahasiswa dari berbagai jurusan ini telah menjalani waktu 200 hari sejak Januari untuk mempersiapkan kompetisi tersebut.
Pada Festival Nasional Reyog Ponorogo XXV 2018, tim mengemas performa dengan menginovasikan alur garap, komposisi pola lantai, musik dan kombinasi gerak. Selain penari, Reyog Brawijaya juga membawa tim produksi beranggotakan 25 mahasiswa.
“Sewaktu kompetisi, kami merasakan persaingan sengit karena banyak dimusuhi kontingen-kontingen lain,” ungkapnya.
Menurut Afwan dan tim, reyog begitu penting sebagai salah satu budaya yang harus dikembangkan dan dilestarikan. Bahkan, dia berharap reyog dapat diaplikasikan ke sekolah mulai TK hingga sarjana untuk dijadikan sebagai pelestari budaya. (ita/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :