Move On Pasca Pilkada



Pilkada serentak resmi telah usai, beragam quick count dan real count pun sudah ramai tersiar di masyarakat. Lambat laun, pilkada serentak pun kini tinggal  menunggu hari untuk menanti sang pemenang secara resmi melalui KPU di daerahnya masing-masing. Setelah itu, menunggu dilantik untuk resmi ditetapkan sebagai kepala daerah selanjutnya. Saat masa kampanye masih berlangsung, sebagian masyarakat terbagi soal mendukung para pasangan calonnya masing-masing. Persaingan pun seolah menjadi tak bisa dihindarkan. Dari mulai isu kampanye hitam, berita hoax hingga konflik antar pendukung mungkin menjadi fenomena yang sering kita lihat di lapangan maupun dalam sosial media.
Ironis memang, padahal bila kita cermati kembali tujuan awal kampanye dalam pilkada adalah pengenalan calon dan penyampaian ide gagasan, yang seharusnya dihiasi dengan adu gagasan dan visi-misi serta seharusnya dinikmati dengan kedamaian oleh seluruh lapisan masyarakat.
Tak berhenti sampai di situ, setelah masa kampanye usai hari pencoblosan pun tiba, dan ternyata tak kalah panasnya dengan masa kampanye pilkada. Semua pendukung pun beramai-ramai menjalankan strateginya. Sehingga kadang tak jarang ada saja oknum yang melakukan serangan fajar dengan pembagian sembako ataupun melalukan money politics  di hari H pencoblosan.  
Selain itu, semangat daripada pendukung dan tim sukses pun tak kalah seru untuk disimak. Dari mulai mengamankan suara, hingga tak jarang saling klaim kemenangan versi quick count tim pemenangannya masing-masing.
Namun pilkada yang merupakan kontestasi dalam politik pun tentunya memiliki akhir. Sehingga sudah seharusnya ketegangan antar pendukung, permusuhan, konflik dan sebagainya sudah seharusnya selesai dan berakhir. Pilkada boleh membuat kita sempat saling berbeda. Dari mulai sekadar berbeda dalam nomer urut, warna atribut hingga kadang gagasan pun berbeda.
Namun tentunya dalam perbedaan selalu ada titik persamaan. Titik persamaan itu ketika semua masyarakat sama-sama mengharapkan kemajuan. Tentunya kemajuan dari pemimpin pilihan yang akan menciptakan perubahan dan membawa pada kesejahteraan. Sehingga untuk membangun itu semua maka dibutuhkanlah kedewasaan pasca pilkada oleh seluruh masyarakat.
Membangun kedewasaan setelah pilkada memang bukanlah persoalan mudah. Kedewasaan setelah pilkada haruslah diikuti oleh semua pihak. Sebab setelah pilkada berakhir bukanlah lagi persoalan tentang mereka yang berbeda ide, pendapat, pemikiran dan berjuang di kubu yang berbeda.
Melainkan bagaimana membuang ego dan dendam serta membulatkan tekad dalam rangka membangun daerahnya ke arah yang lebih baik. Kedewasaan tersebut tentu haruslah diperlihatkan dan dibuktikan. Kedewasaan para pasangan calon dan yang lainnya tentu akan telihat indah ketika mereka semua tak lagi saling “memukul”, melainkan mereka saling merangkul dalam membangun dan mewujudkankan cita-cita seluruh warga di daerahnya. 
Ada beberapa alasan kuat mengapa kedewasaan setelah pilkada berakhir ini perlu dibangun dan ditumbuhkan oleh semua pihak. Tentu kita semua masih mengingat persaingan yang ketat antara masing-masing para pasangan calon dan pendukungnya dalam momen pilkada kemarin.

Berita Lainnya :