Merawat Pemersatu Kebinekaan

 
Pada I Juni 1945 Ir. Soekarno dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) mendapatkan giliran menyampaikan gagasan tentang dasar negara dihadapan para anggota BPPUKI yang diketuai oleh Rajiman Widioningrat. 
Soekarno menyampaikann poin-poin pidatonya itu dalam lima prinsip yang dia beri nama Pancasila (lima dasar). Lima dasar yang disampaikan oleh soekarno secara urut adalah Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Perikemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, Ketuhanan yang Berkebudayaan (Yudi Latif: 2015).

Sikap Apatis Terhadap Kaidah Bahasa

Akhir-akhir ini, munculnya fenomena merosotnya komitmen masyarakat dari berbagai lapisan, terhadap etika kehidupan berbangsa dan bernegara, baik kaum akademisi maupun nonakademisi. Salah satu fenomena yang merosot yaitu penggunaan bahasa yang didukung oleh perangkat teknologi canggih. Bahasa Indonesia, bahasa yang tidak asing lagi tentunya bagi masyarakat Indonesia.
Akan tetapi, banyak kesalahan-kesalahan berbahasa yang terjadi di masyarakat yang sudah dilakukan sejak lama, sehingga sulit untuk dilepaskan. Misalnya  penggunaan Bahasa Indonesia ragam tulis yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa, salah satunya yaitu penggunaan ejaan dan tanda baca. Sehingga, penggunaan bahasa yang menyimpang dari kaidah Bahasa Indonesia menimbulkan sorotan besar dari berbagai elemen masyarakat.

Pendidikan Karakter Obati Kemunduran Moral Generasi

 
Akhir-akhir ini banyak sekali berita tentang sikap-sikap amoral yang dilakukan oleh siswa atau pelajar. Mulai dari tawuran, penganiayaan, pelecehan seksual, narkoba, dan lain sebagainya. Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian remaja, penyalahgunaan obat-obatan, dan pornografi. Maka bangsa Indonesia dapat dikatakan mengalami krisis multidimensional, pendidikan dituding gagal dalam menciptakan sumber daya manusia berkualitas. Banyak institusi pendidikan dinilai gagal memenuhi tujuan pendidikan.