Menjadi Santri Penjaga Negeri


Hiruk pikuk peringatan Hari Santri Nasional 2018 sudah terdengar mulai beberapa pekan lalu. Berbagai kegiatan yang ada hubungannya dengan santri banyak dihelat oleh berbagai institusi di berbagai daerah. Sungguh saat ini kita merasakan betul berkah ijtihad Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari saat menggelolarakan jihad melawan kolonialisme. Kini, Hari Santri Nasional tak ubahnya hari raya ketiga bagi kaum santri.
Tentu menjadi santri zaman now tak semudah santri zaman sepuluh atau dua puluh tahun lalu. Terlalu banyak problematika kehidupan yang mau tak mau, suka tak suka bisa menganggu kekhusukan seorang santri dalam hal tholabul ilmi.
Pun demikian, menjadi santri era milenial tak juga hanya teridentifikasi dengan sarung, kopyah, baju koko dan segenap atribusi khas santri lain. Kendatipun demikian, uniform yang sudah menjadi trade mark santri itu tak juga harus hapus hanya karena jargon modernitas. Karena hal itu - melengkapi budaya tidur di gotha’an dan ngliwet - yang masih kuat menarik santri pada arah wirai dan zuhud. Tentu dengan pemaknaan ulang seperlunya sesuai dengan realitas kekinian.
Menurut hemat penulis, ada beberapa identitifikasi santri yang memang secara turun temurun diwariskan dalam setiap santrikendatipun penyampaiannya jauh dari teori doktrinasi. Yang pertama, santri dan patriotism. Mungkin titel ini agak berlebihan menurut sebagaian diantara kita. Namun begitulah adanya. Jika kita melihat bagaimana Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, betapa ‘undangan’ perang fi sabilillah yang dikumandangkan Hadratus Syaikh ibarat peluit dimulainya patriotism game. Sebuah rasanasionalisme yang sudah mendarah daging dalam diri santri seperti ditekan tombol ‘on’. Padahal kehilangan nyawa hampir ‘pasti’ di depan mata - melihat bambu runcing ala suwuk sembur para kyai harus berhadapan dengan meriam tentara kolonial-  namun itu tak mebuat ribuan kaum sarungan ini lantas mengangkat bendera putih.
Bagi mereka saat itu, hubbul wathan minal imanbukanlah slogan kosong namun menuntut keseriusan dalam aksi walau itu harus pulang tinggal nama. Rasa itu kini tetap sama. Hampir diseluruh pesantren dengan metodologi kuno selalu diajarkan menghormati pemerintah dengan segala kebijakannya.  Karena bagi santri dawuhnyaKH Hasyim Asy’ari yang menyatakan ‘Agama dan Nasionalisme dua kutub yang tidak berseberangan. Nasionalisme adalah bagian dari agama dan keduanya saling menguatkan’ hingga kini tetap relevan.
Jikapun harus mengingatkan tetap harus dalam koridor bil hikmah, wal mauidlatul hasanah. Bahkan jika terpaksa dengan upaya lebih keras tetap dengan wajadilhum biha ahsan alias adu argument dengan santun dan tanpa merendahkan.

Berita Lainnya :