Spirit Menciptakan Sejarah

Ini sejarah. Baru pertama kali dilakukan. Malang Post terbit pada 1 Januari. Di usia 20 tahun. Selama ini, di tiap tanggal merah atau libur nasional, Malang Post tidak terbit. Namun mengawali 2019 kami membawa spirit baru untuk terbit nonstop. Setiap hari menyapa pembaca setia dengan berita-berita yang dicari dan ditulis serius oleh awak redaksi.
30 Desember kemarin lusa, di sela-sela persiapan menjadi host Refleksi Akhir Tahun Malam Puncak 99 Hari Kerja Wali Kota-Wakil Wali Kota Malang, saya melaporkan kepada Direktur Utama Malang Post, Bapak Juniarno D Purwanto. Sebuah pesan singkat, hanya satu kalimat pendek. Isinya: “Tanggal 1 kita terbit ya pak”.
Pesan singkat saya mendapat respon yang juga singkat. “Berani? Dan siap kah team?”. Karena saya yang mulai mengirimkan pesan laporan bernada pemberitahuan tersebut, tentu saja saya menjawab siap.

Aneh kan kalau saya jawab sebaliknya. Kecuali, pesan yang saya kirimkan itu saya tambahi tanda tanya (?) di akhir kalimat. Yang berarti saya bertanya, untuk meminta dan memohon petunjuk beliau.
Saat menulis catatan ini, saya kembali menelpon Dirut untuk menanyakan, apakah di periode-periode sebelumnya, di masa saya belum bergabung dengan Malang Post, korane arek Malang ini pernah terbit di hari pertama tahun baru. Jawabannya, tidak pernah. Maka itu saya menyebutkan langkah ini sebagai sejarah.
Menurut salah satu tokoh sejarah dan filosofi, William Henry Walsh, pengertian sejarah adalah pencatatan yang berarti dan penting bagi manusia. Walsh ini sudah almarhum. Dia dulu Profesor di University of Edinburgh Inggris.
Sejarah yang kami lakukan hari ini, tentu tidak bisa disamakan dengan materi dalam pelajaran sejarah. Meski ada satu kesamaan yang pasti, sejarah itu diciptakan oleh manusia. Kita lah yang menciptakan sejarah untuk diri kita masing-masing. Maka langkah hari ini adalah sejarah bagi kami di Malang Post, bagi dunia jurnalistik, dan terkhusus lagi bagi media cetak.
Selama beberapa tahun terakhir, isu senjakala media massa begitu kuat digaungkan. Saya dan teman-teman di Malang Post tidak menutup mata, pun tidak abai. Kami melihat kondisi itu, memahami perubahan zaman, dan melakukan sesuatu untuk menghadapinya. Kami tidak pasrah. Bukankah Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sampai kaum itu mengubah keadaan diri mereka sendiri? (Q.S 13:11).

Kami bergerak. Terus bergerak. Melangkah dengan pasti dan tentu diiringi keyakinan yang tinggi. Terbit perdana di tanggal 1 Januari ini memiliki makna bahwa seluruh awak Malang Post memiliki spirit super duper tinggi. Optimisme besar untuk tetap membawa dan menyajikan produk jurnalistik yang dibutuhkan oleh masyarakat, serta semangat untuk ikut membangun Malang Raya. Sebuah spirit yang menjadi landasan lahirnya Malang Post dulu.
Malang Post berkomitmen untuk tertit nonstop di 2019, kecuali dalam perayaan Hari Keagamaan.  Meski itu pun dengan catatan besar, produksi berita tetap dibuat seperti biasa. Yang bisa diakses masyarakat dan dibaca di portal www.malangpostonline.com. Jadi sebenarnya, kami memang benar-benar nonstop menyajikan berita. Tidak berhenti karena libur atau cuti bersama.

Berita Terkait