Jokowi Menatap 2019, Mungkinkah Incumbent?

 
Harga BBM naik, kurs rupiah melemah, utang negara bertambah, dan harga sembako sulit dijangkau oleh rakyat miskin. Merupakan beberapa hal yang menuai banyak kritikan di pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) sebagai Presiden Republik Indonesia. Kepercayaan publik terhadap integritas Jokowi juga menurun, sentiment-sentimen politik dari partai oposisi juga dengan leluasa menyerang agar elektabilitas Jokowi menurun. Sehingga menimbulkan sebuah pertanyaan, masih pantaskah Jokowi menjadi Presiden di tahun 2019 nanti?
Menuai banyak pujian bukan berarti telah berhasil memimpin negara, Jokowi dengan keberhasilannya membangun infrastruktur yang selama ini terbengkalai karena korupsi. Infrastruktur yang selama ini dibangun oleh Jokowi ternyata belum bisa menjadi indikator keberhasilan bagi publik, apalagi dengan kondisi prekonomian yang menurun akibat melemahnya kurs rupiah yang semula 14.000 kini menjadi 14.380 sejak bulan Juli lalu. 
Belum lagi dengan maraknya kasus kriminalisasi ulama, korupsi dari kader-kader partai pengusung Jokowi, dan permainan politik di wilayah ketenagakerjaan yang dinilai memberikan porsi lebih kepada asing membuat Jokowi semakin tersudut sehingga banyak pihak yang ingin agar Jokowi segera diganti sebagai Presiden. Dua tahun terakhir Presiden Jokowi semakin disorot karena kinerjanya sebagai orang nomor satu di negeri ini dinilai buruk. 
Berbagai macam isu dilontarkan kepadanya yang agar segera meletakkan jabatannya. Isu yang dilemparkan kepadanya juga semakin maraknya hastag #2019 Ganti Presiden yang beberapa bulan ini berdampak pada dinamika politik nasional. Disamping itu, banyak kelompok baik yang berasal dari parpol maupun non parpol mulai membangun kekuatan untuk berkompetisi di momentum akbar tersebut. Di beberapa daerah bahkan telah mendeklarasikan diri untuk menjadi calon Presiden dan wakil Presiden.  
Beredarnya hastag #2019 Ganti Presiden yang didalangi oleh sejumlah partai oposisi, ormas, dan sejumlah relawan adalah salah satu bukti bahwa Jokowi berada dalam situasi yang tidak aman menuju Pilpres 2019 mendatang. Pasalnya, kinerja yang selama ini ditunjukkan tidak sesuai dengan ekprektasi masyarakat dan bertolak belakang dengan yang dijanjikan waktu kampanye pada tahun 2014 silam. Menurunnya elektabilitas Jokowi di beberapa lembaga survey juga membuktikan bahwa peluang Jokowi menjadi Presiden di tahun 2019 nanti menurun.
Dengan situasi yang serba tidak menentu itu, nama Prabowo kembali diisukan menjadi lawan berat di Pilpres 2019 nanti. Meskipun elektabilitas Prabowo masih berada dibawah Jokowi, manuver-manuver yang memiliki potensi yang kuat untuk menyalip elektabilitas Jokowi. Disamping itu, nama-nama baru juga muncul meramaikan bursa pilpres dan siap menjadi penantang Jokowi, di antaranya ada nama TGB Zainul Majdi, Anies Baswedan, Amien Rais, Abraham Samad, Agus Harimurti Yudyono, Rizal Ramli hingga mantan panglima TNI (Purn) Gatot Nurmatyo.
Menilai kepantasan Jokowi untuk memimpin Indonesia selama dua periode memang masih menjadi pertanyaan besar. Di wilayah pembangun fisik, Jokowi memang telah berbuat banyak, bahkan dinilai sebagai Presiden pertama yang mampu membangun infrastruktur yang merata di setiap daerah. Kalimantan dan Papua adalah dua pulau yang ikut merasakan pembangunan yang dilakukan oleh Jokowi. Padahal kita tahu, selama ini dua pulau tersebut sangat jarang tersentuh oleh pembangunan, meskipun menjadi salah satu jantung prekonomian negara hingga saat ini. 

Berita Lainnya :