Taman Ki Ageng Gribig

 
JUDUL di atas semoga saja sesuai dengan kegiatan pekerjaan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Malang yang membangun median taman di jalan raya Ki Ageng Gribig. Berada di kelurahan Madyopuro Kecamatan Kedungkandang. Median taman ini berada diantara jalan kembar yang sudah dibangun terlebih dahulu sekitar dua tahun yang lalu.  Sejak sebulan terakhir, taman sepanjang kurang lebih 700 meter ini, tampak mulai digarap. Ini berarti, median Taman Ki Ageng Gribig akan membentang di sepanjang wilayah RW non Perumnas, yaitu RW II, RW III, RW IV, dan RW V Kelurahan Madyopuro. 
Tentu, warga masyarakat setempat menyambut dengan antusias dan bergembira dengan di bangunnya median taman di depan Kampungnya. Belum lagi nanti, ketika exit jalan Tol Malang - Pandaan (Mapan) berfungsi secara penuh. Sehingga semakin ramailah kawasan Madyopuro dan sekitarnya.
Menurut informasi yang beredar,  taman ini memiliki konsep  akulturasi yang cantik dan Islami. Layaknya taman di negara Islam, yaitu Turki. Konsep ini, sengaja digunakan untuk menyesuaikan dengan kearifan lokal yang dimiliki oleh warga masyarakat setempat. Yaitu konsep Kampung Gribig Religi dan keberadaan Masjid Ki Ageng Gribig. Lalu kemudian,  oleh warga yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), kedua ikon ini dianggap berpotensi menjadi destinasi wisata religi, terintegrasi dengan komplek pesarean Ki Ageng Gribig. Beragam ornamen dan pernak – pernik taman yang Islami ini, ditargetkan sudah bisa dinikmati oleh masyarakat, maupun wisatawan sebelum akhir tahun 2018.
Dengan dibangunnya median Taman Ki Ageng Gribig, bagi warga setempat bisa jadi sebagai pemacu dan pemicu, bahwa, apapun latar belakang warga, pada prinsipnya selalu menginginkan kemajuan. Prinsip berkemajuan itu, ada tiga faktor. Pertama, yakin bahwa yang diperbuat oleh warga ada nilai kemanusiaan dan kebaikan. Kedua, tahu caranya, bagaimana meyakinkan warga demi kemajuan tersebut. Ketiga, Harus ada kebersamaan antar warga masyarakat itu sendiri. Bila Taman ini betul – betul dinamakan Taman Ki Ageng Gribig, maka semakin lengkaplah kearifan lokal dan potensi pariwisata yang dimiliki oleh warga Kampung Gribig.
 Bagi masyarakat Malang Raya maupun luar Malang Raya selaku penyuka wisata religi, tentu sudah tidak asing lagi kalau memasuki Kampung Gribig. Jujugannya pasti komplek pesarean Ki Ageng Gribig. Komplek pesarean inilah yang menyimpan potensi pariwisata sejak adanya Sarasehan “Bedah Sejarah Ki Ageng Gribig Menuju Kampung Wisata Religi” pada 19 Nopember 2017.  Sekarang, dengan adanya Taman Ki Ageng Gribig, diharapkan muncul ide-ide segar dari warga setempat supaya ada konektivitas antara Taman Ki Ageng Gribig, Masjid Ki Ageng Gribig, dan di dalamnya termasuk juga komplek pesarean Ki Ageng Gribig.
Lalu siapakah sosok Ki Ageng Gribig itu ? Mengapa komplek pesareannya dijadikan destinasi wisata religi di Kota Malang ? Setidaknya ada dua alasan : Pertama, dari sisi sejarah, kisah tentang sosok Ki Ageng Gribig menarik untuk diulas, karena terdapat beberapa versi tentang sosok Ki Ageng Gribig. Ada versi yang menyebut, bahwa Ki Ageng Gribig adalah cucu dari Sunan Giri.  Tapi ada juga versi yang menyebutkan bahwa Ki Ageng Gribig adalah salah satu murid kesayangan dari Sunan Kalijaga yang ditugaskan berdakwah di wilayah Malang. 

Berita Lainnya :