Kebangkitan Komunis Bukan Isapan Jempol


Oleh : Ir. Agoes Soerjanto
BAHAYA laten komunis  menandai kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) di tanah air bukanlah isapan jempol belaka. Berbagai peristiwa sejarah membuktikan,   paham komunisme  sampai sekarang masih eksis di tengah masyarakat. Sehingga kita  harus selalu waspada dan jangan terjebak dengan berbagai manipulasi dan fitnah yang dilakukan PKI. Termasuk melalui penerbitan  buku dan berbagai atribut PKI sebagai bentuk  propaganda  dalam upaya membangkitkan kembali PKI.
Diamankannya ratusan judul buku  berpaham komunis  di Pare Kediri baru-baru ini, semakin membuktikan,  bahaya laten  komunis selalu tetap ada  dan menuntut kita semua  jangan sampai lengah. Terlebih, sesuai  Ketetapan (TAP) MPRS Nomor 25 tahun 1966,paham komunisme di Indonesia sudah secara  resmi dilarang. Oleh sebab itu, segala hal yang berbau paham komunis  termasuk penyebaran melalui buku-buku, merupakan hal terlarang.
Sebagai anak kandung dari TNI dan Polri, kami dari PD XIII GM FKPPI Jawa Timur  menilai tindakan aparat keamanan mengamankan ratusan judul buku beraliran kiri tersebut sudah tepat. Sekaligus merespons keresahan masyarakat luas atas beredarnya buku-buku berpaham komunis tersebut.
Selanjutnya,kewajiban dari aparat keamanan bekerjasama dengan kejaksaan  melakukan penyelidikan dan pendalaman serta melaksanakan pembuktian di pengadilan.
Apakah  peredaran ratusan buku  berpaham komunis tersebut berkaitan dengan tahun politik di mana beberapa bulan lagi bangsa Indonesia segera melaksanakan pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) secara serentak untuk kali pertama? Benarkah ada pihak tertentu sengaja  melaksanakan beragam ‘’goyangan’’ secara sistematis jelang pesta demokrasi bagi bangsa Indonesia pada bulan April 2019 mendatang?
Kami  tidak mau gegabah atas pertanyaan tersebut. Tapi, selama beberapa waktu terakhir kita dapat bersama-sama menyaksikan begitu masifnya upaya-upaya dari pihak  tertentu, untuk membenturkan sesama anak bangsa.
Termasuk dengan membenturkan masalah keagamaan, kesukuan dan lain-lain yang sangat berpotensi merobek-robek  persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan sesanti Bhinneka Tunggal Ika (Berbeda beda tetapi tetap satu jua) yang  kali pertama diungkapkan Mpu Tantular, seorang pujangga dari Kerajaan Majapahit  sekitar tahun 1350 - 1389.

Berita Terkait