Mengalahkan "Islam Darah"


Jangan segan untuk mengulurkan tangan Anda. Tetapi, jangan juga segan untuk menjabat tangan orang lain yang datang pada Anda (Pope John XXIII). Pesan ini sejatinya meminta pada setiap elemen bangsa di muka bumi untuk membangun sikap atau perilaku ramah antar sesama manusia, dan bukan perilaku yang gampang menunjukkan permusuhan atau pertumpahan darah.
Jika ada seseorang dengan sejumlah orang lainnya berbeda, maka harus dibangun silaturahim untuk mewujudkan bangunan kesatuan dalam keragaman yang saling memahami dan menerima dengan kerelaan dan lapang dada, dan bukan dengan berlomba membsungkan dada.
Apa yang dipesan Pope John itu juga mengisyaratkan, bahwa seseorang harus aktif mencari orang lain untuk diajak membangun dan menyemaikan keramahan, dan bukan menyuburkan kemarahan dan kebencian dimana-mana, pasalnya berakar dari kemarahan dan kebencian ini, darah bisa tumpah sebagai pembenaran kebiadaban.
Kata Nabi Muhammad “orang paling kuat adalah orang yang mampu mengalahkan kemarahannya, meskipun sebenarnya dia bisa menunjukkan kemarahannya”. Sabda  ini menunjukkan, bahwa Islam melarang pemeluknya memproduksi kemarahan. Kemarahan harus diperangi atau dikalahkan sendiri oleh setiap orang (Islam).
Meskipun sebenarnya ada perlakuan seseorang atau sekelompok orang yang berbeda dan mengundang kebencian,  namun setiap pemeluk Islam berkewajiban menjaga dirinya dengan cara menunjukkan sikap sabar dan pemaaf.
Sikap dan perilaku antagonistik yang dilakukan orang atau kelompok lain harus selalu “dimaafkan”, dan bukan dijadikan obyek untuk diperangi dengan pedang, bom, atau membanjirkan darah.
Saat Nabi Muhammad mengunjungi masyarakat Thaif, beliau tidak disambut dengan ramah oleh penduduk Thaif. Bahkan sejumlah batu yang dilempar sebagian orang mengenai badan beliau. Malaikat Jibril yang tidak tega melihat kondisi Nabi lantas menawarkan hukuman pada mereka. Nabi menolak tawaran ini dengan menyatakan ”biarkan saja, nanti suatu ketika, mereka akan jadi sahabat-sahabatku”.
Berdasar perlakuan yang bersifat menyakiti Nabi Muhammad itu, sebenarnya manusiawi jika Nabi mereaksinya dengan kemaraham, namun Nabi tidak melakukannya. Nabi memaafkan dan menawarkan persahabatan. Komunitas yang dimaafkan ini akhirnya memang benar-benar menjadi sahabat-sahabatnya, dan bukan menjadi musuh-musuhnya. Nabi menunjukkan cara berkomunikasi beragama yang ramah kemanusiaan demi mewujudkan harmoni dalam keberagamaan.
Sahabat-sahabat Nabi juga tidak sedikit yang memberikan teladan empirik mengenai praktik Islam yang ramah dan tanpa paradigma darah. Mereka ini menerapkan doktrin Islam dalam kehidupannya bermasyarakat dan bernegara yang menghormati hak-hak asasi manusia yang bersfat pluralistik.
Pemikir kenamaan Bawa Muhayyadin dalam Islam for World Peace: Eksplanations of A Sufi (1987) menceritakan, tatkala Khalifah Umar memasuki kota Jerussalem, Uskup dari Makam suci Kristus menawarkan untuk menunaikan shalat di dalam gereja, namun Umar memilih salat di luar pintu.
Uskup itu bertanya pada Umar, “mengapa tuan tidak mau masuk ke gereja kami?”. “Jika Saya sudah salat di tempat suci kalian, para pengikut saya dan orang-orang yang datang ke sini pada masa yang akan datang akan mengambil alih bangunan ini dan mengubahnya menjadi sebuah masjid. Mereka akan menghancurkan tempat ibadah kalian. Untuk menghindari kesulitan-kesulitan ini dan agar gereja kalian tetap terjaga, maka saya memilih salat di luar”, demikian penjelasan Umar.
