Menjadi Diri Sendiri dengan Memberangus Kebencian



HAMPIR di setiap kegiatan diklat atau pelatihan motivasi yang muncul adalah kemauan menambah dan mengasah khasanah keilmuan  agar menjadi lebih baik dan terampil. Jarang kita menemukan jawaban ideal, setelah mengikuti kegiatan semacam ini, lalu menginstrospeksi diri untuk menjadi diri sendiri agar lebih dewasa dalam bersikap.
Menjadi diri sendiri agar lebih paham atas kekurangan, menjadi diri untuk paham atas kelebihan, menjadi diri untuk tidak iri atas kelebihan dan kekurangan orang lain. Atau menjadi diri untuk bersikap tidak mengoreksi, tidak mencari, dan tidak menilai kemampuan orang lain.
Sadar diri, bahwa belum tentu kita mampu menjalankan pekerjaan dengan baik kalau kita   diberi amanah untuk menjalankan kegiatan yang sama. Bisa jadi nilai 'idealis' yang kita punya saat masih belum berkuasa akan tergerus dan ikut larut dalam keterpurukan yang lebih dalam. 
Banyak contoh  bisa kita jadikan ibrah  dari sosok-sosok pilihan yang di penilaian awal mereka terlihat meyakinkan dan seolah menjadi orang 'suci'. Tetapi setelah mendapat amanah dan posisi menggiurkan ternyata malah khianat, setelah menduduki jabatan bertambah rakus, dan sikap koruptifnya malah lebih parah dari orang yang digantikan.
Belajar dari beragam kisah dan pengalaman sudah saatnya kita sadar diri. Sudah saatnya kita mawas diri dan merenung diri. Jangan umbar ungkapan dan menuruti nafsu dan jiwa serakah dalam diri, percayakan dan bersandarlah kepada Ilahi atas kekurangan dan kemampuan yang kita miliki. Jangan paksakan diri dari sosok ideal yang sudah ada dalam diri ini kalau mental dan jiwa tidak mampu. 
Ukur kualitas diri, hingga mampu menjadi diri sendiri. Tidak selalu menjauhkan diri dari beragam gebyar dunia yang semakin komplek. Tetap bergabung dan bergaul dengan siapa saja apa adanya, tanpa memberikan penilaian terhadap orang lain secara berlebihan. Berilah kritik sewajarnya.
Termasuk penilaian orang lain kepada kita, tetap menerima semua keluhan dan curahan hati orang lain. Menerima saran dan kritik dari pihak manapun termasuk komunitas yang ada dalam kehidupan keseharian kita.
Sandarkan diri kepada Ilahi, bila kita benar-benar mendapat berkah dan menerima amanah menjadi seorang pemimpin atau menempati kedudukan setingkat lebih tinggi. Hilangkan sifat “adigang - adigung - adiguno” dan pupuk sifat rendah hati, selalu terbuka dalam menjalankan amanah.
Alangkah eloknya perjalanan hidup kita di dunia bila semua bersandar pada jalan Ilahi dan kembalikan semua amanah atas nurani yang ada di diri sendiri. Tolak dan hindari posisi dan jabatan kalau itu bertentangan dengan jati diri kita. Tanggalkan jabatan dan posisi yang kita emban kalau itu tidak sesuai dengan hati nurani dan kemampuan diri sendiri.
Jangan serakah dan sok memiliki kemampuan dengan beragam alasan. Kita dipercaya, kita dberi amanah, dan kita menjadi orang terpilih, ini semua adalah semu dan sementara. Jadilah diri sendiri dengan keunikan yang kita miliki. Jangan paksakan diri karena ungkapan ‘mumpung’ ada kesempatan dan akhirnya menganggap orang lain tidak mampu.

Berita Lainnya :