Sutiaji dan Olahraga

 
Ini adalah rekaman yang tersisa dari Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim di Banyuwangi, bulan Juni 2015. Kala itu, kontingen Kota Malang datang dengan mengusung semangat sebagai runner up di bawah Kota Surabaya. Tentu target yang dicanangkan kala itu adalah sesuatu yang realistis, tetap pada posisi kedua tapi dengan jumlah perolehan medali yang lebih banyak. Posisi kedua ini jadi incaran banyak daerah, karena rasanya sulit untuk menggeser Surabaya sebagai pemuncak.
Daerah seperti Kota Kediri, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Gresik dan Kabupaten Malang, bersaing ketat untuk menggeser posisi Kota Malang sebagai penghuni peringkat kedua. Aroma persaingan itu sudah mulai tampak saat masing-masing kontingen masuk ke Kota Gandrung tersebut. Diantara daerah-daerah tersebut, Kota Kediri termasuk yang paling agresif ingin menggusur Kota Malang.
Psy war antara dua kubu pun tak terhindarkan. Apalagi para ofisial kedua kontingen berada di hotel yang sama. Sejak hari pertama Porprov digelar, perolehan medali Kota Malang tampak seret. Sebaliknya, Kota Kediri justru terus melesat meninggalkan pesaingnya jauh di belakang. Wali kota Kediri Abdullah Abu Bakar yang sejak awal selalu setia mendampingi kontingennya, wajahnya selalu berbinar. Dia selalu menebar senyum di meja makan saat sarapan. 
Senyum kemenangan itu tentu ditujukan kepada rival utamanya, Kota Malang. Kebetulan, pada awal lomba, perolehan medali Kota Malang tersendat sehingga terlempar jauh di bawah klasemen. Kondisi ini membuat kontingen dan ofisial Kota Malang galau. Betapa tidak, sampai hari ketiga posisi perolehan medali masih belum beranjak. Sementara Kota Kediri terus melaju ditambah dengan ofisialnya yang agresif pamer keberhasilan. Wajar bila kontingen Kota Malang sempat ciut nyali, jangan-jangan Kota Kediri akan menyalip.
Saat gundah itulah hadir Wakil Wali Kota Sutijai. Kehadirannya menjadi pelecut untuk terus bersemangat meraih medali, sekaligus tidak risau menghadapi pesaingnya. Ketika bertemu dengan ofisial lain di meja sarapan, Wali Kota Kediri masih tetap jumawa bahwa timnya akan mengalahkan Kota Malang. Tapi Sutiaji tidak mau mengalah, dia yakin poisisi Kota Malang akan terus menanjak. Bahkan kala itu ada guyonan, dua pejabat itu sempat taruhan, siapa yang akan menjadi pemenang. Tentu saja itu  cuma candaan.
Akhirnya memang benar, para atlet Kota Malang terus mendulang medali (emas) dari berbagai venue. Suasana berbalik, kontingen Kota Kediri tidak lagi sumringar seperti pada awal even. Kota Malang terus melaju, Kota Kediri terus tertinggal  di belakang. Sampai Porprov berakhir, ambisi Kediri untuk mengalahkan Kota Malang tak terwujud.
Inilah kepedulian Sutiaji, yang kala itu menjadi wakil wali kota, terhadap olahraga di Kota Malang. Bukan hanya dalam prestasi, tapi juga dalam pemberian penghargaan kepada atlet yang telah menyumbangkan prestasi untuk kotanya. Salah satu reward untuk atlet berprestasi adalah kemudahan untuk diterima di sekolah negeri. Pihak KONI sudah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan untuk mengatur masalah ini. Tapi rupanya ada masalah administrasi sehingga ada beberapa atlet berprestasi tidak diterima di sekolah negeri.
Melihat kondisi ini Sutiaji langsung turun tangan memanggil Diknas dan KONI. Setelah masing-masing pihak berargumen, akhirnya masalahnya diambil alih Sutiaji. Hasilnya, semua atlet berprestasi bisa diterima di sekolah negeri. 
Kepedulian ini kita harapkan semakin tampak ketika Sutiaji menjadi orang nomor satu di Kota Malang. Diantaranya, dengan memberikan anggaran yang cukup untuk pembinaan olahraga. Tahun depan, para atlet Kota Malang akan kembali berlaga dalam Porprov VI di Lamongan, Gresik, Tuban dan Bojonegoro. Persiapan sudah dilakukan oleh masing-masing cabang olahraga. Mereka butuh amunisi agar bisa memenangkan pertandingan membawa nama besar Kota Malang.
Jer Basuki  Mowo Beo. Prestasi tidak bisa dicapai dengan cuma-cuma. Pemerintah daerah berkewajiban untuk menyediakan anggaran yang cukup bagi pembinaan prestasi olahraga di daerahnya. Sebagai orang yang memiliki kepedulian yang tinggi pada olahraga, Sutiaji tidak ingin prestasi Kota Malang dikejar oleh daerah lain. (*)
Catatan Husnun N Djuraid, redaktur senior Malang Post, mantan pimpinan kontingen Porprov Kota Malang 2015, mengajar di UMM

Berita Lainnya :

loading...