Khalifah Umar itu mengingatkan sang Uskup tentang makna pluralisme, multikulturalisme, dan kebebasan beragama atau cara berelasi dengan Tuhan secara inklusif-humanistik, meski Khalifah Umar juga memberikan warning mengenai kemungkinan adanya sekelompok orang yang berlaku radikal dan bermaksud menggusur tempat ibadah akibat salah dalam ”bermadzhab”.
Bagi khalifah Umar, tempat ibadah merupakan cermin suci dan mendasar bagi komunitas beragama, sehingga ketika Uskup itu menawarkan salat di dalam gereja, khalifah tidak semata berfikir tentang agama yang sedang dipeluknya, tetapi juga pada keselamatan dan kedamaian pemeluk agama apapun.
Keputusan khalifah juga bukan dimaksudkan untuk tidak toleran dan apalagi melecehkan terhadap demokratisasi keagamaan yang ditawarkan pihak Uskup, tetapi sebagai wujud advokasi kepentingan komunitas beragama lain dari kemungkinan tangan-tangan radikal dari kelompok lainnya.
Sikap Umar itu sama dengan sikap Barack Obama saat menjadi Presiden AS. Obama misalnya sangat keras menentang retorika para politisi AS yang memusuhi Islam dan mengajaknya untuk bisa bertoleransi terhadap para warga muslim dari negara manapun.
Saat itu Obama mengingatkan bahwa jati diri AS sebagai sebuah negara, adalah demokrasi, toleransi dan anti-diskriminasi. Menurutnya  ketika politisi menghina muslim, ketika sebuah masjid dirusak, atau seorang bocah muslim di-bully, tindakan semacam itu takkan membuat AS merasa lebih aman,
Sikap Obama itu tidak lepas dari sejumlah politisi Amerika Serikat (AS) yang bersikap terang-terangan  yang sangat sering melayangkan retorika anti-Islam, maupun anti-pengungsi dari Timur Tengah. Sekelompok elemen politik AS ini melihat Islam dengan sikap kebencian dan skeptis, yang diantaranya “mesti” dikaitkan dengan tragedi September  yang menimpa WCC (Wordl Trade Center).
Seluruh elemen masyarakat dunia, termasuk komunitas yang berstigma Islam radikal dan eksklusif seharusnya ”mempelajari” atau ”membaca” Islam dari sisi doktrin dan komitmen kemanusiaan dan universalitasnya yang disebar melalui prinsip Islam rahmatan lil alamin.
Salah satu konstruksi substansial rahmatan lil alamin pernah disampaikan Nabi Muhammad dalam sabdanya yang mengajarkan relasi kecintaan universalitasnya, bahwa ”tidak disebut beriman diantara kalian, sehingga mencintai saudaranya sama dengan mencintai dirinya”.
Doktrin yang digariskan Nabi itu mengedukasikan setiap muslim tentang keharusan mencintai sesama manusia tanpa sekat etnis, politik, budaya, dan agama. Kecintaannya harus terkonstruksi dalam keberagaman dan keagamaan apapun. Bukti kecintaann diantaranya harus ditunjukkan dengan memprevensi diri dan kelompok dari perilaku radikalisme dan terorisme.
Setiap diri muslim berkewajiban mencegah tangannya dari kemungkinan menjadi tangan-tangan kotor (the dirty hands) yang merobek harkat kemanusiaan, dan sebaliknya berkewajiban ”mengulurkan tangan” pada siapapun yang berbeda jalan, pilihan, dan keyakinan.
Dalam ranah itu, digariskan jika pemeluk agama (Islam) itu memang benar-benar beragama (beriman), maka terlarang hukumnya menciptakan gaya beragama yang mendehumanisasikan dan ”menterorismekan” sesamanya. Radikalisme dan terorisme yang dilakukan segelintir orang Islam merupakan deskripsi ”sesat pikir” dalam beragama. (*)

Oleh : Abdul Wahid
Wakil Direktur I Program Pascasarjana di Universitas Islam Malang dan Pengurus Pusat AP-HTN/HAN

Berita Lainnya :

loading...