Negara Dalam Dialog Socrates

 
Negara dipilari oleh setidaknya tiga kekuatan, yang ketiganya ini menjadi indikator untuk menilai  kuat atau lemah dirinya (Negara), keropos atau kokohnya, bermartabat atau jatuh marwahnya, bisa memberi yang terbaik atau memberi yang terburuk pada rakyat, dan lainnya. Ketiga kekuatan itu berada dalam ranah eksekutif, legislatif, dan yudikatif.  
Pada ketiganya ini, perjalanan rezim ditentukan. Ketika keadilan di Negara ini misalnya menjadi hak yang terasa mahal untuk dinikmati rakyat atau pencari keadilan, maka ini artinya di ranah yudikatif, sistem peradilan yang “memberikan yang terbaik” dan benar untuk rakyat belum terwujud.
Faktanya, salah satu fakta yang membuat Negara ini dipersalahkan oleh public atau dipertanyakan kehadiran kesejatian fungsionalitasnya untuk rakyat adalah akibat belum maksimalnya kinerja elemen peradilan sesuai dengan konstruksi sistem peradilan yang berlandaskan etik profetis.
Filosof kenamaan yang sudah banyak dijadikan acuan kalangan peminat atau pembelajar dunia filsafat dan hukum adalah Socrates. Bahkan  Socrates termasuk guru dari para filosof kenamaan.  Bersumber dari Socrates itu, banyak hikmah kehidupan yang bisa kita peroleh.
 Seperti dalam kasus dialog Socrates dengan muridnya berikut: “wahai guruku,  karena engkau bukan golongan orang yang bersalah atau melakukan pelanggaran, maka aku akan mengeluarkanmu dari tahanan,” demikian pernyataan muridnya yang bernama Creto.
“Dengan cara apa kamu akan mengeluarkanku dari tahanan?” tanya Socrates, yang tentu saja penasaran dengan sikap dan tindakan yang cukup berani yang ditunjukkan muridnya. “Aku akan memberikan sejumlah uang kepada petugas tahanan supaya mengeluarkan atau membebaskan engkau secara diam-diam”,  jelas Creto kepada gurunya. 
Kreto ini termasuk murid yang sukses  menjadi pedagang dan hartawan, sehingga baginya menjinakkan petugas dengan sejumlah uang tidaklah masalah. Tentu saja Socrates kaget karena muridnya akan menempuh atau menggunakan cara-cara melanggar hukum. 
Socrates merasa tidak pernah mengajarkan cara demikian kepada muridnya.  Selama menjadi guru, Socrates mengajari murid-muridnya tentang keharusan menjunjung tinggi hokum dan selalu menegakkan keadilan dimana-mana, dan tidak mengajarkan segala cara bisa digunakan, meski cara ini berorientasi menegakkan hak dan kebenaran. 
Akhirnya Socrates bertitah pada muridnya “aku tidak mau kaum bebaskan atau bela dengan cara demikian. Cara demikian justru akan melecehkan kewibawaan hukum. Bagaimana jadinya wajah hukum di kemudian hari jika setiap orang menempuh cara melanggar untuk mewujudkan apa yang diinginkan. Kebenaran dan keadilan tidaklah boleh ditegakkan dengan cara yang salah dan melanggar hukum”.

Berita Lainnya :