Jokowi Butuh Banyak Negarawan

Oleh: Abdul Wahid
Pengajar Program Pascasarjana Universitas Islam Malang
dan pengurus AP-HTN/HAN

Menyaksikan sikap negarawan Prabowo Subianto saat  berangkulan dengan Joko Widodo, terasa ada suatu kerinduan publik, bagaimana jika semua elemen politik yang semula berbeda jalan atau berdiri di ranah friksi-friksi, belajar menerima yang berbeda atau menunjukkan dirinya sebagai negarawan.
Atmosfir damai dan hidup rukun antar kelompok yang berbeda merupakan atmosfir yang diidealisasikan harus membumi di negeri ini. Sehingga setiap elemen bangsa tidak kehabisan banyak enerji untuk melanjutkan pekerjaan dan menciptakan masa depannya.
Atmosfir di negara ini memang harus hidup progresif. Progresifitas hanya bisa diwujudkan oleh subyek bangsa yang berjiwa negarawan. Negarawan bukan hanya harus lahir dari kelompok pemenang pilpres, tapi yang kalah pun harus menyemaikan jiwa kenegarawanannya sebagai ”harga mati”.

Batas Aman Nikmati Sentuhan Magis Kopi

Oleh: Dr. D. Bagus Perdana
Dokter PKM Sumberpucung

Menikmati secangkir kopi kini sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban dalam beberapa tahun terakhir di negara kita. Alhasil, menyebabkan menjamurnya coffee shop  diseluruh dunia tak terkecuali di negara kita. Banyak orang menyeduh kopi di pagi hari dapat memberikan sentuhan magis untuk memulai aktifitas. Ada sebagian orang meminum kopi pada siang hari saat mereka rehat kerja yang bertujuan dapat memberikan suntikan semangat untuk dapat melanjutkan pekerjaannya. Tidak jarang kita jumpai di masyarakat meneguk secangkir kopi setelah makan malam adalah sebuah kenikmatan yang tidak tergantikan bagi kaum urban.
Aktifitas minum kopi atau yang sering kita sebut “Ngopi” sangat erat dengan kaum milenial di negara kita.

Refleksi dari Dialog Sang Juara

Hafidz, S.Pd.M.Pd.I
Dosen AIK UMM


Mau jadi juara dalam kehidupan ini? Belajarlah dari pengalaman keluarga Nabiyullah Ibrahim AS. Jika hidup diibaratkan sebuah perlombaan, maka beliau adalah pemain yang selalu memenangkan pertandingan. Bukan hanya menang dalam interaksi sosial, tetapi juga dalam menghadapi beratnya tekanan kehidupan. Pendek kata, beliau selalu berada pada posisi kelas atas. Artinya persoalan apapun mampu beliau atasi. Tidak heran jika Allah, melalui Rasulullah Muhammad SAW memasukkan beliau dalam kelompok ulul ‘azmi (orang yang mampu memikul beban berat kehidupan, sabar dalam menerimanya dan amanah dalam tugasnya).