Media Sosial dalam Pilkada

 
Media sosial (medsos) punya kontribusi yang signifikan dalam Pilkada serentak 2018. Mesin partai politik dan aktivitas sang kandidat muncul secara masif di medsos dan mampu mendongkrak raihan suara. Medsos terbukti efektif sebagai media komunikasi politik yang menghubungkan antara aktivitas mesin parpol pendukung, para tokoh politik pendukung, para kandidat calon kepala daerah, relawan, simpatisan, dan masyarakat luas. 
Hampir semua kandidat dalam pemilihan bupati, walikota, dan gubernur dalam ajang kontestasi Pilkada serentak beberapa waktu lalu punya akun medsos. Para tim sukses dan relawan menggunakan medsos untuk menggalang simpati, dukungan, dan partisipasi politik. Selama ini beberapa calon petahana juga sudah akrab dengan masyarakat lewat medsos. Calon gubernur Ridwan Kamil di Jawa Barat misalnya, yang intens berinteraksi merespon berbagai kritik dan persoalan masyarakat lewat medsos.
Pengaruh medsos dalam Pilkada sangat signifikan terutama bagi kalangan pemilih pemula dan generasi milenial. Tidak sedikit kalangan anak muda yang menjadikan medsos sebagai media informasi utama. Golongan masyarakat dewasa dan tua juga menggunakan medsos walaupun intensitasnya tidak setinggi kaum milenial. Medsos telah menjadi media “sejuta umat” yang keberadaannya sangat membantu dalam banyak urusan, termasuk untuk kepentingan politik. 
 
Dihujat Tapi Dicari
Urusan dengan medsos ini seperti makan buah simalakama. Di satu sisi media ini dihujat banyak kalangan karena sering memicu persoalan. Namun pada sisi yang lian, medsos banyak dicari untuk kemanfaatan penggunannya. Platform media yang berbasis koneksi internet dan gadget ini memang sangat familiar di masyarakat. Facebook, Instagram, Twitter, Youtube, WhatsApp (WA) adalah beberapa contoh medsos yang digandrungi banyak orang.
Terlepas dari  sisi gelap yang menyertai medsos seperti telah digunakan orang untuk menyebar ujaran kebencian, berita bohong, fitnah, adu domba, hingga penyebaran paham radikalisme, medsos juga punya sisi positif yang bisa bermanfaat. Karena pada esensinya media itu hanyalah sebuah alat (tool), penggunaanya sangat tergantung pada orang yang memakainya (people behind the media).
Interaksi komunikasi yang terjadi melalui medsos ini sangat tinggi. Menurut data dari We Are Social pada Januari 2018 menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia sebanyak 132 juta dari populasi penduduk Indonesia sebesar 265 juta. Pengguna internet (netter) Indonesia rata-rata menghabiskan waktu selama 8 jam 51 menit per hari. Sementara pengguna aktif media sosial ada 130 juta. Mereka menggunakan medsos per hari selama 3 jam 23 menit. Menonton streaming video selama 2 jam 45 menit, mendengarkan sreaming musik selama 1 jam 19 menit. 
Menurut tim riset acara Mata Najwa bahwa dalam waktu 60 detik ada sebanyak 38.000.000 pesan terkirim lewat WhatsApp. Dalam kurun 60 detik juga terdapat 174.000 scrooling Instagram, 18.000.000 teks SMS terkirim, ada 3.700.000 Email terkirim, sebanyak 973.000 orang login ke Facebook, sebanyak 4.300.000 orang nonton video di Youtube, ada 3.700.000 pencarian di mesin pencari Google, dan sebanyak 1.100.000 orang mencari pasangan di Tinder.

Berita Lainnya :