Tantangan dan Peluang Wali Kota Malang

 
Kota Malang akan segera memiliki pemimpin baru. Dalam waktu dekat, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Malang periode 2018-2023 yang terpilih, Sutiaji & Sofyan Edi, akan segera dilantik. Sebelum resmi dilantik, keduanya telah disambut dengan banyaknya pekerjaan rumah (PR) yang harus segera diselesaikan untuk membangun Kota Malang. PR tersebut bisa menjadi tantangan sekaligus peluang bagi estafet kepemimpinan di Kota Malang.  Akan menjadi tantangan serius jika ternyata pemimpin Kota Malang gagal melanjutkan program yang sudah sukses, serta gagal melakukan inovasi program baru untuk hal-hal yang sebelumnya kurang berjalan baik. Namun, justru akan menjadi peluang jika mampu menghasilkan karya dan bersinergi dengan segala potensi yang ada.
Tantangan dan peluang yang pertama, datang dari sektor pendidikan. Meskipun Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Malang cukup tinggi, bahkan diatas rata-rata Jawa Timur dan Nasional, namun masih ada beberapa PR dari sektor pendidikan yang harus dibenahi. Dari data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), dimana pada tahun 2017 lalu, IPM Kota Malang berada di angka 80,65, atau jauh diatas Jawa Timur (70,27) dan Indonesia (70,81). IPM digunakan untuk mengukur kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di suatu wilayah, sehingga data dari BPS tersebut menjadi tolok ukur bahwa kualitas SDM di Kota Malang sangat tinggi.
Meskipun SDM di Kota Malang tergolong berkualitas, namun persebarannya bisa jadi tidak merata. Hal itu minimal bisa kita lihat dari kesenjangan kualitas antara PTN dan PTS di Kota Malang. Sebagai Kota Pendidikan, konsentrasi dan persebaran mahasiswa di Kota Malang banyak terpusat di 3 PTN besar, yakni Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM) dan UIN Maulana Malik Ibrahim. Tak banyak mahasiswa yang tertarik untuk menimba ilmu di beberapa PTS di Kota Malang, sehingga hal ini juga akan berdampak pada kualitas PTS itu sendiri. Padahal menurut hemat saya, seyogyanya ada simbiosis mutualisme antara PTN dan PTS di Kota Malang.
Simbiosis mutualisme antara PTN dengan PTS di Kota Malang bisa diupayakan dengan saling bertukar tenaga pendidik, terutama Guru Besar. Pemkot juga bisa memberikan fasilitas bantuan beasiswa bagi dosen-dosen PTS untuk bisa studi lanjut jenjang doktor di PTN. Dan dalam kesempatan lain, Pemkot bisa bekerjasama dengan PTN dan PTS di Kota Malang untuk sama-sama membangun Kota Malang melalui bantuan tenaga ahli dari masing-masing PTN dan PTS.
Upaya-upaya tersebut terdengar cukup sederhana, namun bisa memangkas ksenjangan kualitas antara PTN dan PTS di Kota Malang, yang pada akhirnya akan menjadi pemerataan SDM di Kota Malang. SDM berkualitas sangat jelas dibutuhkan untuk membangun sebuah wilayah, terutama bagi wilayah urban seperti Kota Malang.
Kemudian yang kedua, tantangan dan peluang dari sektor kesehatan. Pemkot Malang perlu membuat perataan pelayanan kesehatan berbasis Rumah Sakit Daerah. Jika dicermati, keberadaan RSUD Kota Malang di daerah Gadang, belum terlalu dilirik oleh warga Kota Malang. Pelayanan kesehatan terlalu menumpuk di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA).

Berita Lainnya :