Momentum Aremania Lebih Terorganisir (2/habis)

 
Patut disyukuri, selama ini Aremania masih bisa terus eksis. Khususnya dalam hal dukung mendukung tim Singo Edan Arema. Bahkan ada istilah ‘no leader just together’. Ya, tanpa leader, puluhan ribu Aremania bisa memenuhi stadion. Kebersamaan mendukung tim Arema, menjadikan Aremania luar biasa, baik laga home maupun away. 
Meski juga tak bisa dipungkiri, Aremania datang dengan masing-masing atributnya. Bahkan kini muncul kelompok-kelompok kecil yang berusaha menunjukkan eksistensi mereka. Maklum, jika akhirnya ada yang menyebut Aremania tak kompak, meski jumlahnya besar. Sebut saja, ada satu nyanyian Aremania dari tribun timur yang ditentang banyak pihak. 
Selesai pertandingan, selesai pula ‘tugas’ Aremania.  Di luar jadwal pertandingan, Aremania seolah tidak ada. Tidak ada pengurus, tidak ada organisasi, tidak memiliki struktur pengurus. Keberadaan korwil juga terkesan formalitas belaka. Hanya untuk memudahkan penyebutan, tempat asal seorang Aremania. Untuk sebuah kepengurusan masih belum ada. 
Hubungan Aremania dengan tim Arema FC, rasanya tak lebih hanya untuk transaksi jual-beli tiket laga home Arema. Maklum saja, diluar itu, ada kesulitan untuk ‘memanggil’ Aremania. Kalau pun ada pertemuan, rasanya Aremania yang hadir, ya itu-itu juga. Sepertinya bukan representasi puluhan ribu Aremania di Malang Raya. Dan Aremania tak hanya di Malang.
Belajar dari  tragedi kematian suporter Persija di Bandung, yang kini menjadi tragedi nasional hingga kompetisi dihentikan, sudah saatnya Aremania harus lebih solid dan membungkus dirinya dalam sebuah wadah resmi. Ada keanggotaan yang jelas, ada program kegiatan, dan terpenting punya ikatan atau hubungan yang resmi dengan manajemen tim Arema. 
Tanpa harus menunggu kasus atau kejadian luar biasa yang nantinya membutuhkan organisasi Aremania. Hasil dialog tokoh sepakbola nasional dalam menyikapi tragedi Bandung, Ketua Umum PSSI, Eddy Ramayadi, telah mempertanyakan, siapa yang seharusnya membina suporter sepakbola di masing-masing klub ini? Lantaran PSSI tak punya wewenang membina.
Menurut PSSI, suporter seharusnya dibina oleh Pemerintah Daerah masing-masing bersama klubnya.  Seperti Jakmania, harusnya dibina oleh Pemerintah Jakarta, begitu juga suporter yang lain.  Khususnya Jakarta, relatif mudah mengelola ribuan Jakmania yang sudah terorganisir dengan baik. Sudah ada Ketua Umum Jakmania yang mengorganisir Jakamnia.
Pemerintah daerah dianggap paling paham kondisi suporter yang ada di daerahnya. Pembinaan suporter dinilai cukup urgent. Mengacu pada kasus kekerasan suporter, perlu ada edukasi pada mereka. Tidak hanya pembinaan pada saat pertandingan, namun terencana dan terprogram untuk membentuk suporter yang baik, di luar pertandingan juga. 
Nah, saat ada pembinaan suporter ini, misal di Malang Raya, maka Aremania yang mana bakal dibina? Siapa Aremania yang harus diedukasi? Apakah tetap orang-orang itu saja yang bakal mendapat jatah ‘undangan’. Kondisi ini yang harusnya dijawab oleh Aremania. Sehingga kelompok suporter yang pernah dapat predikat the best ini bisa lebih modern dan tidak liar. 

Berita Lainnya :