Memahami Kata Keberuntungan


Oleh Komisaris WHN Prof Dr Waego Hadi Nugroho

Kita baru saja disuguhi dengan kejadian yang mengharukan sekaligus membahagiakan seluruh bangsa Indonesia. Lalu M. Zohri menjuarai lomba lari di Finlandia. Lahir dari keluarga kurang mampu, dengan segala keterbatasan ekonomi, Zohri mendapat keberuntungan yang sangat menakjubkan. Penulis menggaris bawahi kata keberuntungan bukan kebetulan.
Memahami kata keberuntungan, tidak lepas dari pemanfaatan peluang. Lalu M. Zohri yang semula ingin menjadi pemain sepakbola, dengan segala pertimbangannya kemudian mengubah keinginannya menjadi atlet lari. Artinya dia tahu memanfaatkan peluang yang lebih besar dengan menjadi atlet dibandingkan menjadi pemain sepakbola.
Orang bijak mengatakan, terdapat tiga kelompok manusia yaitu Kelompok manusia yang bodoh, yang melakukan hal sama berulang-ulang, tetapi mengharapkan hasil berbeda dan tidak dapat memanfaatkan peluang yang ada, kelompok orang pandai yang dapat memanfaatkan peluang, dan kelompok orang bijak yang bisa memanfaatkan bukan hanya peluang, tetapi juga menciptakan peluang baru. Dalam melihat orang yang pandai memanfaatkan peluang, terdapat juga dua kelompok manusia, yaitu kelompok oportunis yang pandai memanfaatkan peluang demi kepentingan dia sendiri dengan mengorbankan kepentingan orang lain, dan kelompok adventure yang bisa menciptakan peluang baru dan dapat memotivasi orang lain.
  Dilihat dari menang dan kalah, manusia juga bisa dikelompokkan menjadi kelompok orang bodoh yang selalu kalah dalam berbagai hal, kelompok orang pandai yang bisa mengalahkan orang bodoh. Orang licik seringkali dapat mengalahkan orang pandai tetapi tidak bisa mengalahkan orang beruntung.
Pemaknaan kata keberuntungan dan peluang kebanyakan orang berpendapat hanya datang sekali dalam kehidupan seseorang. Namun demikian keberuntungan dan peluang itu datangnya bisa berkali-kali khususnya bagi orang yang hidupnya mulia. Sebaliknya bagi orang  yang hidupnya tidak mulia, kegagalanlah yang datang berkali-kali dalam kehidupannya. Maka marilah kita berlomba-lomba menjadi orang mulia dengan perilaku: jujur, ikhlas, rendah hati, sabar, banyak berbagi dan murah senyum serta banyak bersyukur.
Pada sosok Lalu M Zohri, kita bisa melihat tanda-tanda termasuk orang yang mulia dengan perilaku salat, tidak pernah putus asa, rendah hati, suka berbagi dan selalu bersyukur.
Bicara tentang kejujuran, janganlah kejujuran menjadikan tujuan hidup. Justru kasih dan sayanglah yang menentukan kita berbuat jujur. Berjalanlah di jalur kasih dan sayang dan kamu akan berada di jalur kejujuran dengan sendirinya. Perilaku jujur akan membawa kita melakukan semua ibadah dengan tulus, ikhlas dan sabar.
Sifat ikhlas dapat mengubah atau mendatangkan kekuatan rohani yang luar biasa yaitu, kekuatan yang terpancar dari ketulusan makhluk hidup. Manusia yang berperilaku ikhlas telah terbebas dari keinginannya untuk melihat dunia dan semua ibadahnya semata-mata ditujukan kepada ALLAH SWT. Ibadah yang dilakukan dengan tulus dan ikhlas ibaratnya sebagai bahasa yang dapat dilihat orang buta dan didengar oleh orang tuli.
Orang yang rendah hati tidak mempunyai sikap sombong. Latihan yang terbaik untuk menghilangkan rasa sombong yaitu melayani orang dengan tulus dan ikhlas. Dengan melayani orang lain kita berarti menghargai orang lain dan diri kita sendiri. Firman ALLAH SWT berbunyi barangsiapa yang berbuat kebaikan keuntungannya akan kembali kedirinya sendiri. (As-Sajadah 32-46)
Dari firman ALLAH SWT tentang salat dan sabar.
“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada – Nya.”
(Al-Baqarah [2] : 45 – 46)
Pepatah jawa mengatakan “wong urip iku kudu biso nguripi wong liyan (orang hidup itu harus bisa menghidupu orang lain)”. Dengan kata lain orang yang baik dari semua sisi kehidupannya adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain baik jasmani maupun rohaninya. Firman ALLAH SWT (Ali-Imron :92) “Bahwa kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebaktian (yang Sempurna sebelum menafkahkan  hartamu yang terbaik)”.
 Berbagi merupakan tindakan berkorban dan memberi serta melayani orang lain. Berbagi yang dilandasi dengan ketulusan dan keikhlasan akan menghasilkan daya spritual. Pada tingkatan spritual yang tinggi, manusia yang bisa berbagi dengan Sang Pencipta dengan banyak menyebut nama-nama ALLAH SWT, dan melakukan segala tindakan yang menyerupai nama-nama tersebut akan mempunyai kemampuan batin hampir mirip dengan sifat-sifat Sang Pencipta.
Berbagi kebahagiaan yang paling sederhana dengan orang lain adalah tersenyum. Kita dapat mengubah keyakinan orang dan menguasai hati mereka hanya dengan tersenyum dan kosakata yang lembut. Maha Suci ALLAH yang menjadikan senyuman sebagai ibadah dan kita mendapatkan pahala hanya dengan senyuman. Jika engkau tidak menemukan orang tersenyum kepadamu maka senyumlah kepadanya. Jika bibirmu terbuka karena tersenyum, terbuka pulalah bibirnya karena senyuman.
Mengucapkan syukur merupakan tanda-tanda kebergantungan seseorang kepada Sang Pencipta. Mengucapkan syukur menunjukkan kerendahan hati yang patut kita terima. Bahkan bersyukur sendiri merupakan parameter kadar spiritual manusia dalam beribadah kepada Sang Pencipta. Bersyukur pada saat kita menerima apa yang kita inginkan, kebaikan maupun kesejahteraan merupakan hal yang wajar. Namun mensyukuri apa yang tidak kita terima menurut kita semestinya diterima, merupakan usaha tersendiri yang mulia untuk bersyukur.
Mukjizat dan pertolongan Sang Pencipta selalu datang tidak terduga namun selalu datang tidak terlalu cepat dan terlalu lambat. Manusia sendirilah yang terkadang dan bahkan sering mempersepsikannya berbeda-beda. Ada kalanya, kita tidak menyadari bahwa hidup ini memang sering menghadirkan kebetulan-kebetulan misterius. Kita sering tidak tahu bahwa Tuhan hadir dalam kebetulan-kebetulan yang misterius.
Dalam surat Al-Baqarah: 152 “ Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku”. Demikian pula dalam surat Ibrahim:7 “ Dan ingatlah juga, tatkala Tuhanmu memaklumkan: ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (*)

Berita Terkait

Berita Lainnya :