Pelajar yang Tidak Sadar Berkorupsi

Koruptor atau pelaku korupsi memang selalu menjadi perbincangan hangat dari masa ke masa. Kata korupsi berasal dari bahasa Latin corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok adalah tindakan pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, serta pihak lain yang terlibat dalam tindakan itu yang secara tidak wajar dan tidak legal, menyalahgunakan kepercayaan publik yang dikuasakan kepada mereka untuk mendapatkan keuntungan sepihak.
Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia tindakan koruptor “korupsi” diartikan sebagai tindakan penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dan sebagainya) untuk kepentingan pribadi atau orang lain. Bentuk tindakan korupsi tidak hanya berbentuk materi saja, tapi juga korupsi waktu, yaitu menyalah gunakan waktu kepentingan pribadi.
Melihat dari pengertian korupsi tersebut tentunya sangat mudah untuk menjadi seorang koruptor tanpa harus menjadi seorang pejabat publik atau pengusaha, orang kecil pun sangat bisa menjadi koruptor, karena dalam pengertian tersebut ada kalimat “serta pihak lain yang terlibat”. Keterlibatan pihak lain sangat beragam. Misalnya, meskipun tidak ikut melakukan tindakan korupsi tapi mengetahui kalau ada pelaku korupsi dan mau menerima uang sebagai penutup mulut dari pelaku maka orang tersebut juga bisa dikatagorikan koruptor. Sebab, secara tidak langsung orang tersebut membiarkan negara mengalami kerugian, dan kerugian tersebut tentunya akan berimbas pada semua warga negara terutama rakyat kecil yang tidak berdosa.
Banyak  perbuatan korupsi yang sering dilakukan oleh orang biasa (bukan pejabat atau pengusaha). Namun, tidak terekspos media sehingga tidak banyak orang tahu, yang tahu hanya orang-orang terdekat, itu pun kalau tahu. Padahal meskipun korupsinya kecil tapi kalau yang melakukannya sampai puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang, itu bukan korupsi kecil lagi tapi sangat besar. Karena korupsinya dilakukan secara berjamaah.

Korupsi di Kalangan Pelajar
Kasus korupsi juga menjangkit kalangan pelajar, di kalangan pelajar biasanya sering terjadi jika ada beasiswa. Banyak sekali pelajar bahkan menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Meskipun pelajar tersebut tidak pantas untuk mendapatkannya tapi demi uang akhirnya memantaskan diri. Contoh pelajar yang melakukan tindakan korupsi dengan mengaku menjadi orang miskin saat ada beasiswa bagi pelajar miskin.
Banyak yang tidak malu mengaku miskin meskipun sebenarnya orang kaya. Ada yang membuat stempel sendiri atas nama kelurahan atau desa masing-masing agar dirinya diakui sebagai orang miskin, sehingga mudah mendapatkan beasiswa yang tidak pantas untuk dirinya. Perbuatan ini jelas sebuah tindakan korupsi. Sebab jika pelajar tersebut tidak mengajukan diri sebagai penerima beasiswa, beasiswa tersebut mungkin jatuh ke orang yang lebih tepat. Karena banyak orang yang seharusnya menjadi penerima beasiswa tapi malah gagal ditahap seleksi.
Ada berbagai alasan yang penulis ketahui kenapa mengajukan beasiswa miskin. Diantaranya, “Dari pada dimakan koruptor” dan “Yang kaya orang tua saya, saya kan masih belum”. Menurut penulis, jelas kedua alasan tersebut tidak bisa diterima. Alasan yang pertama, koruptor bukan spesies atau nama mutlak sebuah benda. Tapi koruptor adalah sebutan bagi orang yang melakukan korupsi. Jadi pelajar dalam kasus tersebut berubah menjadi koruptor juga. Sebab, jika tidak menjadi penerima beasiswa miskin, uang negara tersebut bisa dialihkan ke hal-hal yang lebih penting bagi negeri ini.
Alasan yang kedua tetap tidak bisa diterima selama pelajar tersebut masih dalam tanggungan orang tua yang sangat siap dan mampu untuk membiayainya. Sebab, masih banyak orang tua yang tidak mampu bahkan membanting tulang untuk membiayai anaknya dan inilah yang lebih tepat untuk mendapatkan beasiswa miskin. Bisa jadi orang tua tersebut sangat ingin menyekolahkan anaknya meskipun dengan biaya yang terbatas.  

Koruptor  Mantan Pelajar
Kasus korupsi di kalangan pelajar tersebut hanya sebagian kecil dari kasus yang terjadi di kalangan pelajar, masih banyak kasus-kasus lain. Sangat menyedihkan sekali melihat kaum terpelajar sudah berani melakukan tindakan korupsi meskipun itu skalanya kecil. Karena bukan tidak mungkin setelah lulus dan ditakdirkan menjadi pejabat akan melakukan tindakan korupsi yang lebih besar bahkan sangat besar dengan alasan yang dibuat-buat. Maka tidak heran jika saat ini para koruptor berasal dari kaum terpelajar, karena kemungkinan saat menjadi pelajar sudah melakukan tindakan korupsi kecil yang dianggap sepele. Lama kelamaan karena sudah menganggap sepele hal kecil akhirnya menjadi kebisaan dan beranjak pada korupsi yang lebih besar.
Miris sekali memang menerima kenyataan banyak korupsi yang melibatkan mantan pelajar di negara ini. Padahal para koruptor tersebut hampir semuanya lulusan dari pendidikan tinggi bahkan ada yang bergelar doktor. Namun, ilmu yang didapat tidak mampu membendung godaan untuk melakukan tindakan yang merugikan rakyat. Ilmu yang didapatkan selama bertahun-tahun di bangku pelajar sampai bangku kuliah hanya tersimpan di otak tidak sampai ke hati. Sebab, jika orang memiliki hati tidak akan tega melakukan tindakan korupsi kare jelas-jelas sangat merugikan semua kalangan.
 Bahkan lebih miris lagi, sudah sering terdengar berita korupsi terjadi di berbagai perguruan tinggi yang dilakukan oleh pejabat kampus. Jika pejabat kampusnya atau dosennya saja korupsi maka tidak heran jika mahasiswanya atau lulusannya ada yang korupsi, ibaratkan pribahasa “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Yang pasti kejelekan seorang guru seharusnya tidak diikuti oleh siswa atau mahasiswanya.
Lembaga pendidikan mulai dari tingkat yang paling bawah sampai paling atas seharusnya pihak yang paling bersih dari tindakan korupsi, mulai dari pelajarnya, gurunya, dan staffnya. Karena lembaga pendidikan didirikan untuk mendidikan anak bangsa untuk menjadi lebih baik bukan hanya dari segi keilmuwan tapi juga dari spiritual dan emosional. Sehingga mengorbitkan lulusan yang tidak hanya pandai dalam segi keilmuwan tapi juga spritual dan emosional. (*)

Oleh : Sihabuddin
Dosen Prodi Ilmu Komunikasi UMM

Berita Lainnya :