Hijrah "Dari Menabur Angin"

 
SAAT ada penyakit serius menyerang kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Sering kita terjebak pada kultur saling lempar tanggung jawab atau kesalahan. Ketika suatu daerah   menghadapi banyak masalah, ditimpa kesulitan seperti prahara sosial, ekonomi, dan ekologis, khususnya yang berkaitan dengan bangunan etik, timbul pertanyaan yang bercorak gugatan, siapa yang harus bertanggungjawab?  
Siapa yang berkewajiban menanggulangi atau menuntaskannya? Siapa yang selayaknya dipersalahkan? Mengapa sampai muncul beragam penyakit yang  mengindikasikan suatu masyarakat sampai dijuluki sebagai masyarakat tanpa etika? Ibarat pepatah, siapa menabur angin, akan menuai badai.
Maka ketika di tengah masyarakat  sedang terakumulasikan beragam keprihatinan yang menampakkan kondisi ketidakberdayaan atau badai kehidupan, maka kondisi buruk ini, tentulah ada yang menyebabkannya. Seseorang atau sekelompok orang, patut dipersalahkan sebagai penabur  problematika, setidaknya disadarkan tentang peran yang harus dimainkan untuk memulihkan atau “menghijrahkan” kondisi masyarakat ini, sehingga menjadi masyarakat yang kuat.
Ketika 14 abad lalu kondisi masyarakat Arab (sebelum Islam datang), khususnya  yang berada di level kecil menjalani kehidupan secara mengenaskan, terbelenggu dalam kultur disnormatifitas, terpuruk dalam disparitas sosial, ekonomi, etnis, dan politik, serta kesulitan memperoleh dan memberdayakan hak memanusiakan dirinya, maka yang patut dipersalahkan sebagai penabur bencananya adalah golongan kaum kafir Qurais, yang menancapkan politik represip hegemoninya.
Komunitas Qurais yang merasa diri dan etnisnya terpandang, ningrat, dan berkuasa, telah membuat masyarakat Arab secara umum tergiring dalam pengabsolutan gaya hidup, berelasi ekonomi, dan membangun kekuasaannya. Mereka menguatkandan mengabsolutkan diri dan kelompoknya dengan cara melemahkan, mengalahkan, dan menjadikan masyarakat kecil sebagai objek yang diperbudaknya. 
Komunitas itulah yang paling bertanggungjawab terhadap terjadinya era kegelapan (jahiliah) yang diagendakan sejarah. Penasbihan terhadap arogansi etnis, kepentingan politik, perburuan keuntungan ekonomi, dan aspek-aspek lainnya, telah membuat cahaya keilahiahan yang pernah diajarkan nenek moyangnya Nabi Ibrahim AS meredup dan dilindas oleh kegelapan atau kebutaaan nurani secara masif.
Itulah yang membuat Nabi Muhammad SAW gencar menggalang dakwah (penyadaran) kepada komunitas elit Qurais dari pola ”menabur angin”-nya. Mereka terus menerus diingatkan oleh Nabi supaya ”hijrah” ke jalan Tuhan, menyadari berbagai bentuk kesalahan (kejahatan) yang telah diperbuatnya, dan menjadi pengabdi sosial-religiusitas, pejuang atau penegak ajaran yang memanusiakan manusia, 
Poros idealisme dakwah yang digencarkan Nabi adalah terbentuknya mentalitas manusia (umat), yang mau “berhijrah” dari perbuatan ”menabur angin” berupa buruk, jahat, keji, biadab, atau berkebinatangan, menuju pribadi yang teguh pada kebenaran, rajin membela orang-orang kecil, atau selalu giat memproduk aktifitas yang berbasiskan keadaban, kemanusiaan, dan keadilan.

Berita Lainnya :