Momentum Aremania Jadi Suporter Modern (1)

 
Sepakbola Idonesia kembali terhenti. Ulah suporter jadi penyebabnya. Ya, kematian suporter Persija di kandang Persib, ‘memaksa’ pemerintah dalam hal ini Kemenpora melalui rekomendasi BOPI akhirnya menghentikan kompetisi Liga 1 2018 yang akan memasuki pekan ke-24. Gayung bersambut, PSSI pun menyetujui penghentian Liga yang dikelola PT Liga Indonesia Baru tersebut.
Bahkan melalui Ketua Umum PSSI, penghentian kompetisi sampai waktu yang belum ditentukan. Artinya belum diketahui, sampai kapan bergulir lagi. Bagi warga Malang, khususnya Aremania, penghentian sementara ini jadi sebuah penantian yang mendebarkan. Maklum, laga terdekat Arema adalah menjamu Persebaya, harusnya Minggu (30/9) depan ini.
Total 45 ribu lembar tiket telah terjual. Panpel Arema pun langsung meresponnya dengan mengeluarkan pengumuman bahwa pemesanan atau pembalian tiket tersebut masih terus berlaku hingga ada kepastian jadwal Singo Edan menjamu Bajul Ijo. Meski juga bisa saja, Aremania meminta uang tiket kembali, dengan tanpa jaminan bakal mendapat tiket lagi. 
Masih banyak efek lainnya, dari penghentian tersebut. Namun bukan itu yang menjadi poin pentingnya. Sembari menunggu keputusan PSSI untuk Persib dan suporternya, penting dari penghentian Liga ini adalah menjadi momentum instropeksi. Semua aspek di sepakbola Indonesia. Khususnya terkait suporter. Terlebih lagi, suporter tim Arema FC. Aremania. 
Kenapa Aremania? Perihal kasus pengeroyokan oleh suporter pada suporter di Bandung, nama Aremania sempat ikut disebut-sebut dalam forum diskusi. Meski tidak terlibat langsung, dan kebetulan saat away Arema FC ke Bandung, tak ada masalah dengan Aremania, namun Aremania disebut dalam kaitannya dalam perseturan dengan Persebaya. 
Ya, selain rivalitas Persib dan Persija dengan basis suporter cukup besar, ada Arema dan Persebaya yang punya resiko rusuh cukup tinggi. Apalagi dari empat tim ini, kelompok suporternya saling berkubu. Selama ini Aremania  dan Jakmania cukup bersahabat, sedangkan Bobotoh dikenal sejalan atau berkawan dengan Bonekmania. Kondisi ini masih ada sampai sekarang. 
Nah, ini bisa jadi kebetulan. Tepat Kejadian di Bandung, Minggu (23/9) lalu, sempat dikhawatirkan bakal berulang di Malang, satu minggu kemudian. Tepatnya Minggu (30/9) depan, jika kompetisi tak dihentikan. Pada laga home ini, Arema menjamu Persebaya. Bukan tidak mungkin ada provokasi balas dendam.
Meski bukan oleh Aremania, bisa jadi Jakmania garis keras yang beraksi. Atau bahkan bisa dilakukan para provokator yang sengaja ingin mencoreng kondusifitas di Malang. Semua kemungkinan bisa terjadi. Apalagi sebelumnya di medsos telah beredar, beberapa foto Bonekmania yang seolah memancing, bahwa mereka bisa masuk ke kandang Singo Edan.
Presiden Klub Arema FC, Rendra Kresna yang coba meyakinkan bahwa Aremania adalah tuan rumah yang baik, dan tidak mungkin berbuat anarkis, tetap saja tidak ada garansi. Puluhan ribu Aremania, tak ada satu pun yang bisa mengendalikan. Aremania selama ini adalah individu-individu bebas yang tidak memiliki struktur organisasi dan tanpa pimpinan.
Adanya korwil, mungkin hanya tinggal nama saja. Tidak jelas keanggotaan dan struktur organisasinya. Korwil disebut-sebut tak lebih hanya bertugas untuk mendistribusikan tiket home Arema. Ada juga komunitas Aremania, yang lahir menurut kelompok mereka masing-masing. Komunitas ini juga seolah bergerak sendiri, sesuai keinginan mereka.
Terpecah-pecah. Cukup banyak. Baik di Malang Raya maupun di luar Malang. Kebanyakan yang di luar malang menyebut dengan Arema (Arek Malang) sesuai daerahnya. Seperti Arema Dewata, Arema Papua, Arema Borneo dan yang lainnya. Mereka berdiri sendiri, sebagai kelompok Arek Malang yang merantau ke daerah lain. Mereka ada sebelum Aremania itu ada.
Tidak ada yang menyatukan mereka. Khususnya Aremania di Malang Raya. Kenyataan ini telah berlangsung cukup lama. Jalan tanpa organisasi resmi, tanpa struktur, tanpa presiden atau tanpa sosok pemimpin. Bisa dipahami, Aremania yang pernah mendapat predikat the best supporter, tak ingin berada dalam ikatan resmi, tak ingin ada pimpinan tertinggi. 
Itulah yang membuat Aremania sulit ‘dicari’. Bahkan untuk kebutuhan resmi, misal undangan Kapolda atau Kepala Daerah. Siapa Aremania yang diundang? Kalau pun ada yang datang, Aremania yang mana? Aremania ada, tanpa wadah. Aremania kini seperti dalam persimpangan, mengikuti tren suporter modern yang teroragnisir secara rapi atau tetap seperti ini. (*/bersambung)
Catatan wartaran Malang Post: Buari

Berita Lainnya :