Blokir Aplikasi Tik Tok, Tepatkah?

 
Di era digital kini, banyak  berbagai aplikasi bermunculan di smartphone. Ada yang dalam kategori belanja online, audio musik, sosial media, games, fotografi dan banyak lagi. Setiap waktu berbagai aplikasi tersebut bergerak naik-turun mengisi list “paling populer’ dalam toko pembelian (pengunduhan) aplikasi. Dan akhir-akhir ini salah satu yang masuk dalam list tersebut adalah aplikasi Tik Tok.
Tik Tok adalah sebuah aplikasi sosial video pendek yang didukung dengan musik. Adapun jenis musik yang mendukung aplikasi ini sangat beragam. Namun di tengah gempita masyarakat Indonesia menggunakan aplikasi ini, pada Selasa (3/7/2018) Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Rudiantara kepada detikINET, menyampaikan "Tik Tok sudah diblokir mulai tadi siang."
Pemblokiran aplikasi Tik Tok ini mendapatkan berbagai pro-kontra dari masyarakat. Bahkan berhari-hari di beberapa media sosial seperti twitter dan Line treending topic-nya di isi dengan berita-berita pemblokiran Tik Tok. Bahkan pro-kontra tersebut juga muncul dari jajaran anggota dewan dan pejabat negara. (news.detik.com/5 Juli 2018)
Banyak kalangan menganggap aplikasi dengan 50 juta downloader itu kurang berdampak positif terhadap pengguna. Sebab banyak sekali hal-hal berbau yang tidak pantas di lihat, semisal pornografi. Memang hal inilah yang menjadi salah satu alasan bagi Kominfo untuk melakukan pemblokiran.
Sejak diangkat menjadi Menteri Kominfo, Rudiantara dianggap sebagai Menteri yang paling suka memblokir berbagai aplikasi populer di kalangan masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan pemblokiran telegram pada Juli 2017 lalu. Selanjutnya pemblokiran Tumblr pada Maret 2018.
Namun untuk aplikasi Telegram dan juga Tik Tok, karena ada beberapa hal yang akhirnya dibicarakan dengan pihak aplikasi yang bersangkutan, akhirnya kedua aplikasi ini tidak jadi diblokir, akan tetapi dirubah beberapa persyaratan penggunaannya serta ditingkatkan keamanannya.
Pemblokiran berbagai aplikasi dengan dasar alasan karena merusak generasi dari paham yang tidak dikehendakan di Indonesia (semisal terorisme pada Telegram, pornografi pada Tik Tok dan Tumblr, dan perilaku alay berlebih pada Tik Tok) disinyalir sebagai pilihan yang tidak tepat. Hal ini dikarenakan dalam setiap aplikasi dari jutaan bahkan miliaran pengguna tentu kita tidak bisa menjadikan satu-dua orang sebagai dalil untuk mengeneralisir kerusakan diaplikasi tersebut.
Semisal di Telegram, di sana kita bisa menggunakan berbagai fitur yang sangat bermanfaat. Semisal fitur bot yang memudahkan kita bertransaksi  berjualan pulsa. Telegram juga bisa kita gunakan sebagai sarana menyimpan berbagai draft tulisan, baik tulisan kita maupun bukan. Dan tentu masih banyak lagi.
Pada Tumblr, kita bisa membuat berbagai quote maupun tulisan yang akhirnya kita arsipkan. Bahkan tidak jarang penulis buku memulai karirnya dari Tumblr ini. Di sana kita juga bisa saling membagikan foto (semisal foto alam atau quote) terbaik kita. Sehingga setiap hal yang kita posting dapat menginspirasi banyak orang.

Berita Lainnya :

loading...