Membangun MORAL Etika Akuntan dari Kampus

Oleh Isnan Murdiansyah,SE,MSA,Ak,CA
Dosen Akuntansi Fakultas Ekonomi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


Sedikitnya ada  dua tantangan bagi dunia akuntansi Indonesia dalam era millennial saat ini.  Pertama, pemberlakuan AEC (Asean Economic Community), konsekuensinya akuntan asing dari wilayah ASEAN bebas masuk Indonesia tanpa adanya hambatan. Kedua, Pemberlakuan full adoption IFRS (International Financial Reporting Standard). Khusus IFRS, banyak orang tidak tahu dampaknya terhadap sistem akuntansi dan pelaporan keuangan, salah satunya penggunaan estimasi dan “judgement”. Akibat karakteristik IFRS yang lebih berbasis principal based membuat Akuntan lebih banyak menggunakan “professional judgement” dalam menentukan bagaimana sebuah transaksi keuangan dicatat.

Dibalik Publikfigur Terjerat Narkoba

Oleh Filianti
Mmahasiswi Jurusan Manajemen Universitas Negeri Malang

Belum usai masyarakat dihebohkan dengan berita penangkapan komedian Nunung atas penggunaan narkoba jenis sabu-sabu di kediamannya, Selasa, 23 Juli 2019 masyarakat dibuat syok atas penangkapan aktor fenomenal Jefri Nichol pada siang hari. Pemeran tokoh Nathan dalam film Dear Nathan tersebut ditangkap atas dugaan penyalahgunaan narkoba jenis ganja.

Setiap tahun masyarakat Indonesia terus dihebohkan dengan berbagai berita penangkapan publik figur atas penggunaan obat-obatan terlarang, narkoba. Biasanya berita-berita seputar penggunaan narkoba oleh publik figur akan bertahan lama di berbagai pemberitaan. Hal tersebut semakin menguatkan pemikiran masyarakat bahwa glamornya kehidupan publik figur tak mesti dijalani dengan bahagia. Tidak jarang mereka mencari pelarian atas stress dan depresi yang menimpanya dengan mengonsumsi narkoba.

Berhentilah Kedepankan Klaim Kebenaran

Oleh Bambang Satriya,
Guru Besar Universitas Merdeka Malang dan penulis buku filsafat Pancasila

Rezim Joko Widodo jilid I mendapatkan beberapa kali ujian serius berkaitan dengan terorisme. Kasus yang paling sulit dilupakan oleh publik adalah peledakan dan “perang kota” yang diciptakan teroris di Jakarta dan Surabaya.
Kita memang menginginkan sebagai suatu ekspektasi, bahwa di rezim Jilid II ini nantinya tidak akan terulang lagi ulah keji teroris seperti di Rezim jilid I. Namun karena teroris itu merupakan bagian dari realitas sosial yang memilih jalan paradoksal, maka berbagia langkah pencegahan layak dilakukan.
Salah satu langkah yang bisa dikembangkan di era Jilid II  adalah melakukan sosialisasi edukatif tentang penghentian klaim kebenaran. Artinya teroris sukanya menggerakkan radikalitasnya dengan konstruksi logika, bahwa “hanya” doktrin agama atau ajarannyalah yang paling benar.