Perang Dagang AS Vs China Bagi Indonesia

 
Dunia perdagangan  global Indonesia terhenyak. Pasalnya, beredar informasi yang terungkap dari Ketua Tim Ahli Wakil Presiden Sofjan Wanandi, bawasannya Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyampaikan warning buat Indonesia. Trump berencana mencabut perlakuan khusus terhadap Indonesia di bidang perdagangan. Itu artinya, negeri ini harus berhati-hati terkait hubungan dagang antar kedua negara. Lalu apakah warning yang diberikan Trump akan membahayakan ekonomi Indonesia? Melalui tulisan ini, penulis ingin mengkaji lebih mendalam.
 
Dampak perang dagang 
Perang dagang bisa semakin memanas jika Presiden AS Donald Trump benar-benar mengenakan tarif tambahan USD 500 miliar terhadap produk China. Sekarang, kita tinggal menunggu keputusan Trump selanjutnya. Ancaman perang dagang sebenarnya menjadi warning  bagi Indonesia. Apalagi, dengan kecenderungan gejala perang dagang sebagai upaya konsolidasi kekuatan aliansi ekonomi global seperti kelonggaran kebijakan tarif Trump untuk negara-negara aliansi dengan AS, maka Indonesia dengan posisi politik bebas aktif tidak akan masuk dalam skenario "negara pengecualian". 
Kondisi yang demikian tentu saja tidak menguntungkan baik bagi ekonomi global maupun ekonomi Indonesia. Bagi ekonomi global, di tengah gejala tak menentu yang serba ambigu dan kompleks serta kecenderungan global mengalami stagnasi sekuler (secular stagnation ), perang dagang jelas bukan kabar baik bagi perbaikan ekonomi global. Bagi Indonesia, kabar perang dagang meski secara langsung tidak mempunyai pengaruh, tetapi itu membawa kekhawatiran bahwa barang yang tidak lagi bisa masuk ke pasar AS akan membanjiri pasar di negara-negara berkembang. 
Di sisi lain, perang dagang juga akan memengaruhi ekspor Indonesia di mana pasar ekspor Indonesia masih tetap menggantungkan diri pada pasar tradisional yang sebagian besar merupakan negara maju.  Adapun negara yang berpotensi perang dagang, misalnya saja, Taiwan, Korea Selatan, serta negara di Asia Tenggara seperti Singapura dan Malaysia adalah negara-negara yang bergantung pada ekspor. Ketika perdagangan global dalam ancaman, maka ekonomi mereka akan sangat rentan. Tidak ada jeda apa pun untuk Malaysia, Singapura, Korea Selatan, dan Taiwan dalam skenario yang berisiko berkelanjutan.
Pertumbuhan ekonomi Singapura bisa terpangkas 0,8 persen apabila terjadi perang dagang. Hal ini jika ada tarif 15 persen - 25 persen  pada semua produk yang diperdagangkan AS dan China. Adapun pertumbuhan di Singapura diperkirakan tumbuh 3 persen pada tahun ini. Sementara itu, pertumbuhan di Taiwan dan Malaysia diperkirakan masing-masing 2,8 persen  dan 5 persen, atau turun 0,6 persen. Korea Selatan sendiri dapat kehilangan angka pertumbuhan ekonomi 0,4 persen dari perkiraan 2,9 persen.
Melihat situasi yang demikian, tentu saja tidak menguntungkan baik bagi ekonomi global maupun ekonomi Indonesia. Bagi ekonomi global, di tengah gejala tak menentu yang serba ambigu dan kompleks serta kecenderungan global mengalami stagnasi sekuler (secular stagnation ), perang dagang jelas bukan kabar baik bagi perbaikan ekonomi global.

Berita Lainnya :