Menang Berkat Vlog Pak Kiai

 
‘’Tiga…sah, tiga..sah.’’ Suara itu menggema sepanjang penghitungan suara di TPS 33 Kelurahan Bunulrejo. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada sambutan antusias. Semua yang hadir menyambut dengan dingin keunggulan pasangan nomor 3 dalam Pilwali Kota Malang kali. Bahkan ketika penghitungan ditutup, tidak ada yang bergembira. ‘’Pilkada tidak seru, sudah bisa ditebak siapa pemenangnya,’’ kata seorang petugas TPS usai penghitungan suara.
Pasangan nomor 3 adalah Sutiaji dan Sofyan Edi Jarwoko yang memenangi Pilwali Kota Malang. Sebagian pemilih maklum bila Sutiaji – Edi mengungguli dua calon lain. ‘’Mesti ae menang Mas, pasangan nomor satu dan nomor dua sama-sama di tahanan KPK,’’ ujar seorang pemilih.
Pasangan nomor 3 ini diibaratkan ketiban pulung, karena pada awalnya sama sekali tidak diunggulkan. Blessing in disguise, bak mendapat durian runtuh, ketika dua pesaingnya, Yaqud Ananda Gudband dan Moch Anton menjadi tersangka korupsi di KPK. Peta kekuatan politik berubah drastis setelah tragedy Tsunami Politik di Kota Malang tersebut. Masyarakat yang awalnya sangat berharap pada petahana Moch Anton, berubah haluan. Siapa lagi yang dipilih.
 Rupanya sebagian besar masyarakat masih mengedepankan akal sehat, mereka tidak mau memilih calon yang terkena kasus korupsi.  Memang secara resmi penghitungan belum dilakukan oleh KPU, tapi dari pengamatan di lapangan tampaknya mimpi Sutiaji untuk menjadi orang nomor satu di Kota Malang akan terwujud.
Banyak faktor yang menjadi penyebab kemenangan kontestan Pilkada. Salah satunya adalah model kampanye yeng tersebar di dunia maya. Sutiaji beruntung karena dia punya model iklan yang sangat hebat yang memiliki banyak pengikut. Ucapannya benar-benar menjadi panutan masyarakat untuk memilih.
Bebebarapa hari menjelang coblosan, beredar video ‘’tausiyah’’ KH Marzuki  Mustamar, pengasuh Ponpes Sabilurrasyad, Gasek Kota Malang. Video itu tidak panjang, tapi cukup ampuh sebagai alat kampanye. Memang dalam video itu Yai Marzuki tidak secara gamblang mengajak masyarakat untuk memilih Sutiaji. Dia hanya mengatakan, pentingnya menjalin hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhannya dan dengan sesama manusia. Jangan terlalu mementingkan urusan dunia. 
‘’Yang nomor satu itu hablum minallah (hubungan dengan Allah) dan yang nomor dua hablum minannas (hubungan baik dengan sesama manusia). Untuk pemilihan wali kota, cukup nomor tiga saja,’’ katanya.
Ucapan itu adalah plesetan politik tingkat tinggi. Bagi orang awam, dianggap normatif saja, bahwa hubungan dengan Allah harus menjadi nomor satu baru kemudian hubungan baik dengan sesama manusia. Setelah itu baru masalah keduniaan, termasuk diantaranya urusan pemilihan wali kota. Urusan politik jangan sampai mengalahkan hubungan dengan Allah dan hubungan sesama manusia.
Tapi ungkapan itu tidak cukup hanya dimaknai secara harfiah. Ada muatan politis di dalamnya untuk mendukung salah satu calon. Bahwa untuk yang pertama dan kedua, memang seharusnya itulah yang harus dilakukan oleh manusia yang beragama. Tapi ketika menginjak nomor tiga, maka tafsir politik bisa dimainkan. Pesan yang tersirat adalah, untuk Pilwal Kota Malang pilihlah nomor tiga. Sebuah pesan politis religius yang cerdas. Vlog itu menjadi viral di kota Malang beberapa hari menjelang coblosan.
 Ini berbeda dengan kampanye politik yang dilakukan oleh kebanyakan kiai yang langsung menyebut nama untuk dipilih. Pesan langsung dan terkesan vulgar ini justru bisa menjadi bumerang, baik bagi calon maupun yang mengampanyekan. Rupanya pesan politik dari seorang kiai perlu diberi kemasan komunikasi yang canggih. Tidak langsung menyebut nama, tapi langsung mengenai sasaran. 
Kalai Kiai Marzuki menyampaikan pesan untuk mendukung pasangan nomor 3 sebenarnya wajar. Sebagai tokoh panutan di Kota Malang, dia perlu memberi panduan kepada masyarakat agar memilih pemimpin yang baik. Hubungan Kiai Marzuki dengan Sutiaji sudah tidak diragukan lagi karena keduanya sama-sama dari kalangan Nahdiyin, baik secara kultural maupun structural. Kiai Marzuki adalah wakil Syuriah NU Jatim. 
Ketika Pilwali 2014, Kiai Marzuki begitu semangat mengampanyekan pasangan Anton – Sutiaji yang merepresentasikan NU. ‘’Sudah waktunya NU memimpin Kota Malang,’’ katanya ketika itu. Meskipun dalam perjalanan terjadi dinamika politik, tapi rupanya dukungan kepada kader NU untuk memimpin Kota Malang tak pernah kendur.
Sutiaji yang dulunya wakil wali kota, kini dia bersiap untuk menjadi wali kota menggantikan Moch Anton, pasangannya terdahulu. Dalam kampanyenya dia tidak banyak menebar janji, karena kerap berkampanye secara diam-diam menghindari kerumunan. Setumpuk PR sudah menunggu untuk diselesaikan. Masyarakat menunggu ada aksi nyata untuk menjadikan kota ini lebih baik. Bukan sekadar slogan tapi kerja nyata.(*)
Catatan Husnun N Djuraid, redaktur senior Malang Post, mengajar di UMM 

Berita Terkait

Berita Lainnya :