Memperbanyak Tangan Perempuan Bercahaya Tuhan

Negeri ini, melalui pemerintah dan lembaga-lembaga pendidikan, haruslah makin aktif atau peduli dalam membentuk sumberdaya manusianya, khususnya perempuan-perempuannya supaya menjadi kekuatan andal yang mampu mengubah terus wajah Indonesia menjadi negeri yang berkemakmuran dan berkeadaban. Mengapa dengan perempuan?
Dari data yang terlacak, berdasarkan proyeksi pertumbuhan penduduk Badan Perencanaan Pembangunan Nasioal, Badan Pusat Statistik dan United Nations Population Fund jumlah penduduk Indonesia pada 2018 mencapai 265 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 131,88 juta jiwa berjenis kelamin perempuan.
Jumlah perempuan yang begitu besar, jelas menunjukkan kalau perempuan merupakan pilar utama yang menentukan kuat tidaknya bangsa ini. Ketika pilarnya kuat, maka bangsa ini akan menjadi bangsa hebat, khususnya dalam mengentas berbagai problem berat bangsa. Berdasarkan kondisi ini, logis jika ekspektasi besar rakyat pada pemerintah untuk memedulikan perempuan harus diperhatikan.
Nabi Muhammad SAW merupakan tipe pemimpin negara yang suka jalan-jalan atau melakukan ”blusukan” seperti menjelajahi kehidupan masyarakat. Beliau bukan hanya berdekatan dan berbaur dengan masyarakat, tetapi mengadaptasikan dan mengintegrasikan dirinya menjadi bagian sejati dengan dan dalam kehidupan masyarakat. Beliau sampai berkata ”kalau ingin mencari tempat terbaikku, maka carilah aku diantara kehidupan orang-orang kecil dan orang-orang miskin”.
Dalam catatan sejarah telah menunjukkan, bahwa Nabi adalah profil pemimpin dan negarawan yang menjadi milik masyarakat berkat konstribusinya dalam membangun peradaban dunia. Beliau menjadi referensi moral dan spiritual berkat perannya yang menghadirkan atau ”mengeksistensikan” dirinya menjadi sosok pejuang, pengabdi,  pembaharu, atau perubah faktual dalam realitas kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Al-Kisah, suatu ketika Nabi bertemu dengan salah seorang sahabatnya yang sedang bekerja. Sang pekerja ini bersalaman dengan beliau. Begitu bersalaman, Nabi kaget, sebab ternyata tangan orang ini kasar atau keras sekali. “Ada apa ya Rasul Allah”? demikian tanya sahabat itu melihat kekagetan di wajah Nabi. “Kenapa dengan tanganmu wahai sahabatku?, Rasul mengajukan pertanyaan kepadanya.
“Tanganku menjadi kasar dan keras akibat terus menerus digunakan membelah kayu dan batu”, jawab sahabat itu sambil menundukkan mukanya, merasa malu.
Nabi kemudian berkata: “Tidak perlulah merasa malu, karena tangan kasarmu ini sangat disukai oleh Allah SWT. Karena Allah mencintai orang-orang yang mau bekerja keras. Allah  mencintai orang-orang yang tidak putus asa (gampang menyerah)”
Mendengar penjelasan junjungannya, sahabat tersebut bukan main gembiranya, karena apa yang dilakukan atau diperbuatnya selama ini ternyata mendapatkan penghargaan yang demikian tinggi di hadapan Tuhan. Apa yang dikerjakan telah berbuah pujian agung dari Tuhannya, tangannya telah menyinarkan cahaya cinta dari Tuhannya.
Menyimak dialog Nabi dengan sahabatnya  tersebut  dapat diperoleh pelajaran berharga, bahwa Allah SWT memberikan penghargaan atau pemuliaan yang tinggi terhadap manusia-manusia bertipe pekerja keras.
Kondisi tangan kasar, berhiaskan luka-luka dan  berkeringat, ternyata mendapatkan tempat mulia di sisi-Nya. Tangan kasar telah melahirkan cahaya atau dari kerja yang menggunakan tangan yang dilakukan manusia, kehormatan  di sisi-Nya berhasil direbutnya.
Tangan dalam anatomi tubuh manusia (perempuan) merupakan salah satu karunia Tuhan yang besar sekali manfaatnya. Dari tangan, seseorang perempuan bisa belajar dan menjalankan aktifitas yang bermakna. Sebaliknya, dengan tangan pula, perempuan bisa memproduk dan menabur perbuatan tercela dan merugikan orang lain.

Berita Lainnya :